
Happy Reading.
Setelah pulang sekolah. Giandra mengirim pesan pada Regina."Ma, mulai hari ini aku kerja." Dia sengaja memberi tahu mamanya agar Regina tahu dia sudah bekerja dan tidak akan mempermasalahkan kepulangannya yang malam.
Regina: Kamu kerja di mana? Jangan sampai pekerjaan mu membuat ku malu. Dan lebih penting dari itu__ jangan sampai ketahuan Nathan, Oma Dian dan Opa Dam."
Gia: Aku kerja Sebagai cleaning servis di sebuah hotel. Shift kerjaku dari jam 4 sore sampai jam 9 malam. Mama jangan khawatir, aku akan menyembunyikan wajah dan identitas ku serapat mungkin."
Regina : Baguslah, awas jika kau berbuat ulah yang membuat ku bermasalah."
Giandra memakai Wig rambut pendek berwarna hitam, alis di tebalkan, menggunakan topi, kaca mata tebal untuk menutupi wajahnya. Lalu masuk malapor ke bagian resepsionis. Setelah menerima seragam OG, Giandra segera melakukan tugasnya sesuai instruksi seniornya. Dia melakukan pekerjaannya dengan perasaan senang, juga penuh semangat. Alhamdulillah, dia bersyukur karena telah mendapatkan pekerjaan dengan bantuan pak Galih dan Niken. Jangan berpikir hidupnya akan enak di limpahi kemewahan Setelah bertemu mamanya dan memiliki papa tiri yang kaya raya. Tidak terpikir sedikit pun di hati Giandra untuk mengharap pada mereka. Dia adalah anak yang tidak di anggap oleh mamanya dan hanya anak tiri Nathan. Selama dia masih kuat bekerja, dia akan melakukan pekerjaan apapun untuk mendapatkan uang buat adik adiknya.
Dan Giandra pun tak berharap selamanya mendapatkan uang dari pekerjaan kotornya sebagai sugar Baby. Dia berniat Setelah memenuhi semua keinginan Mr L, dia akan berhenti dari pekerjaan itu. Sungguh dia sangat menyesal telah memilih jalan pintas itu. Mau menghentikan kontrak perjanjian akibatnya fatal. Dia harus mengembalikan 10 kali lipat dari uang yang di berikan Mr. L. Ingin mundur sekarang pun sangat sulit, karena uang yang dikirim Mr L ke rekening panti asuhan telah terpakai untuk pengobatan kemoterapi Qenan dan Qinan, juga biaya hidup adik adiknya.
Waktu cepat sekali berlalu. Jam empat berlalu begitu cepat ke jam 9. Hal yang sangat tidak diinginkan Giandra. Tubuhnya lemas dan dingin. Sungguh dia sangat ingin menangis mengingat malam ini akan bertemu dengan pria yang membelinya. Apakah malam ini dia akan memberikan Segalanya pada pria itu? Apakah malam ini dia akan kehilangan Semuanya?
Giandra melepas Wig dan lainnya yang menutupi jati dirinya. Dia mendapat pesan dari Mr. L saat keluar dari area hotel.
Mr. L: Aku sudah berada di hotel. Aku orang yang paling tidak suka menunggu lama Mawar.
Gia: Aku sedang mencari Taksi untuk menuju ke sana Tuan! Maaf telah membuat Anda menunggu_send.
Giandra segera berlari ke jalan. Dia mencari ojek online, takutnya jalanan macet dan semakin lama di jalan jika naik taksi. Giandra terkejut saat sebuah motor berhenti tepat di depannya.
"Reza?" tak bergeming melihat Reza di atas motor besarnya.
"Kami ngapain di sini?" tanya Reza setelah membuka helm kaca penutup wajahnya.
"Aku sedang menunggu ojek!"
"Kamu mau kemana? Dan sedang apa di sini malam-malam begini?"
__ADS_1
"Aku ada keperluan di toko itu!" menunjuk hotel yang tidak jauh dari hotel Rania."Dan sekarang aku mau ke Ho__" bibir Giandra seketika mengatup tak melanjutkan nama tujuannya. Hampir saja keceplosan."Itu_aku mau ke jalan X!" katanya segera setelah otak kecilnya berpikir cepat."Aku pergi dulu." hendak melangkah.
"Biar ku Antar!" sahut Reza. Dia merasa aneh dengan sikap Giandra yang terlihat lain.
"Tidak perlu, aku tidak mau merepotkan mu!" tolak Giandra. Selain tidak ingin merepotkan, dia juga tidak ingin Reza mengetahui tujuannya ke hotel itu.
"Aku tidak ingin kejadian semalam terjadi lagi! Naiklah!" Reza menyerahkan helm. Gia termangu, teringat kejadian buruk yang menimpanya semalam. Dan pria ini peduli dengannya. Entah kenapa Reza selalu ada di saat dia perlu bantuan.
"Samai kapan kau berdiri terus?" Reza membuyarkan lamunannya. Mau tidak mau Giandra menerima benda itu. Reza segera tancap gas setelah Giandra naik dan melingkarkan kedua tangan di perutnya.
"Kamu dari mana tadi?" tanya Giandra dalam perjalanan. Dia heran kenapa Reza berada di area Hotel Rania.
