
...Happy Reading....
Setelah mengenakan seragam sekolah lengkap, Giandra keluar dari kamarnya dengan tas selempang kulit tergantung di bahu, untuk hari ini dia tidak mengenakan tas ransel sekolah. Melewati kamar tidur mamanya dan papa tirinya yang tertutup, terus mendekati ruang kerja Nathan yang juga tertutup. Dia deg degan mendekati ruang itu. Entah kenapa sejak melihat kejadian menjijikkan itu dia was was melewati ruang itu. Takut mendengar suara suara aneh lagi.
Giandra melangkah cepat ketika melewati ruang itu dan memilih turun menggunakan tangga. Setelah sampai di bawah dia langsung menuju ruang makan. Langkahnya melambat tak kalah melihat Nathan duduk di meja makan sambil menatap layar MacBook yang menampilkan pekerjaannya. Di depannya tergeletak secangkir kopi. Penampilan papa tirinya itu begitu formal dengan setelan jas lengkap. Sementara Bibi Fatmala sedang menyiapkan makanan di atas meja di bantu dua orang pelayan. Giandra merasakan dirinya tidak baik baik saja begitu kejadian semalam berputar di otaknya.
"Selamat pagi Nona Giandra." sapa Fatmala begitu melihat keberadaannya.
Giandra sedikit kaget, dia langsung menoleh pada Fatma dan mengurai senyum."Selamat pagi Bik." balasnya segera. Dia juga mengurai senyum pada dua pelayan yang menyapanya dengan sopan.
"Silahkan duduk Nona, sarapan dulu sebelum ke sekolah." kata Fatmala. Menu sarapan sudah tertata rapi di atas meja.
Nathan membawa pandangannya melihat Giandra. Melihat anak tirinya telah siap ke sekolah dengan seragam lengkap, rambut di cepol pendek, beberapa helai menjuntai ke depan, poni sebatas kening dan kacamata berlensa kotak warna coklat. Penampilan yang cupu sederhana tapi membuatnya terlihat begitu manis dan kalem.
"Selamat pagi Tuan." sapa Giandra kaku mengetahui Nathan sedang menatapnya. Lalu dia melihat kembali pada Fatmala yang tampak kaget mendengar Giandra memanggil Nathan Tuan.
"Bik, aku langsung berangkat ke sekolah. Kebetulan aku buru buru karena mau mengantar tugas mata pelajaran pak Haris ke dewan guru sebelum jam 7 pagi." kata Giandra."Permisi." sambungnya kembali.
"Sarapan dulu Non __!"
"Kalau hanya karena keberadaan ku di sini membuat mu tidak ingin sarapan, maka aku akan pergi!" kata Nathan. Dia merasa Giandra sedang menghindarinya. Nathan bangkit dari duduknya sambil mengangkat MacBook dan ponselnya."Bik, aku akan sarapan di taman dekat kolam, bawah sarapan ku ke sana." katanya kembali. Giandra terkejut, langkahnya terhenti seketika. Dia segera berbalik.
"Tuan tidak perlu pindah. Aku akan sarapan dengan Anda." katanya segera seraya mendekati meja makan. Perlahan dia duduk berhadapan dengan Nathan. Sedangkan Fatmala menghela nafas lega atas pengertian Giandra hingga membuat tuannya tidak jadi pindah ruang makan.
"Silahkan makan." kata Nathan. Tatapannya begitu mengintimidasi, membuat nyali Gia ciut. Giandra mengambil sepotong roti tawar dan di olesi selai strawberry. Fatma menuang susu ke dalam gelas lalu di letakkan di depan Giandra.
Sementara Nathan sudah menyantap sandwich tuna.
__ADS_1
"Nona butuh sesuatu?" tanya Fatmala melihat Giandra belum menyantap rotinya.
Nathan melihat kepada Giandra mendengar perkataan Fatma. Di lihatnya Giandra hanya memegang roti.
"Apa masih ada yang kau inginkan?" tanyanya sambil mengunyah.
"Emm, tidak ada Tuan. Ini sudah lebih dari cukup!" kata Giandra kaget. Dia segera membawa menu sarapannya ke mulut dan mengigit sedikit.
"Ada apa? Apa yang Nona pikirkan?" bisik Fatmala, melihat reaksi wajah Giandra seperti menginginkan sesuatu tapi mungkin takut karena ada Nathan. Meski berbisik tapi suaranya terdengar oleh telinga Nathan.
