
Happy Reading.
Seperti biasanya, para fans dari Tim Basket Bina Nusantara langsung menyerbu idolanya untuk mengambil gambar foto bersama idola tampan mereka, sebagian siswa baik dari BN dan sekolah JW turun ke lapangan memburu ke dua Tim itu. Giandra dan Tia tetap berada di tempatnya, tidak ikut berbaur dengan siswa-siswa yang tampak berdesak desak, mengantri untuk mengambil foto. Ponsel Tia bergetar, ada pesan masuk, dia segera membalas pesan setelah membacanya.
"Aku pulang dulu. Sudah ada yang menjemput ku!"
"Apa orang yang mengantar kamu tadi?"
Tiara mengangguk."Iya, dia sudah ada di depan sekolah! Oh ya besok setelah pulang sekolah aku akan pergi ke panti dan membesuk Qenan dan Qinan di rumah sakit."
"Terimakasih ya Ti, Tolong lihat adik adikku."
"Iya, aku akan video call kamu jika sudah di rumah sakit agar kamu bisa melihat Qinan dan Qenan! Aku pergi dulu."
Keduanya berpelukan sejenak"Tetap Sabar dan kuat. Kau dan Bik Rima orang baik. Allah pasti akan kasih jalan keluar yang terbaik untuk hambanya yang baik." bisik Tia. Giandra mengangguk terharu.
Tia segera meninggalkan tribun. Giandra tidak dapat melihat Reza karena banyaknya orang di lapangan. Dia hanya melihat Icha dan Lala saling berpelukan karena kemenangan. Giandra tersenyum melihat tingkah kedua gadis yang tampak akur itu, padahal tadi saling berdebat. Giandra segera keluar dari lapangan dan pergi ke Mushalla. Dia mau melaksanakan shalat Ashar sebentar sambil menunggu Reza yang di perkirakan sedang melayani para fansnya. Dia tidak tahu kalau Reza buru buru mandi dan pergi ke mushalla untuk shalat Ashar.
Mushalla tampak sunyi karena waktu shalat telah selesai. Reza adalah orang yang tidak pernah meninggalkan shalat meski sudah terlambat. Nasehat kakek dan neneknya tidak akan pernah dia lupakan. Shalat lah di manapun kamu berada, jangan pernah meninggalkannya. Meski terlambat tetap laksanakan kewajiban mu pada sang maha pencipta sebagai bentuk rasa syukur dan terima kasih atas karunia-Nya yang tak terbatas.
Saat memasuki mushalla, Reza melihat sepatu Giandra di tangga Mesjid. Dia sangat tahu itu sepatu Giandra. Reza segera masuk dan menunaikan ibadah 4 raka'at itu dengan khusyu. Dan kali Ini dia pun berdoa dengan sangat khusyu. Yang hanya dia dan Allah yang tahu apa doa dan keinginan yang dia panjatkan. Setelah itu dia ke ruang shalat perempuan, melihat dari balik tirai, tak ada lagi sosok Giandra. Dia cepat cepat keluar dari dalam mesjid. Beruntung dia masih melihat sosok Giandra di halaman mushalla.
Giandra berjalan ke arah lapangan untuk mencari Reza. Keadaan lapangan sudah sepi. Dia tidak menemukan pria itu. Padahal dia tidak tahu, Reza sedang mengikutinya dari belakang.
"Dia kemana? Kok gak ada?" gumamnya celingak-celinguk mata kelayapan mencari keberadaan Reza di lapangan dan tribun.
"Dia siapa?" terdengar suara dari sampingnya. Giandra kaget dan melihat siapa yang menyahutinya. Ternyata Lexi. Pemuda itu tersenyum manis pada Giandra. Tatapannya yang nakal menjelajahi tubuh Giandra dari wajah hingga kaki jenjang mulus putih.
"Lexi?!" Giandra segera mundur karena posisi Lexi yang sangat dekat dengannya.
"Hay Giandra. Aku kira kau sudah kembali. Kata Lala kau sudah pulang karena ada urusan penting." ujar Lexi.
"Sebenernya begitu, tapi gak jadi karena aku ketemu sama teman dekat aku dari SMA Jaya Wijaya tadi."
__ADS_1
"Oh jadi sekolah kamu sebelumnya SMA Jaya Wijaya?"
Giandra mengangguk.
"Terus mana temanmu itu?" tanya Lexi kembali.
"Sudah pulang."
"Terus kamu lagi cari siapa tadi? Aku perhatikan kamu sedang mencari seseorang."
"Aku mencari __!"
"Lexi __!" terdengar panggilan dari belakang mereka. Keduanya berbalik, terlihat Jesika sedang mendekati mereka.
