
Happy Reading.
Sementara Giandra, setelah merasa jauh meninggalkan Lexi, dia segera berjalan cepat menuju pintu gerbang sekolah. Dia ingin secepatnya pergi dari sekolah. Sejujurnya saat ini dia sedang takut. Takut saat bersama dengan Lexi tadi. Untung dia bisa menolak keinginan Lexi yang mau mengantar pulang, dan akhirnya dia bisa lepas dari pria bejat itu. Bejat seperti kata Icha dan Lala. Kedua teman barunya itu tadi sempat memperingatkan dirinya untuk tidak dekat dekat Lexi. Karena pria itu play boy, pria mata keranjang, memacari banyak perempuan. Dan berhembus kabar kalau perempuan perempuan itu sudah di tiduri.
Giandra merinding takut mengingat perkataan kedua temannya itu. Saat berhadapan dengan Lexi tadi, dia berusaha setenang mungkin untuk menyembunyikan rasa takutnya.
Giandra terus membawa kakinya melangkah dengan cepat. Saat melewati parkiran, tak sengaja dia melihat Reza sedang menaiki motornya.
"Itu Reza, ternyata dia belum kembali." gumamnya. Dia berjalan cepat mendekati Reza."REZA __!" panggilnya.
REZA batal memakai helm. Dia menoleh ke arah Giandra.
"Aku mencari mu. Ku kira kau sudah kembali." kata Giandra. Dia mengeluarkan ponsel Reza dari saku roknya."Ini ponselmu. Terimakasih sudah meminjamkannya tadi." menyerahkan pada Reza yang langsung di terima terima Reza. Benda pilih kecil tapi mahal itu di simpan pada saku jaketnya.
"Permisi!" pamit Gia, dan melangkah.
"Kamu mau pulang?" tanya Reza menghentikan langkah Giandra.
"Iya,"
"Naiklah, biar ku antar kau pulang." kata Reza menawarkan diri untuk mengantar.
"Tidak perlu, aku akan naik Taksi." tolak Giandra halus.
"Kelamaan jika harus mencari taksi. Biar ku Antar saja."
__ADS_1
"Tidak perlu Reza. Aku tidak mau merepotkan mu terus. Lagi pula aku juga masih akan pergi ke beberapa tempat." kata Giandra buru buru.
Tawa cukup keras beberapa lelaki yang sedang berjalan menuju parkiran membuat leher mereka memutar melihat ke arah laki laki itu. Terlihat Lexi, Kinos dan Kimmy bercengkrama di sela obrolan mereka. Giandra tidak tenang dan merasa takut melihat ketiga pria itu. Seketika Giandra memutar lehernya melihat pada Reza yang juga melihatnya.
"A-apa aku masih boleh ikut dengan mu?" tanyanya terbata.
Tak ada jawaban dari Reza, dia hanya mengambil sesuatu dari bagasi motornya, lalu di berikan pada Giandra, yang langsung di terima oleh gadis itu. REZA segera menaiki motornya, di susul oleh Giandra setelah helm terpasang di kepalanya. Sangat sulit menaiki kendaraan gede ini. Dia harus memegang bahu Reza saat naik. Giandra berusaha menutupi pahanya yang terbuka dengan ke dua tangan.
"Pegangan." kata Reza. Dia menghidupkan motornya lalu segera tancap gas lewat pintu samping untuk menghindari Lexi dan kacungnya. Meski tidak di katakan Giandra, dia tahu Giandra menghindari ketiga pria itu. Giandra berpegangan pada kemeja putih Reza. Motor melaju dengan kecepatan sedang, tapi bagi Giandra ini kecepatan tinggi.
Mereka tidak tahu kalau kepergian mereka tertangkap oleh mata Jesika.
Motor berhenti karena lampu merah di depan. Tingginya footstep atau tempat pijakan kaki membuat paha Giandra terlihat dan menjadi santapan mata nakal beberapa mata lelaki yang mengendarai motor dan mobil di sebelah kiri kanan mereka. Dan itu tertangkap mata Reza. Dia segera melepas jaket kulitnya dan ditutupkan pada paha Giandra. Giandra terkesiap sejenak, lalu memperbaiki letak jaket pada pahanya sehingga bagian tubuhnya yang putih mulus itu terlindungi dari mata nakal lelaki.
Reza yang menunggu lampu merah berganti hijau, tampak panik melihat seseorang di belakang sana melangkah ke arahnya. Dia dapat melihat dari kaca spion. Pria itu turun dari mobil mewah yang juga mengantri lampu merah di belakang sana. Reza tahu pria itu. Dia segera Reza menarik tangan Giandra ke depan dan di lingkar kan memeluk perutnya.