"Aku tidak melihat mama. Apa mama belum turun untuk sarapan?" tanya Giandra. Sejak tadi dia memikirkan mamanya yang tidak berada di meja makan menemani Nathan.
"Regina sudah pergi dari pagi!" Nathan yang menjawab, membuat Giandra membawa wajahnya melihat pria di depannya ini."Pergi?" tapi tiga detik berikutnya dia membawa pandangannya ke piringnya.
"Nyonya Regina ada urusan penting yang mendadak, jadi dia buru buru pergi! Apa beliau tidak pamit pada Nona tadi di atas?" kata Fatmala sekaligus bertanya.
Giandra menggeleng perlahan."Mama ada urusan apa Bik?"
"Jadi mama pergi ke Lombok?"
"Iya! Kenapa Non?" tanya Fatmala melihat perubahan wajah Giandra.
"Mama perginya berapa hari?" tanya Giandra alih alih menjawab pertanyaan Fatma. Regina pergi ke Lombok, ini kesempatan buat dia pulang ke panti mengunjungi adik adiknya.
"Bibi tidak tahu. Tergantung Pekerjaannya. Jika pekerjaan Nyonya Regina cepat selesai, maka besok sudah kembali. Tapi jika tidak, biasanya dua sampai tiga hari Nyonya di Bandung." Fatmala menjelaskan.
"Mudah mudahan pekerjaan mama lambat kelar biar gak cepat pulang." batin Giandra penuh harap.
__ADS_1
"Kenapa Non?" tanya Fatma melihat Giandra termenung.
"Ah, tidak ada apa Bik." jawab Giandra segera sambil menaikkan kaca matanya yang melorot.
"Apa seragamnya nyaman di tubuh Nona?" tanya Fatma seraya memperhatikan kemeja putih Giandra yang kemarin minta di ganti karena kedua buahnya yang terlihat tercetak dari balik kemeja.
"Iya Bik, pas di badan ku. Terimakasih!"
"Jika Nona butuh sesuatu atau ingin bertanya jangan sungkan beri tahu Bibi." kata Fatmala. Dia bisa merasakan kalau Giandra kaku dan canggung di rumah ini.
"Sudah selesai sarapannya?" tanya Nathan yang sejak tadi tadi hanya menyimak obrolan mereka. Dan dari obrolan itu dia mengetahui sifat dan karakter seorang Giandra, anak tirinya. Dia melihat Giandra sudah selesai menghabiskan roti dan segelas susu.
"Sudah Tuan." jawab Giandra sedikit kaget.
Nathan bangkit dari duduknya setelah melap bibirnya dengan tisu. Dia berjalan ke sudut ruangan dan mengambil kotak obat, lalu mendekati Giandra yang melihat ke arahnya. Nathan menggeser kursi di sebelah Giandra dengan kaki, seraya meletakkan kotak obat di meja makan. Selanjutnya dia duduk di samping Giandra. Terlihat oleh mata elangnya kedua tangan Giandra yang terkepal di atas paha. Sepertinya anak ini takut padanya, pikirnya.
Tangan Nathan terulur untuk menyentuh tangan Giandra yang terluka. Tapi belum sempat tangannya menyentuh lengan gadis itu, Giandra menarik mundur tubuh atasnya.
"Tu_tuan mau apa?" tanya Giandra terbata. Dia deg degan, jantung berdebar. Tubuhnya bahkan mendingan melihat aura wajah yang datar berada di depannya. Entah kenapa sejak kejadian di hotel oleh manusia bertopeng dan juga melihat adegan semalam membuatnya takut dekat Nathan.
"Apalagi? Mau mengganti perban mu. Bukankah Arish mengatakan perbannya di ganti pagi ini?" kata Nathan menatap wajah anak tirinya ini.
"Tidak perlu Tuan, biar saya saja." tolak Giandra masih terbata. Menghindari tatapan wajah datar Nathan yang begitu mengintimidasi.
"Giandra, aku hanya ingin mengganti perban lukamu bukan memakan mu, kenapa kau terlihat takut begitu?"
"A_Aku hanya tidak ingin merepotkan anda. Biar aku akan minta tolong Bibi __!"
__ADS_1
"Aku tidak suka bantahan Nona Giandra Wardhani__!" potong Nathan segera dengan kata tegas menekan. Giandra mematung, tubuh tegang menatap Nathan yang menatap tajam dirinya.
...Bersambung....