Anak Tiriku Sugar Babyku

Anak Tiriku Sugar Babyku
Bab. 34 Penghuni Baru Meja Makan.


__ADS_3

...Happy Reading....


Sesampainya di mansion, Nathan mengangkat tubuh Giandra naik ke atas dan masuk ke kamar. Pengaruh kejadian tadi yang menguras tenaga emosi dan air mata membuat Giandra kelelahan dan mengantuk. Apalagi sekarang sudah menunjukkan pukul 2 dini hari. Giandra tak kaget dan bangun saat Nathan mengangkat membawanya ke tempat tidur. Nathan menatap anak tirinya beberapa saat. Wajah cantik yang sedang tertidur pulas tenang tak ada beban apapun. Semakin dalam di tatap, Nathan melihat wajah seseorang di sana. Dan teringat pemilik wajah itu membuat dadanya sesak, kedua matanya basah. Getaran dari saku celana mengalihkan perhatiannya dari wajah Giandra. Dia mengambil benda pipih itu dan membaca pesan dari Tom. Wajahnya berubah datar seketika. Dia segera bangkit dari duduknya dan keluar dari kamar setelah memakaikan selimut ke tubuh Giandra.


****


Giandra terbangun oleh alarm Subuh pada jam weker di nakas. Selain menyetel alarm waktu shalat di HP, dia juga menyetel pada jam weker. Hal itu di lakukan jika ponselnya kehabisan daya ada pengingat waktu shalat di benda lain. Akibat semalam banyak menangis di kamar hotel bersama Nathan di tambah dengan kejadian penyerangan membuat kepalanya pusing dan sakit, mata bengkak. Giandra bangun sangat malas karena tubuhnya lemas dan pegal. Meski semalam Nathan tak sampai memakainya, tapi pria itu membuatnya beberapa kali keluar dengan permainan Finger dan Tongue.


Pusing dan lemas membuat Giandra hampir jatuh jika tidak segera berpegang pada dashboard ranjang. Terdiam beberapa saat untuk meredakan rasa pusing, barulah Giandra melangkah ke dalam kamar mandi. Dia melepas semua pakaian yang melekat pada tubuhnya. Cairan bening seketika memenuhi kelopak matanya melihat banyak tanda yang tersebar di seluruh tubuhnya. Hatinya begitu remuk, air mata jatuh seketika. Dia menyalakan shower dan menggosok tubuhnya dengan kuat tapi semua tanda itu tidak hilang. Meski seberapa kuat dia menggosok tak ada hasilnya. Malah sentuhan sentuhan Nathan semalam semakin memenuhi pikirannya tidak akan bisa bilang. Tanpa sadar Giandra menangis tersedu-sedu, dadanya begitu sesak hatinya perih.


Meski merasa pusing, Giandra tetap memaksa melaksanakan kewajibannya, dia segera membentang sajadah. Shalat dengan derai air mata. Memohon pengampunan dan meminta petunjuk kepada sang pencipta. Memohon kesembuhan untuk ke dua adiknya Qenan dan Qinan. Memohon kesehatan dan umur panjang untuk dirinya setidaknya sampai kedua adiknya itu benar-benar sehat. Seandainya dia bisa Jujur pada semua orang beban dan derita yang sudah 8 tahun ini di tutupi dan di tanggung seorang diri. Tapi tidak, dia akan tidak melakukan itu karena resikonya besar dan sangat berbahaya buat Qenan dan Qinan. Dia akan menyembunyikan rahasia itu selamanya agar tidak kehilangan dua anak yang sangat di sayangi melebihi dirinya sendiri. Dia tidak mau kehilangan orang orang yang di cintainya lagi setelah kehilangan papa dan kakaknya dulu. Cukuplah dia menderita kehilangan orang tua dan kakaknya, tapi tidak dengan Qenan dan Qinan. Dia akan berjuang keras, melakukan apapun untuk kesembuhan anak anak itu tanpa bantuan orang lain demi keselamatan hidup kedua anak anak itu.


Setelah mengenakan pakaian seragam sekolah lengkap, Giandra hendak keluar dari kamarnya, tapi sakit kepala menyerang tiba tiba dan sesuatu di rasa mengalir dari hidungnya. Bertepatan dengan pintu kamar di ketuk. Giandra kaget.


"Nona, Nona Giandra __!" panggilan dari luar. Suara Bibi Fatmala. Giandra panik, dia melangkah ke dalam mengambil tisu lalu secepatnya membersihkan darah di hidungnya.


"Nona!" panggilan di sertai ketukan.


"Bentar Bik _!" teriak Giandra sambil mendekatkan wajahnya lebih dekat ke cermin untuk memastikan darah sudah tidak ada lagi keluar dari hidungnya. Setelah di pastikan tak ada, Giandra buru-buru memungut lembaran tissue yang berserakan di meja rias, lalu di buang ke tempat sampah.


Ceklek.

__ADS_1


Bunyi pintu di buka dan terlihat wajah Fatmala di depannya.


