Anak Tiriku Sugar Babyku

Anak Tiriku Sugar Babyku
Bab.17 Senyuman Tipis


__ADS_3

...Happy Reading....


"Udah selesai?" tanya Giandra.


Reza mengangguk.


"Kok cepat?" Giandra heran kenapa bisa secepat itu bisa lolos dari pihak kepolisian Setelah pelanggaran yang Reza lakukan. Meski sebenarnya hatinya lega karena tidak berlama lama berurusan dengan polisi lalu lintas itu.


Dahi Reza mengerut, mata menyipit.


"Bukankah itu hal baik? dari pada lama lama berurusan dengan polisi polisi itu?"


Giandra tak menanggapi hanya menatap aneh pria ini. Tatapannya itu membuat Reza tersenyum tipis, hanya sekilas.Tatapannya kembali datar seperti biasa.


"Kenapa menatap seperti itu? Gak percaya?"


"Percaya sih, tapi apa Bapak bapak polisi itu tidak mempermasalahkan pelanggaran yang kau buat?"


"Tidak setelah aku berkata jujur karena ingin menghindari orang yang bisa saja menjahati kita. Juga surat surat motor ku lengkap, aku punya SIM dan kita berdua mengenakan helm." Reza menjelaskan.


Ohhh, Giandra mangut mangut mengerti dengan bibirnya yang mengerucut, dan sukses membuat Reza kembali tersenyum tipis.


Ponsel Giandra berbunyi menyadarkan keduanya. Giandra segera mengambil benda pipih itu dari saku rok.


📞"Halo Bik." sapanya pada si penelepon yang merupakan bibi Fatmala.


📞"Nona kok belum kembali? Nona belum keluar sekolah?" tanya Fatmala khawatir. Seharusnya jam begini Giandra sudah keluar sekolah.


📞"Sudah Bik, aku lagi di jalan mau ke suatu tempat, belum langsung pulang. Apa mama sudah ada di rumah?"


📞"Nyonya belum kembali. Nona mau kemana?"


📞"Aku tidak bisa mengatakan sekarang, nanti saja setelah di rumah. Mungkin aku pulang agak malam."


📞"Nona pergi dengan siapa? Bibi khawatir pergi sendirian di luar sana."

__ADS_1


📞"Aku lagi sama teman yang sekelas dengan ku. Aku baik kok, bibi tidak perlu cemas." kata Giandra sembari melihat pada Reza yang tampak sibuk dengan ponselnya, berada tiga meter darinya. Entah dia lagi Chatting sama siapa. Tapi telinga Reza dapat mendengar pembicaraan Giandra.


📞"Nona hati hati ya, soalnya sekarang ini Jakarta lagi rawan kriminalitas. Jaga diri baik-baik selama diluar."


📞"Iya Bik, terimakasih sudah mengingatkan! Oh ya Bik, boleh aku pulang malam ke rumah? Soalnya aku mau belajar kelompok. Kami mendapatkan tugas yang lumayan banyak dari guru dan besok pagi harus di kumpulkan."


📞"Belajarnya di mana Non?"


📞"Rencananya di cafetaria dekat sekolah."


📞"Baik Non, tapi kembalinya sebelum jam 9 ya? Biasanya Nyonya Regina kalau kembali ke rumah di jam 9-10,"


📞"Iya Bik, aku mengerti."


📞"Nanti Bibi akan suruh sopir rumah menjemput Nona di cafetaria, biar Nona pulangnya aman dan cepat sampai ke rumah. Sekali lagi Bibi pesan untuk hati hati di luar."


Kata Fatmala kembali mengingatkan. Karena beberapa bulan terakhir ini kota Jakarta dan sekitarnya marak akan kriminalitas. Dia khawatir mengingat Giandra baru di kota ini dan belum tahu setiap sudut kota ini, dan Giandra seorang gadis muda.


📞"Baik Bik, Terimakasih sudah mengingatkan!"


"Sudah selesai?" tanya Reza.


Giandra mengangguk.


"Kemana tujuan mu? Aku akan mengantarmu." kata Reza kembali.


"Aku naik Taksi saja. Aku tidak mau merepotkan mu terus." kata Giandra. Karena tujuannya naik motor ini untuk menghindari Lexi, dan sekarang dia sudah jauh dari laki laki itu. Giandra hendak turun dari motor, tapi Reza menahannya untuk tetap duduk.


"Di sini sangat sulit mendapatkan Taksi. Aku akan mengantarmu ke jalan raya." katanya sembari naik ke motor. Angin sore berhembus sangat kuat, rasanya begitu dingin karena cuaca agak mendung seperti mau turun hujan. Giandra memeluk tubuhnya sendiri.


"Pakai jaketnya biar kamu gak kedinginan. Jaket itu besar, bisa untuk menutupi paha mu." kata Reza yang melihat Giandra merasa kedinginan.


Giandra segera melakukan apa yang di katakan Reza, pria ini cukup perhatian dan sangat peka, dalam penglihatan Giandra. Dia berharap Reza benar benar teman yang baik.


