Anak Tiriku Sugar Babyku

Anak Tiriku Sugar Babyku
Bab.9 Rencana Manis Lexi


__ADS_3

...Happy Reading....


"Aku baru melihat mu hari ini?" kata Lexi sekaligus bertanya.


"Iya, aku siswa baru, masuk tadi pagi." kata Giandra.


"Oh pantas! Kamu kelas berapa?"


"12 A."


"Oh, anak pintar rupanya. Nama mu siapa? Boleh kita kenalan?"


"Giandra." jawab Giandra singkat tanpa membalas jabatan tangan Lexi yang terulur."Bagaimana jika es krim kamu aku ganti dan celana mu ku bersihkan dulu__?"


"Lexi__ namaku Lexi." Lexi segera menyebut namanya.


"Lexi __! Kau mau kan?"


"Itu tidak perlu, hanya eskrim kok nanti aku beli lagi. Celana ku juga gak terlalu kotor, masih bisa di pakai." Lexi tersenyum. Dalam hati dia sangat senang bisa mendekati wanita ini, setelah rencana pertamanya gagal karena Reza.


"Tapi Lexi, aku benar benar merasa bersalah dan tidak enak." kata Giandra tetap tidak enak hati.


"Sebenarnya aku tidak menuntut tanggung jawab mu, tapi kalau kau tetap maksa baiklah. Kapan kapan kamu traktir aku makan eskrim untuk menebus rasa bersalah mu itu! Tapi gak sekarang, Karena sepertinya jam istrahat sedikit lagi akan berakhir."


"Boleh. Terus gimana sama celana dan sepatu kamu yang kotor?"


"Nanti akan aku bersihkan. Kamu tenang saja tidak usah khawatir."


"Terimakasih atas pengertian kamu Lexi." lega akhirnya Giandra.


Kata kata sopan dan lembut Lexi masih membuat Icha dan Lala bergeming, mematung di tempat. Entah kenapa keduanya merasa aneh dengan sikap sang Playboy sekolah ini.


"Giandra, boleh aku minta nomor HP mu?" tanya Lexi.


Giandra belum langsung menanggapi, dia berpikir untuk apa Lexi meminta nomornya.


"Aku ingin menghubungi untuk makan eskrim jika nanti aku punya waktu." kata Lexi melihat keraguan di wajah Giandra. Ternyata sulit juga mendekati gadis ini, tidak sama dengan gadis gadis lain yang sukarela memberikan nomor telepon, dan sangat ingin memiliki nomor teleponnya. Bahkan sejak tadi mereka bicara dan dekat, sikap Giandra biasa saja tak centil genit seperti wanita lain yang ingin menarik perhatiannya. Kimmy dan Kinos ternyata benar, gadis ini berbeda dengan yang lain. Tapi ini tantangan baginya, dia tidak akan menyerah untuk mendapatkan gadis cantik, manis dan memiliki dada, bokong yang besar ini. Di sela mereka bicara, diam diam dia melirik dua aset besar milik Giandra.

__ADS_1


"Oh gitu __Tentu saja boleh." kata Giandra meski tak suka memberi nomor HP ke orang lain. Tapi karena dia ingin masalahnya dengan Lexi cepat tuntas maka terpaksa di beri. Dia menyebut setiap angka nomor ponselnya yang langsung di save oleh Lexi.


"Aku harap kau segera menghubungiku. Biar aku secepatnya menebus rasa bersalahku padamu!" kata Giandra.


"Baik, aku akan menghubungi mu jika tidak sibuk."


Giandra melihat ke pada Icha dan Lala yang tampak tertegun."Yuk kita ke kelas. Bel Udah berbunyi tuh!"


Ketiganya segera beranjak dari tempat itu di iringi senyum seringai Lexi.


Kinos dan Kimmy yang berada tak jauh dari situ, mendekatinya.


"Sedikit lagi dua bongkahan kencang dan fresh itu akan gue nikmati." kata Lexi masih dengan senyum seringainya. Dia sedang memikirkan rencananya indah selanjutnya untuk mendapatkan Giandra.


"Jangan lupa bonus kita bos." tuntut Kinos dengan janji Lexi jika rencana penabrakan berhasil.


"Malam ini kalian bisa 'Jajan' sepuasnya,"


Mata Kimmy dan Kinos terbuka lebar"Benar bos? Akhirnya setelah seminggu bisa mendesah lagi." keduanya terkekeh senang.


*


*


Kegiatan belajar mengajar kembali di lanjutkan di setiap kelas, termasuk kelas 12 A.


20 menit pelajaran sedang berlangsung, pintu terdengar di ketuk. Lalu di buka dari luar. Masuklah sosok pria yang merupakan siswa kelas ini sambil menenteng tas di bahu kanannya. Semua mata tertuju kepadanya termasuk Giandra. Rambut pria itu terlihat basah, tubuh segar, Aroma wangi sampo dan sabun mandi bercampur parfum menguar memenuhi ruang kelas, terhirup oleh hidung penghuni ruang ini. Sebelum ke sini, Reza masih menyempatkan diri untuk mandi dengan terburu buru.


"Silahkan duduk Reza." kata pak Kris guru matematika. REZA segera ke tempat duduknya yang berada paling belakang dekat dinding tembok, dan juga berdekatan dengan Giandra. Tempat duduk yang tadi hendak di tempati Giandra, tapi kata Lala ada yang menempati. Sebelum mendudukkan bokongnya pada tempat duduk, Reza melirik sekilas pada Giandra yang masih melihatnya.