"Selamat pagi Nona." ucap Fatmala dengan senyuman kecil menghiasi bibirnya. Tapi senyuman itu redup melihat wajah pucat Giandra. Dia terpaku beberapa detik.


"Pagi Bik." balas Giandra segera mengulas senyum. Lalu menutup pintu kamar kembali.


"Nona di tunggu di meja makan." kata Fatmala.


"Saya sudah siap, mari kita turun!" Giandra segera melangkah melewati Fatmala untuk menghindari tatapan mata Art yang di tangkap memperhatikan wajahnya. Fatmala segera mengikuti langkah Giandra dan mensejahterakan posisinya dengan Giandra.


"Nona sakit? Wajah Nona pucat!" akhirnya kalimat itu keluar dari mulut fatamala karena rasa khawatir.


"Tidak Bik, mungkin pengaruh aku tidur lat semalam." kata Giandra, menerbitkan kembali senyuman di wajahnya, agar Fatmala tidak lagi khawatir dan banyak bertanya. Menoleh sekilas pada Art itu.


"Iya Nona. Juga dua orang yang sangat ingin bertemu dengan Nona!"


"Dua orang? Siapa?" wajah Giandra mengernyit. Fatmala hanya tersenyum. Giandra di buat penasaran. Untuk itu dia melangkah lebih cepat mendekati lift. Setelah sampai di bawah dia buru buru melangkah ke ruang makan. Tapi langkahnya melambat melihat meja makan yang kemarin hanya di isi dirinya dan Nathan kini berubah ramai. Meja makan itu terlihat penuh oleh beberapa orang yang duduk di sana, termasuk Regina yang di ketahui sedang pergi ke Lombok. Semua mata penghuni meja makan itu melihat ke arahnya.


Wajah Giandra berbinar melihat dua orang yang membuat hatinya senang."Opa, Oma __!" serunya pada Dam dan Dian. Dia sekarang mengerti dua orang yang di maksud Bibi Fatmala.


"Kemarilah sayang!" sahut Oma Dian dari meja makan. Giandra segera melangkah cepat ke tempat duduk dua manusia paruh baya itu. Dam dan Dian berdiri menyambut kedatangannya. Setelah berhadapan mereka berpelukan secara bergantian.

__ADS_1


"Opa dan Oma kapan sampai?" tanya Giandra masih memegang tangan Dian.


"Setengah jam yang lalu. Opa dan Oma sengaja tidak langsung menemui mu karena ingin memberi kejutan." kata Dam.


"Dan saya sangat terkejut! Saya senang sekali melihat Opa dan Oma." pungkas Giandra masih dengan senyuman lebar merasa senang.


"Kami juga senang bertemu denganmu sayang!" Oma Dian kembali memeluk Giandra.


Nathan, Regina dan dua penghuni baru meja makan melihat keakraban mereka.


Mata Giandra teralih pada dua orang wanita beda generasi, wajah cantik dengan penampilan elegan. Yang berada di dekat Regina dan Opa Dam.


"Giandra, kenalkan_ Ini Natalia, kakak tertua Nathan." kata Dian memperkenalkan wanita yang duduk di sebelah Regina.


"Dan yang Ini Vivian, ibunya Nathan." sambung Dian kembali memperkenalkan wanita setengah abad yang berada di dekat Opa Dam.


"Vivian, Nathalia, perkenalkan ini Giandra, Putri Regina." Dian balik memperkenalkan Giandra pada Vivian dan Nathalia.


Giandra memperhatikan wajah ke dua wanita yang mirip dengan Nathan. Entah kenapa Giandra merasa tidak nyaman dengan tatapan ke dua wanita itu. Tatapan datar bercampur keangkuhan mengisyaratkan bahwa mereka tidak menyukai dirinya. Tatapan datar mereka membuat jantung Giandra berdegup. Giandra melangkah mendekati Vivian terlebih dahulu. Giandra menyalami tangan wanita itu.


"Selamat pagi Oma, saya Giandra." ucap Giandra sopan berusaha untuk tenang. Dia mengurai senyum ramah. Tak ada sahutan, Vivian segera menarik tangannya dari genggaman Giandra dengan mata tak lepas dari wajah Giandra. Giandra berusaha tenang dan tetap tersenyum. Dia melangkah mendekati Nathalia dan menyalami tangan Kakak dari papa tirinya ini."Selamat pagi Aunty, saya Giandra." sapanya sopan dan ramah. Sama seperti ekspresi Vivian, Nathalia pun begitu. Ekspresi keduanya membuat Giandra faham kedua wanita ini tidak menyukai dirinya. Beda dengan Opa Dam dan Oma Dian yang menyambutnya dengan gembira dan tangan terbuka lebar memeluk. Tapi ada yang di tangkap Giandra dari kedua mata wanita itu saat pertama melihat wajahnya muncul di meja makan tadi. Keduanya tampak sangat terkejut dan tak berkedip melihat dirinya.

__ADS_1


...Bersambung....


__ADS_2