Anak Tiriku Sugar Babyku

Anak Tiriku Sugar Babyku
Bab. 21 Siapa dalang penyerangan Giandra?


__ADS_3

...Happy Reading....


Sementara di sebuah markas yang berada di dalam ruang bawah tanah. Sedang terjadi penyiksaan pada dua orang pria. Keadaan mereka yang memprihatinkan setelah mendapatkan berbagai bentuk penyiksaan. Wajah dan tubuh mereka yang babak belur bermandikan darah dan keringat. Kuku di cabut. Tangan terikat dan telapak tangan di tancap paku besar yang di tancapkan pada sebuah kayu.


Tapi meski telah mengalami banyak penyiksaan, kedua pria itu tetap tutup mulut. Tidak mudah mengambil informasi siapa yang berada di belakang mereka.


"Kau sudah mendapatkan informasi tentang mereka?" tanya seorang pria dengan tatapan dingin, auranya terlihat ingin membunuh, tapi tidak mengurangi ketampanannya.


"Mereka adalah bagian dari sekolompok preman jalanan. Tidak ada kaitannya dengan organisasi manapun." jawab anak buahnya.


"Lalu apa motif mereka melakukan penyerangan pada anak itu?"


"Maaf Tuan, sepertinya mereka melakukan perintah seseorang."


Wajah pria tampan itu mengernyit."Maksud mu mereka di bayar seseorang untuk menyerang Giandra?"


"Benar Tuan. Saya sudah mengintrogasi mereka, melakukan penyiksaan, tapi mereka tetap tutup mulut."


"F*ck....! Cari tahu siapa yang memerintahkan mereka."


"Baik Tuan. Saya akan menyelidikinya." Anak buah yang bernama Tom itu segera mengambil ponselnya dan menghubungi anak buahnya yang tersebar di jalanan ibu kota.


Yang di panggil Tuan berdiri dari kursi kebesarannya. Dia membuka kemeja putihnya yang bagian punggungnya sebagian berwana merah karena terkena darah, lalu duduk di sofa.


Tim, sang asisten, tanpa di perintah segera mengambil air bersih dalam wadah dan kotak obat yang memang sudah tersedia di ruang perawatan. Tim membersihkan darah di punggung putih kekar berotot. Lalu di bersihkan dengan alkohol, terus di jahit, terkahir di tutup dengan perban.


Pintu di ketuk, masuklah Tom anak buahnya sekaligus tangan kanannya.


"Tuan Leo."


"Kau sudah menemukannya?" tanya Leo tanpa menoleh, kedua tangannya sibuk mengancing kemeja.


"Mereka anak buah dari organisasi Barat."


Mata Leo memicing."Untuk apa organisasi menyerang Giandra? Apa Giandra punya masalah dengan mereka?"


"Tidak, sepertinya ada orang yang tidak menyukai Nona Giandra. Dan orang itu membayar organisasi barat untuk melukai Nona Giandra."


Aura wajah Leo sektika menggelap seakan ingin membunuh."Aku perintahkan cari orang itu dan bunuh!" perintahnya, dengan suara datar tatapan sangat dingin. Lalu dia segera keluar dari ruang kerjanya di ikuti Tim. Sang asisten itu berhenti sejenak, melihat Tom saudara kembarnya."Apa mereka sama?" tanyanya.


Tom menggeleng." Tidak."


"Jangan lengah lagi seperti dulu." kata Tim. Yang kembali di jawab anggukkan oleh Tom.


Tim segera menyusul tuannya dengan langkah cepat. Setelah sampai di mobil Tim membuka pintu mobil untuk Tuannya.

__ADS_1


"Kau tidak perlu mengantarku." kata Leo.


Tim mengangguk patuh. Leo segera duduk di belakang kemudi dan selanjutnya melarikan kenderaan dengan kecepatan penuh. Tim menuju mobil, naik dan ikut meninggalkan tempat itu.


Mansion.