"Pegangan kuat." katanya seraya menghidupkan motornya. Giandra kaget, belum sempat melakukan protes, Reza tancap gas menerobos kendaraan di depan. Hal itu membuat panik beberapa pengendara dan hampir mengalami tabrakan. Kekacauan yang di buatnya menarik perhatian petugas kepolisian yang melakukan patroli. Mereka mengejar motor Reza.
REZA melarikan motornya dengan kecepatan tinggi seperti seorang pembalap. Dan itu membuat Giandra memeluk kuat perut Reza, membenamkan wajah dan tubuhnya di punggung Reza. Dia sungguh takut dengan keadaan ini, tubuhnya tegang dan kaku.
Setelah beberapa kali melakukan belokan di pertigaan dan perempatan, Reza menghentikan motornya pada tempat yang sunyi di lalui kendaraan. Dia sengaja berhenti karena merasakan ketakutan Giandra yang mencengkram kuat perutnya, juga merasakan jantung jantung Giandra yang berdebar kencang. Dan benar, saat dia turun untuk memeriksa keadaan Giandra, gadis itu benar-benar ketakutan. Wajahnya yang putih mulus tampak pucat. Reza panik dan cemas seketika.
"Giandra__!" dia segera memegang tangan Giandra, terasa dingin dan gemetar
"Reza, apa kamu ingin bunuh diri? kau ingin membunuh kita?" ucap Giandra terbata. Kedua matanya berkaca.
__ADS_1
Hah_Reza membuang lepas nafasnya, hatinya terenyuh."Maafkan aku!" ucapnya merasa bersalah melihat bongkahan berkaca di kelopak mata gadis itu. Yang bisa di lakukan hanya memegang kuat kedua tangan mungil itu untuk menenangkan."Maaf, aku hanya ingin menghindari seseorang. Maaf __!"
"Tapi percayalah, aku tidak bermaksud membawamu ke dalam bahaya. Dan aku tahu apa yang ku lakukan tidak akan membuat kita kenapa kenapa. Sungguh!" katanya menjelaskan. Tadi itu dia masih mengerem kecepatannya karena ada Giandra bersamanya. Lain lagi ceritanya jika dia hanya naik sendiri. Giandra yang masih duduk di atas motor hanya diam mendengar sembari menenangkan dirinya.
"Tenanglah, tidak akan terjadi apa apa kepadamu. Selama kau bersamaku, aku akan menjagamu dengan baik!" kata Reza terus menenangkan.
Giandra mengangkat wajahnya mendengar perkataan itu. Dia menatap wajah tampan yang terlihat tampak cemas dan merasa bersalah ini. Dia melihat Reza memang terlihat cemas dan merasa bersalah."Maaf Reza, aku tidak menyalahkan mu, aku hanya tidak pernah mengalami hal seperti ini! Ini pertama kalinya aku naik motor dengan kecepatan tinggi seperti itu. Jadi aku ketakutan."
"Aku mengerti. Lain kali aku akan lebih hati hati. Kamu jangan takut lagi!"
Giandra mengangguk. Menyeka air matanya.
Suara sirene mobil polisi terdengar. Mendengar itu membuat Giandra kembali takut dan panik."Polisi berhasil mengejar kita."
"Kamu tenang saja. Tidak akan terjadi apa. Aku akan menanganinya." kata Reza dengan tenang. Dia menurunkan kaca helm Giandra untuk menutupi wajah Giandra."Biarkan seperti ini, dan jangan menengok ke belakang, agar polisi polisi itu tidak melihat wajah mu."
Giandra hanya mengangguk, meski dia bingung apa yang akan di lakukan Reza pada polisi polisi itu. Apa Reza akan menyogok polisi polisi itu agar tidak memperpanjang pelanggaran serta kekacauan yang mereka lakukan?
"Apa aku bisa meninggalkan mu sebentar?" tanya Reza, yang langsung di balas anggukan oleh Giandra.
REZA segera meninggalkan Giandra sejauh jarak 20 meter. Mobil polisi berhenti tepat di depan Reza yang menghalangi. Dua orang polisi segera keluar.
"Kau rupanya!" kata salah seorang polisi begitu melihat wajah Reza. Tapi kata kata itu terdengar ramah. Mereka terlibat obrolan beberapa kalimat. Dari tempatnya Giandra hanya memperhatikan. Hanya 3 menit berhadapan dengan para polisi, Reza segera kembali pada Giandra. Dan polisi polisi itu pergi.
Bersambung.
__ADS_1