Anak Tiriku Sugar Babyku

Anak Tiriku Sugar Babyku
Bab. 20 Penikaman


__ADS_3

...Happy Reading....


Ponsel Giandra berdering. Dari Bibi Fatma.


"Maaf Nona, saya Pak Gum. Saya sopir yang menjemput Nona. Saya sudah dekat dengan tempat tujuan. Nona berada di cafetaria yang mana?" tanya suara di seberang, karena di area situ ada dua cafetaria.


"Cafetaria R and B pak Gum." jawab Gia. Dia mengira Bibi Fatma yang bicara.


"Baik, Non, saya kesitu sekarang. Maaf Nona kelamaan menunggu, jalanan macet."


"Gak apa apa pak Gum. Yang penting mama belum kembali."


"Belum Nona!"


Giandra mengakhiri panggilan. Dia segera berdiri sambil memungut jaket Reza yang berada di sebelahnya. Baru saja hendak meluruskan tubuhnya untuk berdiri, seorang pria tiba-tiba muncul di depannya mengayunkan pisau ke arah wajahnya. Giandra terkejut bukan main, sangat panik dan tidak sempat menghindar. Dia hanya bisa berpaling sambil melindungi wajahnya dengan tangan, alhasil pisau itu melukai tangannya. Akhh, Giandra meringis merasakan sakit.


"Cepat sedikit, orang orang sedang melihat ke sini," teriak teman penjahat dari atas motor. Ternyata pria itu tidak sendirian tapi bersama rekannya.


Orang yang berada di sekitar situ melihat ke arah mereka.


Giandra gemetar dan ketakutan." Tolong, tolong __ tolong!" teriaknya keras sambil menjauhi pria itu yang lengah melihat pada rekannya yang berada di atas motor.


Kedua penjahat itu panik mendengar teriakkan Giandra. Orang itu mengejar Giandra yang berusaha kabur.


"Tolong, Tolong!" pekik Giandra saat orang itu berhasil menarik tas di punggungnya. Dia kembali melayangan senjata tajam ke kepala Giandra,tapi dari arah samping, seseorang menarik tubuh Giandra dengan cepat, dan mengukung tubuh Giandra dalam di dekapannya. Akhirnya pisau itu menancap di punggung pria yang menolong Giandra.


"Aakhh__ ****!" Pria itu mengumpat merasakan perih akibat tusukan pisau.


Penjahat itu ingin kembali menyerang melihat korban yang lengah tak berdaya, tapi batal melihat beberapa orang berlari ke arah mereka. Rekannya sibuk menstarter motor tapi tidak mau hidup."Tinggalkan saja motornya." katanya pada rekannya. Karena motor itu tak kunjung menyala. Keduanya segera berlari dengan panik melihat beberapa orang di seberang sana berlarian ke arah mereka.


Sementara Giandra yang panik ketakutan dan tubuh gemetar menekan darah lukanya yang terus mengalir. Dia hanya fokus melihat lukanya sambil meringis dan terisak menyebut papa. Pria itu memeriksa luka Giandra, untung lukanya tidak terlalu dalam. Secepatnya pria itu mengeluarkan sapu tangannya lalu di ikat pada lengan Giandra yang terluka untuk menghentikan pendarahan. Kemudian membawa Giandra duduk pada kursi yang berada di belakang mereka. Selanjutnya dia mengejar para Pencopet itu sebelum kabur terlalu jauh.


"Nona __!" pak Gum yang telah sampai di tempat segera mendekati Giandra dengan langkah cepat.

__ADS_1


"Astaghfirullah, apa yang terjadi Non?" melihat wajah Giandra yang pucat dan keadaannya yang kacau.


Giandra tidak menjawab karena masih gemetar dan takut, dia seolah linglung dengan apa yang terjadi padanya.


"Nona terluka." pak Gum memeriksa luka Giandra yang telah tertutup oleh sapu tangan.


"Seandainya saya tidak terlambat menjemput Nona, mungkin Nona tidak akan mengalami kejadian buruk ini. Maaf kan saya Nona!" pak Gum merasa bersalah.


"Ini bukan salah bapak. Bapak tidak perlu meminta Maaf. Para Penjahat itu yang jahat! Untung ada orang yang membantu menyelamatkan saya." Giandra mengedarkan pandangannya ke depan, lalu beralih ke samping kiri tapi tak menemukan pria itu."Tadi orangnya di sini."