Setelah sampai di rumah, Luka Giandra langsung di tangani dokter keluarga yang di datangkan oleh Fatmala. Dokter yang bernama Rish memberikan obat dan vitamin."Untung lukanya tidak terlalu dalam, hanya tergores. Obatnya di minum secara rutin. Minumnya mulai malam ini setelah makan. Besok sebelum ke sekolah perbannya di ganti." Kata dokter tampan itu di sertai senyuman manis.


"Baik dokter. Terimakasih." ucap Giandra tersenyum.


"Sama sama Giandra. Kamu semakin cantik dan manis bila tersenyum begitu." goda Rish lalu melirik Bibi Fatmala. Fatmala tak menanggapi hanya menatap dokter itu dengan tatapan penuh arti.


Giandra kembali tersenyum mendengar godaan itu."Dokter bisa aja."


"Hey, Nona, aku serius. Kamu sangat cantik. Aku tidak menyangka Regina memiliki anak gadis yang sangat Cantik." celetuk Rish


Giandra jadi tersipu malu.


"Nona, dokter Rish memang suka bercanda." kata Bibi Fatmala.


"Bibi Fatma benar, aku memang suka menggoda gadis gadis cantik seperti kamu." Rish masih dengan godaannya.


"Maaf dokter, Nona Giandra harus segera istrahat." kata Fatmala.


"Iya Bik, aku akan pergi dari rumah ini." kata Rish dengan wajah pura pura kesal. Dia menyimpan peralatan kedokterannya di tas kerja, lalu bangkit berdiri.


"Iya dokter, sekali lagi terima kasih." ucap Giandra.


"Mari dokter, saya antar ke depan." kata Fatmala sembari melangkah menuju pintu utama mengikuti langkah Rish.


"Bik, kenapa gadis itu mengingat aku kejadian 8 tahun lalu? Giandra bukan dia kan?" tanya Rish dengan suara rendah. Melirik sekilas pada Giandra yang sedang melihat obat.


"Saya pun berpikir begitu dokter. Tapi sepertinya, pemikiran kita salah."


Rish menatap Fatma dengan serius. Dia bahkan terlihat tegang."Senyumnya itu, senyum manisnya benar benar sama. Wajah cantik itu, tidak akan pernah saya lupakan! Giandra ____!"


"Dokter __hati hati di jalan. Semoga anda kembali dengan selamat sampai ke rumah." Fatmala segera memangkas ucapan Rish.


Rish menghela nafas panjang. Dia melirik sejenak pada Giandra, lalu beranjak pergi dengan pikiran yang berkecamuk teringat seseorang di masa lalu.


Waktu menunjukkan pukul 10. Regina belum kembali."Mungkin mama menginap di hotel bersama suaminya." gumam Giandra teringat Regina.


Pikirannya melayang pada adik adiknya di panti. Terutama pada Qinan dan Qenan yang saat ini berada di rumah sakit. Dia mengambil ponselnya dan melihat kembali notifikasi pesan pemberitahuan uang masuk sejumlah 240 juga. Kartu kredit Qenan dan Qinan yang dulu kosong kini berisi uang ratusan juta. Giandra sengaja tidak memberikan nomor rekeningnya tapi nomor rekening Qenan dan Qinan. Dia membuat nomor rekening panti atas nama Qeinan, jadi siapa saja yang ingin memberikan sumbangan pada panti akan langsung masuk ke nomor rekening Panti asuhan yang bernama Rismaharini. Dan yang memegang kartu itu adalah Bibi Rima sebagai ibu panti.


Giandra segera menghubungi Bik Rima. Tersambung dalam tiga panggilan."Assalamualaikum Bik,"

__ADS_1


"Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh. Gia_ ada apa nak?"


"Bagaimana Qenan dan Qinan?"


"Belum ada perubahan. Dan lebam merah di tubuh Qenan bertambah lagi."


Hati Giandra begitu miris mendengar perkataan Bik Rima.


"Aku sudah mendapatkan biaya pengobatan Qenan dan Qinan. Uangnya sudah masuk ke rekening Panti. Bibi bisa mengambilnya untuk biaya kemoterapi Qenan dan pengobatan Qinan, juga biaya kebutuhan hidup adik adik."