"Kamu tanya apa? Suaramu kurang jelas!" kata Reza sedikit keras karena sebagian suaranya terbawa angin. Giandra mendekatkan tubuhnya lebih merapat pada Reza. Alhasil tubuh depannya, juga dua buahnya menempel di punggung Reza yang hanya mengenakan kaus tipis tanpa jaket. Kepalanya di majukan di samping kanan wajah Reza."Kamu dari mana tadi?" tanya Giandra suara lebih di tinggikan.
"Aku ada janji ketemu dengan seseorang!" kata Reza.
"Pacar?" Celetuk Giandra untuk membuat obrolan mereka hangat dan sedikit asyik. Karena mengingat Reza orang yang malas ngomong dan cuek.
Tak ada jawaban dari Reza. Dia hanya menelan saliva mendengar pertanyaan Giandra.
Reza menoleh ke wajah yang sangat dekat dengan wajahnya, Giandra juga masih melihat wajahnya menunggu jawaban. Seandainya jika keduanya tidak memakai helm, hidungnya pasti sudah mendarat di pipi gadis itu.
Giandra tiba tiba tertawa."Benar kan dugaan ku? Kau baru bertemu pacar?" tebak Giandra tertawa kecil melihat Reza diam. Reza tersenyum kecil melihat wajah ceria Giandra juga deretan gigi sampingnya yang putih teratur. Reza kembali melihat ke depan.
"Aku senang melihat kau tersenyum. Tahu gak wajahmu sangat manis dan semakin tampan jika tersenyum begitu." Giandra mengangkat ke dua tangan ke pipi Reza dan mencubitnya dengan gemas. Lalu dia tertawa. Reza jadi kembali tersenyum lebar.
"Jangan bercanda terus, cepat pegangan nanti jatuh." Reza membawa satu tangan Giandra memeluk perutnya. Giandra segera melingkarkan kedua tangannya di perut Reza. Dia dapat merasakan pahatan kotak kotak di perut rata pria itu. Senang rasanya dekat dan bisa bebas bicara dengan Reza.
"Reza __!"
"Hmmmm_!"
__ADS_1
"Terimakasih ya selalu membantu ku!"
"Hmmmm!"
"Padahal kata beberapa murid di sekolah, kau orang yang angkuh dan sombong. Cuek, tidak mau bergaul dengan sembarang orang dan malas bicara! Tapi mereka bohong, buktinya kau tidak begitu padaku." kata Giandra tersenyum.
"Apa kamu baru ketemu Jesika?" tanya Giandra."Aku dengar di sekolah kalian pasangan kekasih."
"Tidak keduanya." jawab Reza.
Wajah Giandra mengernyit. Tidak keduanya? Jadi benar kata Icha dan Lala, hanya Jesika yang menyukai Reza, Reza tidak.
"Tapi dia menyukaimu. Kamu cocok sama dia. Kau kapten Tim basket dan dia Ketua Tim Cheerleader. Wajahnya cantik, tubuhnya juga indah."
"Aku lebih tertarik sama Buk Lily!" kata Reza. Sontak Giandra tertawa lepas dan memukul paha Reza. Buk Lily wali kelas mereka, guru killer galaknya minta ampun, bentuk tubuhnya pendek dan gendut seperti kontainer. Jika pakai payung, wanita berumur 40 tahun itu mirip seperti jamur. Gak nyangka pria balok es ini bisa bercanda juga.
"Za, aku turun di depan." kata Giandra tiba tiba, saat melihat nama hotel tujuannya dari jarak jauh. Dia tidak ingin turun di depan hotel, nanti akan menjadi pertanyaan Reza. Giandra segera turun setelah Reza menepikan motornya. Dia berusaha membuka helm yang terasa sulit di lepas pengaitnya. Reza menjulurkan tangannya membantu melepaskan. Giandra mendekatkan kepalanya agar Reza lebih mudah melepas. Dia menatap wajah Reza, dan tiba tiba tersenyum teringat sesuatu. Mata Reza yang fokus pada pengait terusik oleh senyuman manis itu. Dia menatap wajah Giandra. Senyum Giandra tambah lebar. Dan itu membuat Reza bingung. Dan karena Senyuman itu membuatnya gagal fokus pada apa yang di kerjakan.
"Kamu kenapa senyum senyum begitu?" tanyanya heran.
"Kamu benar tertarik sama ibu Lily?" Tanya Giandra."Besok aku akan mengatakan pada Bu Lily kalau kau tertarik padanya." kata Giandra di selingi tawa kecil.
Kata kata itu membuat Reza tersenyum sembari menatap wajah ini, melihat deretan gigi yang putih teratur. Tapi senyumnya hanya sekejap. Jadi karena itu penyebab terbitnya senyuman manis di wajah cantik ini? batinnya.
Pengait helm lepas. Reza segera mengeluarkan benda itu dari kepala Giandra, mengalihkan perhatian karena tidak tahan dengan senyuman yang masih terpatri di sana.
"Terimakasih sudah mengantarku." kata Giandra.
"Kamu ada urusan apa di sini?"
"Aku mau menemui temanku. Dia sejak tadi menunggu. Kamu hati hati di jalan. Jangan ngebut kayak kemarin." kata Giandra kembali.
__ADS_1
Reza mengangguk. Naik motor dan meninggalkan Giandra. Setelah kepergian Reza, Giandra segera melangkah berlari menuju cafe yang tidak jauh dari situ. Dia masuk ke dalam toilet yang berada di dekat parkiran. 15 menit kemudian, dia keluar dengan pakaian yang berbeda. Dress mini selutut berwarna hitam. Wajah di permak sedikit dengan makeup.
Bersambung.