"Apa pria yang memakai kemeja putih?"


Giandra berusaha mengingat pakaian pria itu. Dia tidak melihat wajahnya karena mata dan pikirannya terpusat pada lukanya.


"Iya, tapi saya tidak sempat melihat wajahnya."


"Kalau memang dia orangnya, saya melihatnya berlari ke arah barat bersama beberapa orang." kata pak Gum yang sempat melihat pria yang menolong Giandra dari mobil. Mengenakan kemeja putih, celana hitam.


"Mereka pasti sedang mengejar para Pencopet itu." kata Giandra.


"Pria itu juga terluka, saya rasa pisau itu mengenai punggungnya."


"Semoga saja lukanya tidak parah! Sebaiknya kita pergi dari sini. Luka Nona harus segera di obati agar tidak infeksi! Apa Nona sudah kuat untuk berjalan?" tanya Gum memastikan keadaan Giandra yang terlihat masih shock.


"Iya pak Gum, sebaiknya kita pulang sebelum keduluan sama mama!"


Giandra berdiri perlahan, meski masih gemetar dan takut berdiri perlahan. Kejadian tadi benar-benar membuatnya trauma. Sudah dua kali dia dia terkena musibah. Kejadian di hotel kemarin bertemu dengan orang jahat yang melecehkannya, dan hari ini mengalami kecopetan dan sampai melukainya.


"Pak Gum, tas dan jaket itu tolong di bawa." kata Giandra.


Gum segera mengambil tas dan jaket yang tergeletak di tempat duduk. Keduanya berjalan perlahan.


Seorang pria tiba-tiba mendekati di depan mereka."Nona, di minum dulu airnya, anda pasti sangat ketakutan." katanya seraya menyerahkan sebotol air mineral pada Giandra. Giandra dan pak Gum belum langsung menerima pemberiannya.

__ADS_1


"Saya di minta seseorang untuk memberikan air ini pada Nona." kata Pria itu segera, melihat keraguan di mata Giandra.


"Siapa?" tanya Giandra.


"Saya tidak tahu namanya, saya juga tidak mengenalnya. Tapi tadi saya melihat orang itu menyelamatkan Nona dari kedua penjahat itu." pria itu menjelaskan.


Giandra Teringat pria yang menolongnya tadi.


"Katanya anda ketakutan dan butuh air minum untuk menenangkan diri dari rasa takut. setelah memberikan minuman ini, orangnya langsung pergi mengejar para Penjahat itu bersama dengan yang lainnya." sambung pria itu.


"Nona jangan ragu untuk menerima kebaikannya, saya yakin orang itu orang baik." kata pak Gum. Giandra segera menerima botol minum itu tanpa ragu. Lalu segera meminumnya beberapa kali tegukan. Dia merasa sedikit tenang setelah meminum air mineral, debaran jantung juga berkurang.


"Terimakasih pak." ucap Giandra.


"Lalu bagaimana dengan para Penjahat itu?" tanya pak Gum.


"Polisi lalu lintas sedang mengejar mereka. Mungkin mereka sudah tertangkap."


"Syukurlah." ucap Giandra dan pak Gum berbarengan.


"Bagaimana dengan luka di tangan Anda?" tanya pria itu kembali.


"Tidak terlalu dalam, tapi terasa perih dan sakit."


"Sebaiknya Nona pulang dan obati lukanya agar tidak semakin parah sakitnya. Sudah beberapa bulan ini, kota Jakarta dan sekitarnya marak akan kriminalitas. Nona harus waspada jika keluar malam hari dan siang hari."


"Iya, Terimakasih sudah mengingatkan. Sekali lagi terima kasih atas batuan Anda dan juga yang lainnya. Kami pergi dulu." ucap Giandra


Pria itu mengangguk sembari menatap wajah Giandra yang masih pucat.


Giandra dan pak Gum segera melangkah menuju mobil. Kemudian mobil mewah itu melaju meninggalkan area tersebut.


...Bersambung....

__ADS_1


Mana nih dukungan buat author? Jangan lupa tinggalkan jejak dukungannya setelah membaca setiap Bab cerita ini. Mkasih


__ADS_2