"Alhamdulillah ya Allah." ucapan rasa senang penuh syukur seketika keluar dari mulut Rima."Bibi akan segera menemui dokter."


Giandra tersenyum miris mendengarnya. Dia turut Senang, tapi juga sedih.


"Giandra, kamu mendapatkan uang dari mana nak? Apa mama mu yang memberikan?" tanya Rima.


"Tidak. Aku berusaha sendiri. Aku tidak bisa menceritakan sekarang. Nanti saja aku akan memberi tahu Bibi. Sekarang sebaiknya Bibi temui dokter."


"Iya Nak, bagaimana keadaan kamu di sana?"


"Aku baik. Bibi tidak perlu cemas. Oh ya bibi pasti sangat repot mengurus adik adik di panti seorang diri, belum lagi mengurus Qenan dan Qinan di rumah sakit. Sebaiknya Bibi cari orang untuk bisa bantu bantu Bibi."


"Itu tidak perlu Nak, bibi masih kuat dan sanggup mengurus anak anak. Dari pada uangnya di pakai untuk membayar orang mending di hemat untuk keperluan anak anak. Apalagi sudah tiga hari ini Bibi tidak jualan, tidak ada yang masuk."


"Bibi jangan khawatir, untuk biaya selanjutnya akan saya usahakan lagi. Aku tidak ingin Bibi sakit. Pakai dulu uang yang ada untuk keperluan adik adik dan panti. Aku tidak ingin adik adik putus sekolah." kata Giandra lirih.


"Selama proses perawatan pengobatan Qenan dan Qinan, bibi tidak perlu melakukan pekerjaan apapun selain fokus menemani Qinan dan Qenan di rumah sakit. Carilah dua orang untuk bantu bantu Bibi di panti. Aku tidak bisa pulang karena keadaan.Tapi nanti aku akan berusaha untuk pulang."


"Bibi mengerti dengan keadaan mu di sana. Bibi akan melakukan apa yang kau minta. Bibi akan mengajak Hindun dan Fatin untuk bantu bantu Bibi. Kata mereka walau hanya di gaji kecil mereka mau kerja di panti."


"Syukurlah. Kalau begitu ajak mereka saja! Nanti untuk biaya renovasi panti akan saya usahakan secepatnya." kata Giandra sendu, matanya seketika basah.


"Gia,kamu kenapa? Bibi merasa kamu sedang tidak baik. Ada apa Nak?"


"Gak apa apa Bik, aku hanya sedih karena tidak bisa menemani Qinan dan Qenan. Padahal mereka sedang sakit keras dan sangat membutuhkan aku."


"Qenan dan Qinan memang beberapa kali menanyakan dirimu, terutama Qinan yang selalu mimpi buruk dan berhalusinasi memanggil kamu dalam tidurnya. Tapi bibi sudah menjelaskan kalau untuk sementara kamu pindah sekolah, dan akan pulang jika libur. Alhamdulillah Qinan bisa menerima alasan yang Bibi berikan, meski bibirnya masih menyebut namamu! Kamu tidak perlu khawatir,"


"Saya akan usahakan akan pulang akhir pekan."


"Bibi senang mendengarnya, tapi bibi juga tidak ingin kamu mendapat masalah yang akan membuat Regina murka. Bibi tidak ingin dia menyakitimu."


"Nanti aku akan pikirkan caranya, pasti ada jalan untuk ku bisa pulang tanpa sepengetahuan mama! Sudah dulu ya Bik, jika ada apa apa dengan adik adik, terutama Qenan dan Qinan, segera hubungi aku. Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam." telepon berakhir. Rima masih terpaku di tempatnya. Memikirkan uang yang di katakan Giandra. Dari mana Giandra mendapatkan uang banyak untuk biaya pengobatan Qenan dan Qinan dan juga untuk biaya kebutuhan anak anak panti? Semoga saja anak itu tidak mengambil jalan pintas. Dan bagi orang yang telah membantu Giandra, Rima berdoa agar orang itu di lipat gandakan rezekinya.

__ADS_1


...Bersambung....


__ADS_2