Pasalnya Giandra tidak menyangka kalau siswa yang telah menyelamatkannya dari hantaman bola basket tadi sekelas dengannya. Wangi tubuh pria itu semakin tercium oleh hidung mungil Giandra.


"Seharusnya kamu tidak perlu masuk Reza. Kau dan timmu hanya fokus pada latihan saja untuk pertandingan sebentar." kata pak Kris.


"Saya rasa latihannya sudah cukup pak." kata Reza datar serasi dengan wajahnya yang selalu datar.


"Pelajaran kita lanjutkan kembali. Semua fokus kembali ke depan. Perhatikan apa yang saya jelaskan. Yang tidak mengerti silahkan bertanya." kata pak Kris."Dan kamu Reza, menyesuaikan saja." katanya kembali dengan tatapan mengarah pada Reza, karena kapten Tim basket itu ketinggalan pelajaran. REZA menanggapi dengan diam, tangan mengeluarkan buku dan alat tulis dari dalam tas. Pak Kris kembali menjelaskan.

__ADS_1


"Wangi banget." celetuk Lala dengan berbisik. "Wajahnya segar dan sangat tampan!" bisiknya kembali.


"Diam__!" Bisik Giandra dengan mata melotot.


"Aneh dengan Reza, dia sebelumnya tidak seperti itu. Dia akan lebih memfokuskan pikiran dan tenaga pada latihannya jika akan bertanding, apalagi di kaptennya." bisik Lala mengabaikan isyarat Giandra untuk diam.


"Ssst__Fokus_fokus_fokus ke depan." bisik Gia sembari meletakkan telunjuk di bibir.


Mereka memusatkan perhatian dan pikiran mendengarkan penjelasan guru. 20 menit berlalu telepon Giandra bergetar. Gia mengambil benda pipih itu dari saku roknya dengan hati hati agar tidak ketahuan guru. Tertera nama Bik Rima yang langsung membuat jantung berdebar, hati tidak tenang.


"Ya Allah, ada apalagi? Semoga semua baik baik saja." gumamnya tanpa sadar. Dapat di dengar oleh telinga Lala dan Reza.


"Ada apa Gia?" bisik Lala melihat wajah sedih Giandra.


"Gak apa apa!" Giandra segera menggeleng cepat. Dia memperhatikan pak Kris yang serius menjelaskan. Ponselnya kembali bergetar. Dia kembali kaget. Mungkin sangat penting sehingga Bik Rima terus menelpon, batinnya. Melihat pak Kris yang tampak serius menjelaskan membuat Giandra Ragu untuk meminta izin keluar. Tapi rasa khawatir pada adik adiknya lebih besar dari pada keraguan pada sang guru. Giandra segera mengangkat tangan kanan. Pak Kris berhenti menjelaskan dan melihat ke arahnya termasuk beberapa siswa.


"Ada Giandra? Ada yang ingin kamu tanyakan?" tanya pak Kris.


"Saya mau minta Izin ke toilet pak." kata Giandra perlahan, merasa takut telah berbohong.


"Silahkan, jangan lama lama, nanti kamu akan ketinggalan pembahasan materi pelajaran saya."


Giandra tersenyum lega. Akhirnya di izinkan.


"Kamu mau BAB atau BAK?" tanya pak Kris.


"Hanya BAK pak!"


"Kalau begitu waktu kamu hanya 10 menit. Dan sebelum keluar, letakkan ponsel kamu di meja saya!" perintah itu membuat senyum Giandra menghilang. Lalu bagaimana caranya dia menghubungi Bik Rima? Giandra gugup dan bingung. Bagaimana ini? Kalau dia tidak jadi keluar, berarti ketahuan berbohong. Gia tetap memilih untuk keluar, dari pada ketahuan berbohong. Nanti di luar dia akan memikirkan bagaimana cara menghubungi Bik Rima.


"Pak Kris memang menerapkan aturan begitu selama jam pelajarannya." bisik Lala.


"Karena banyak siswa yang berbohong izin pergi ke toilet ingin buang air tapi nyatanya malah kedapatan main hp." bisik Lala kembali. Giandra mengerti sekarang. Dia menonaktifkan ponselnya, lalu Giandra berdiri dan menuju ke depan. Setelah meletakkan ponselnya di meja guru, Giandra keluar kelas dan menuju toilet. Tapi dia malah mondar mandir di depan toilet sambil menggigit kuku ibu jari kanannya. Bingung mau melakukan apa, sementara dia sangat khawatir dengan adik adiknya."Ya Tuhan, bagaimana caranya aku menghubungi Bik Rima? Apa yang ingin di sampaikan Bik Rima? Sepertinya sangat penting."


"Apa sebaiknya aku pergi ke pos keamanan saja ya minjam telepon di sana? Tapi pos keamanan kan di bawah sana, aku harus turun tangga lima lantai. Memakai waktu yang lama meski turun menggunakan lift. Sedangkan waktu yang di beri Pak Kris hanya 10 menit. Dan kini tersisa 5 menit." keluh Giandra.


Giandra semakin pusing tidak tahu harus melakukan apa, terpaksa dia memilih untuk mengabaikan telepon Bik Rima dan masuk ke kelas. Dia berharap Bik Rima mengerti dengan situasi dirinya di sekolah. Tapi sebelum masuk kelas, Giandra menyempatkan masuk toilet untuk membasuh wajah. Biar pak Kris dan siswa di dalam sana tahu dia memang dari toilet dengan melihat wajahnya yang basah.

__ADS_1


Giandra segera keluar toilet dan menuju ruang kelas. Di depan pintu kelas dia melihat seorang pria berdiri dengan posisi membelakanginya.


Bersambung


__ADS_2