
...Happy Reading....
"Benar?" tanya Reza untuk menyakinkan Giandra tidak berbohong.
"Iya, benar. Masa aku bohong sama kamu."
Reza lega."Coba aku lihat!" kata Reza, dan dalam hitungan detik panggilan berubah menjadi panggilan video. Akhirnya Giandra menerima panggilan videonya. Terlihat jelas wajah tampan Reza juga raut kecemasannya dalam layar ponsel.
"Mana lukanya?" tanya Reza.
Gia mengarahkan kamera ke perban lukanya. Reza tampak memperhatikan dengan teliti."Sakit gak?" tanyanya, wajahnya terlihat meringis membayangkan rasa sakit luka Giandra.
"Udah gak lagi, tadi sudah minum obat pemberian dokter! Kamu tahu dari mana aku di serang orang?" tanya Giandra. Bingung dari mana Reza tahu musibah yang terjadi padanya sementara dia tidak memberi tahu Lala dan Icha.
"Lebih baik tidur saja, ini sudah jam 12 malam. Jangan begadang." kata Reza alih alih menjawab pertanyaan Giandra.
"Ini nomor kamu?" tanya Giandra.
"Tidak, nomor temanku. Jangan di simpan dan hapus saja! Setelah itu tidurlah."
"Kamu belum jawab pertanyaan ku! Dari mana kamu tahu aku di serang dan terluka?"
__ADS_1
"Itu gak penting Giandra. Yang lebih penting kamu baik baik saja. Sekarang masuklah ke kamar dan tidur." perintah Reza tegas
"Iya, udah mengantuk juga kok ini! Assalamualaikum!" anehnya Giandra menurut.
"Waalaikumsalam." balasan Reza.
Giandra mematikan telepon. Dia turun dari ranjang dan berjalan menuju balkon, bersandar pada railing balkon menatap ke langit lepas. Untuk beberapa saat dia termangu. Memikirkan perhatian Reza, kepedulian dan rasa kekhawatiran pria yang baru di kenalnya hari ini. Sementara kata Lala dan Icha Reza adalah pria yang acuh, cuek terutama pada perempuan. Sikapnya yang terkesan angkuh dan sombong, wajahnya yang datar dan tatapan matanya yang dingin membuat banyak siswa yang takut padanya. Tapi terhadap dirinya Reza malah begitu peduli, dan perhatian. Dua kali malah dia di tolong oleh pria yang Icha dan Lala katakan angkuh dan sombong itu.
Ponsel Reza yang ada dalam genggamannya bergetar. Giandra segera menyalakan layar benda itu. Ada pesan yang masuk."Kenapa belum tidur?" pesan dari Reza.
Wajah Giandra mengernyit, Kok dia tahu aku belum tidur?
Giandra tambah bingung, kenapa Reza bisa tahu dia ada di balkon? Giandra membuang pandangannya ke arah jalanan sana, tapi tak melihat apa pun selain keheningan malam, para satpam yang sedang berjaga, lampu lampu, bangunan bangunan rumah dan gedung gedung tinggi. Juga kenderaan yang lalu lalang di jalan raya.
"Kamu kok bisa tahu aku berada di balkon? Kamu di mana? Apa di sekitar rumah ku?"
"Tidak, aku lagi di kost. Sudah, sebaiknya kamu masuk kamar dan tidur. Gak usah balas pesan ku, gak usah mikir yang macam macam. Selamat tidur, sampai jumpa besok di sekolah." pesan terakhir Reza.
Giandra tak lagi membalas pesan Reza, dia segera masuk ke dalam kamar karena sudah merasa ngantuk.
Sementara di luar, tepatnya di jalan seberang depan area hunian megah Nathan, terhalang oleh serumpun bunga besar, Reza duduk di atas motornya, matanya tak beralih dari balkon kamar Giandra yang mengarah ke jalan. Setelah melihat Giandra masuk kamar, menutup pintu balkon, mematikan lampu kamar dia segera beranjak dari tempat itu.
__ADS_1
Jam dua pagi Giandra terbangun karena merasakan perutnya lapar dan lehernya haus. Bunyi keroncongan terdengar dari perut ratanya. Dia tidak tahan lagi untuk menunggu pagi karena merasakan nyeri pada ulu hati dan perut. Giandra segera turun dari ranjang, mengikat rambutnya rendah, lalu keluar dari kamar. Saat mendekati ruang kerja Nathan langkahnya melambat dan teringat kejadian tadi. Tubuhnya bergidik takut. Apa mereka masih di dalam dan melakukannya? batinnya. Pintu di lihat tertutup. Giandra segera melangkah dengan cepat bahkan berlari kecil melewati ruang itu. Dia buru buru masuk ke dalam lift dan turun ke bawah.