REZA segera naik ke motor dan melarikan kenderaan itu setelah Giandra selesai memakai jaket. Kenderaan dua itu terus melaju dan berhenti karena lampu merah. Sebuah mobil hitam warna merah ikut berhenti di samping mereka. Giandra sekedar menoleh melihat kenderaan roda empat itu. Wajahnya mengernyit melihat orang yang berada di dalam mobil. Kaca mobil terbuka dari atas hampir setengah, hingga bisa melihat orang di dalam sana."Mama?" gumamnya. Dia semakin menatap memperhatikan Regina yang tidak sendirian, tapi dengan seorang laki laki. Keduanya terlihat mesra dan saling bercanda. Bahkan pria itu melayangkan ciuman singkat pada Regina dan sempat di balas oleh Regina.

__ADS_1


Dia melihat wajah pria itu. Lumayan tampan, berkumis tipis, kulit kuning Langsat, di perkirakan seumuran dengan Regina."Apa pria itu suami mama?" batinnya. Mobil Regina bergerak melaju karena lampu hijau sudah menyala. Motor Reza pun ikut melaju.


Giandra melamun kan apa yang dia lihat tadi. Entah kenapa dadanya sesak, hatinya sakit dan sedih melihat adegan Regina dengan pria itu. Dia teringat penghianatan Regina dulu hingga membuat Regina dan papanya berpisah, cerai. Dan lebih menyakitkan mereka, Regina senang dengan perceraian itu, dan memilih pergi dengan selingkuhannya meninggalkan dia yang kala itu masih kecil dan juga kakaknya, Jiandra.


Motor Reza yang tiba tiba berhenti membuat Giandra tersadar dari lamunannya. Dia segera menyeka kedua matanya yang basah sebelum ketahuan Reza.


"Giandra, di sini banyak taksi yang lewat."


"Oh iya? aku turun di sini!" kata Giandra segera turun. Dia memperhatikan sekelilingnya. Tapi kemudian matanya berhenti pada sebuah bangunan tinggi pencakar langit berlantai banyak yang menjadi tujuannya. Yaitu Rania Hotel. Salah satu hotel bintang Lima di kota ini. Giandra tersenyum senang.


"Reza, terima kasih ya sudah mengantarku. Aku tidak perlu naik taksi lagi karena tujuan ku ke tempat itu." kata Giandra seraya melihat dan menunjuk hotel yang dimaksud.


REZA mengikuti arah telunjuknya. Wajahnya mengernyit setelah melihat bangunan itu.


"Mau apa kamu ke hotel itu? Ada janji dengan seseorang?" tanyanya. Pikirannya melayang pada dua tanya merah di leher Giandra. Tapi dia kembali membuang jauh kecurigaan buruk itu.


"Tidak! Aku ada urusan lain. Terimakasih ya, aku pergi dulu, kamu hati hati di jalan, jangan ngebut kayak tadi." ucap Giandra tersenyum mewanti-wanti Reza. Senyum yang begitu manis hingga membuat jantung berdebar, hati bergetar bagi siapa saja yang melihatnya. Lalu Giandra segera pergi meninggalkan Reza yang masih mematung di atas motornya.


"Ada urusan apa dia ke situ?" batin Reza. Beberapa saat kemudian, dia segera meninggalkan tempat itu setelah melihat Giandra masuk ke layanan resepsionis.


Sedangkan Giandra kembali di buat terkejut melihat mamanya dan pria yang di anggap Giandra suami baru Regina berada di Hotel ini. Keduanya selesai melakukan reservasi pemesanan kamar dan menerima kunci dari pegawai hotel. Lalu pergi menuju kamar yang mereka pesan berada di lantai atas entah nomor berapa. Kedua manusia beda jenis kelamin itu terlihat tidak sabaran untuk tiba di kamar."Kenapa gak pulang saja ke rumah dan malah menginap di Hotel?" batin Giandra.


"Selamat sore, Ada yang bisa kami bantu?" tanya seorang resepsionis pada Giandra ketika Giandra sudah berada di depan meja kerja mereka.


Giandra segera menyampaikan maksud kedatangannya yang ingin melamar kerja. Dia ke sini atas saran Niken. Niken mencari informasi lowongan pekerjaan di hotel ini dan mendapatkan informasi hotel ini masih butuh dua tenaga kerja cleaning servis. Hotel ini sama dengan hotel tempat Gia dan Niken kerja, tapi hotel tempat mereka kerja merupakan cabangnya, dan hotel ini adalah pusat terbesarnya.


Salah seorang resepsionis menerima telepon yang masuk, dia mendengarkan perkataan dari orang yang di seberang sembari melihat pada Giandra, setelah itu dia menutup panggilan.


Beberapa saat kemudian Giandra keluar dari hotel itu dengan senang hati. Sungguh dia tidak menyangka akan di terima bekerja di hotel besar itu. Kata pegawai resepsionis, pak Galih mengenal Giandra sebagai karyawan yang sangat disiplin dan giat bekerja.


"Mungkin mbak Niken sudah memberitahukan pada pak Galih bahwa aku sedang mencari pekerjaan." batinnya. Dia segera mengirim pesan pada Niken. Lalu mencari taksi untuk membawanya ke cafetaria.


Bersambung.


Jangan lupa dukungan buat author ya, Kasih like, komentar, vote, bintang lima, dan kopi. Makasih

__ADS_1


__ADS_2