"Hay Jes," Lexi tersenyum manis pada Jesika. Dia suka pada gadis ini, tapi Jesika menolaknya karena Jesi menyukai Reza, Tergila gila malah. Jesi begitu terobsesi dengan ketampanan dan pesona Reza. Padahal wajah tampannya tidak kalah dari Reza, dia juga memiliki tubuh yang bagus dan atletis seperti Reza. Lexi menganggap Reza saingannya di sekolah ini. Makanya dia tidak menyukai kapten Tim basket itu.
"Kamu lihat Reza gak?" tanya Jesika sembari melirik Giandra. Yang di balas Giandra dengan senyuman.
"Tidak. Mungkin sudah pulang."
"Atau lagi di barak sama Tim!"
"Gak ada, barak kosong. Tadi di lapangan, aku udah tanya ke teman teman timnya tapi mereka tidak melihat Reza setelah selesai pertandingan, Reza buru buru pergi." ujar Jesika terlihat sumpek. Entah kemana perginya Reza tanpa pamit pada pak Mario, coach dan teman Tim. Jesika sempat melihat apa yang di lakukan Reza tadi di lapangan, menghubungi seseorang yang berada di tribun. Tapi dia tidak melihat jelas wajah orang yang di lihat dan di hubungi Reza karena matanya terhalang banyaknya suporter. Tapi Jesi tahu orang itu seorang siswi. Jesi menganggap Reza pergi karena ingin menemui wanita itu.
"Aku tidak tahu. Aku hanya melihatnya saat bertanding tadi. Mungkin dia balik sama temannya. Kamu sendiri tahu dia sering meninggalkan kendaraannya di sekolah."
"Benar juga. Ya sudah aku balik dulu." Jesika segera pergi setelah melempar lirikan tajam pada Giandra.
"Oke, baik baik kau di jalan Baby." balas Lexi sedikit berteriak. Dan kata Baby yang dia ucapkan membuat dahi Giandra mengerut,. merasa aneh.
"Dia Jesika, pacar kapten tim basket sekolah ini." kata Lexi.
Ohh_ Giandra mangut, meski dia sudah tahu dari Lala dan Icha. Dia ingat perkataan Lala dan Icha, hanya Jesika yang menyukai Reza, tapi Reza tidak menanggapi perasaan Jesika.
__ADS_1
Entah mana yang benar, dia tidak peduli dengan urusan orang lain.
Giandra mencermati ucapan Lexi tentang Reza yang mungkin sudah pulang.
"Katanya mau menemui ku setelah pertandingan, Tapi malah pulang." batinnya bingung"Besok saja aku kembalikan ponsel nya." batinnya kembali.
"Oh ya Giandra, tadi katamu kamu sedang mencari siapa?" Lexi bertanya kembali.
"Teman, tapi sepertinya dia sudah kembali."
"Lala dan Icha?"
"Bukan. Oh ya Lexi, aku pulang dulu."
"Kamu pulang dengan siapa? Biar aku yang mengantar mu." Lexi menawarkan diri. Ini kesempatan baik untuk bisa lebih akrab dengan mangsa barunya ini.
"Tidak perlu, aku tidak mau merepotkan. Aku akan pulang dengan taksi." tolak Giandra halus.
"Tidak merepotkan, kebetulan aku juga mau pulang. Ayo __!"
"Tidak Lexi, kebetulan aku masih ada urusan. Aku masih harus ke beberapa tempat." tolak Giandra kembali.
"Gak apa apa, biar aku antar. Dari pada kamu turun naik cari taksi. Aku gak masalah nunggu kamu." Lexi hendak memegang tangan Giandra,"Ayo Giandra, jangan menolak ku."
Giandra segera menarik tangannya, sehingga tangan Lexi gagal menyentuh tangannya. Dan itu membuat wajah Lexi berubah datar.
Giandra tersenyum."Maaf, bukan maksud aku menolak kebaikan mu. Aku hanya tidak ingin merepotkan orang. Sekali lagi maaf __" tolak Giandra dengan halus.
Tangan Lexi terkepal kuat dibelakang tubuhnya. Baru kali ini dia mendapatkan penolakan dari perempuan.
"Aku menunggu panggilan mu untuk memenuhi janjiku. Tapi jangan sekarang ya, soalnya aku masih ada urusan penting." kata Giandra masih dengan kata halus."Aku pergi dulu, permisi!" Giandra segera beranjak dari hadapan Lexi.
"Sialan, sok jual mahal Loe! Lihat saja nanti setelah aku mendapatkan mu, dan menidurimu, kau pasti akan mengejar ngejar diriku. Akan ku buat kau mengemis kepadaku." umpat Lexi menahan kemarahan. Tidak di disadarinya seseorang sedang mengamatinya dari jauh.
__ADS_1
Bersambung.