Sesampai di dapur, Giandra membuka kulkas, mengambil air dalam botol dan minum sepuasnya. Rasa haus hilang seketika."Aku masak apa ya?" dia melihat bahan bahan makanan yang tersedia banyak di kulkas. Dia ingin memasak sendiri, tak ingin menggangu tidur Bibi Fatma. Lagipula dia sudah terbiasa memasak saat di panti, masak makanan semua adik adiknya dan juga makanan yang mereka jual di lapak. Giandra bukan hanya pintar memasak tapi juga membuat aneka kue. Dia dan Bik Rima menjual makanan dan aneka kue di depan panti, sebagian di titipkan di warung warung dan sekolah adik adiknya.
Giandra ingin memasak yang instan. Dia mengambil sebungkus mie ayam, sosis, telur dan sawi. Ini sudah lebih dari cukup mengisi perutnya yang lapar. Dia sudah terbiasa makan mie di panti, karena kekurangan bahan makanan. Giandra segera menutup pintu kulkas dan berbalik.
Dia tercengang bukan main saat melihat Nathan berdiri tepat di hadapannya. "Astagfirullah Tuan." pekiknya terkejut, reflek mengelus dadanya yang kaget. Saking terkejut, mie dan lainnya terlepas dari genggamannya. Tapi sebelum semua bahan makanan itu jatuh ke lantai, dengan gerakan cepat Nathan menangkapnya.
"Tuan kenapa berdiri di situ? Bikin kaget saja." kata Giandra kesal. Dia bukan lagi terkejut, tapi takut. Bahkan kedua tangannya sampai gemetar. Tapi kemudian dia cepat berbalik membelakangi Nathan setelah menyadari keadaan Nathan yang tidak memakai pakaian atas, hanya mengenakan bokser pendek, tubuhnya yang tegap kekar dan atletis tampak mandi keringat. Mata Giandra bahkan sempat melihat beberapa kotak roti sobek di perut papa tirinya itu."Ngapain Tuan Nathan ke dapur larut malam begini?" batinnya.
Nathan tidak menanggapi kesal Giandra. Hanya menatapi punggung anak tirinya ini. Lalu meletakkan bahan makanan di kitchen set, terus membuka kulkas, mengambil air dan meminum sepuasnya. Tadi di atas, Dia merasa haus setelah melakukan olahraga berat, lalu turun ke bawah untuk minum. Tapi malah menemukan anak tirinya di dapur dan tengah serius melihat bahan makanan di dalam kulkas sampai tidak menyadari kedatangannya.
"Permisi Tuan!" pamit Giandra tidak ingin lagi memasak dengan keberadaan pria ini di dapur. Dia segera berbalik, tapi malah menabrak Nathan yang dia tidak ketahui berada di belakangnya. Giandra terkejut dan hampir jatuh jika Nathan tidak cepat menahan tubuhnya. Reflek Giandra segera menutup wajahnya dengan tangan tak kalah melihat tubuh polos Nathan terpampang jelas di matanya, dengan posisi mereka sangat dekat. Hidung mungilnya mencium aroma wangi keringat yang bercampur parfum menguar dari tubuh Nathan karena dekatnya tubuh mereka. Dan yang lebih penting dari itu dia menghindar tatapan tajam Nathan yang membuat tubuhnya bergidik. Giandra mundur segera, lalu berlari hendak meninggalkan dapur."Kamu bukannya mau masak?" tanya Nathan membuat langkah Giandra terhenti.
"Tidak lagi Tuan, aku sudah tidak lapar." jawabnya terbata. Rasa laparnya menghilang berganti takut dan deg degan. Dia melanjutkan langkah dengan terburu-buru menuju lift. Nathan hanya menatap kepergiannya dengan helaan nafas panjang."Dia pasti lapar." gumamnya melihat bahan makanan. Nathan menekan tombol putih di tembok dekat kitchen set. Tidak berapa lama Fatmala datang dengan terburu-buru.
"Masaklah sesuatu untuk Giandra, lalu antar ke kamarnya. Sepertinya dia lapar." perintahnya pada Fatmala. Dia mengambil sebotol air mineral lalu naik ke atas untuk melanjutkan olahraga malamnya.
Sementara Fatmala segera melaksanakan perintah Tuannya.
...Bersambung....
__ADS_1