
...Happy Reading....
Gadis yang di lihat oleh Nathan melangkah masuk ke dalam halaman sekolah berbaur dengan siswi lainnya. Sementara Nathan segera meninggalkan tempat itu menuju ke perusahaan. Dalam perjalanan dia menghubungi seseorang."Selidik gadis itu."
Giandra memasuki ruang kelas. Dia langsung di sambut Icha dan Lala. Kedua gadis itu terkejut melihat perban di tangan Giandra.
"Tangan kamu kenapa Gia?" tanya Lala mengamati perban. Sama halnya dengan Icha. Dia menyentuh perban dengan lembut.
"Terluka!" jawab Giandra singkat. Dia melepas tas dan di letakkan di atas meja. Kemudian duduk.
"Kenapa bisa terluka?" kedua temannya itu juga ikut duduk dengan bangku di hadapkan pada Giandra.
"Aku kena musibah semalam." kata Giandra.
Icha dan Lala terkejut."Musibah apa?"
"Aku di serang orang." jawab Giandra dengan suara rendah agar tidak terdengar yang lainnya.
Icha dan Lala terbelalak." Apa? di serang orang?" kata mereka dengan suara meninggi tanpa sadar.
"Ssst__!" Giandra meletakkan jari telunjuk di bibir."Jangan keras keras." katanya, bertepatan masuklah Jesika. Dia menempati kursi belakang sejajar Giandra tapi di sudut kiri, kelompok 4. Beberapa siswa menyapanya, tapi di cuekin oleh ketua Tim Cheerleader sekolah ini. Siswa yang berada diruang ini kaget dengan kehadirannya di kelas ini.
"Hay Jes, kamu pindah kelas sini?" tanya seorang siswi.
"Iya, aku di pindahkan ke sini," jawab Jesika seraya melirik Giandra. Dia segera duduk dan meletakkan tas di atas meja. Giandra Icha dan Lala ikut melihat ke arahnya.
"Kok bisa kamu di serang orang?" tanya Lala setelah membawa pandangannya pada Giandra.
"Aku jadi nyesel ninggalin kamu semalam. Seharusnya kita temani Lo sampai jemputan Lo tiba." timpal Icha dengan raut wajah menyesal. Lala mengangguk membenarkan."Cerita dong kenapa kamu sampai di serang oleh orang jahat itu?" desak keduanya. Akhirnya Giandra menceritakan kejadian semalam, membuat kedua gadis itu kembali terkejut. Apalagi kejadian beberapa menit setelah mereka pergi.
"Semoga yang jahatin kamu akan dapat balasan setimpal." Doa Lala buruk.
"Aamiin. Dan balasannya lebih buruk dari yang dia berikan padamu." Icha mengaminkan.
"Gak boleh begitu. Doakan saja mereka sadar dan tidak akan berbuat jahat lagi." kata Giandra.
"Karma itu selalu ada Gia, biar kita gak doa yang buruk, Allah pasti balas." kata Lala.
"Iya, tapi biarkan saja Allah yang balas, gak perlu di doakan. Lagian lukanya juga hanya tergores dan sudah mulai mengering!" kata Giandra tersenyum.
"Ish kau ini, jangan terlalu baik sama orang." desis Icha.
Dan obrolan mereka itu terdengar oleh telinga Jesika.
"Ngomong ngomong, kalian udah ngantar tugas pak Haris ke dewan guru?" tanya Giandra mengalihkan pembicaraan.
__ADS_1
"Belum. Kita lagi nungguin kamu." kata Icha.
"Ya udah, ayo kita pergi, sebelum keburu jam tujuh! Sekalian juga tugas pak Kris biar gak bolak-balik dewan guru." ajak Giandra. Ketiganya segera mengeluarkan kertas tugas pak Haris dan pak Kris dari dalam tas. Lalu beranjak hendak melangkah keluar. Di depan pintu mereka berpapasan dengan Reza yang mau masuk. Ketiganya berhenti karena Reza menghalangi jalan mereka.
"Kita mau nganter tugas pak Haris dan pak Kris. Tugas mu udah selesai belum?" kata Icha sekaligus bertanya.
Reza tak menjawab, tapi membawa pandangannya pada tangan Giandra yang terluka. Dia mengamati beberapa saat.
"Tangan Giandra terluka. Semalam dia di serang oleh orang jahat." Lala tiba tiba saja ngomong.
Reza membawa pandangannya ke wajah Giandra."Aku baik baik saja." kata Giandra seolah mengerti arti tatapan Reza."Kami ke dewan guru dulu. Tugas mu udah selesai?" tanya Giandra dengan suara rendah.
Jesika tiba tiba muncul di depan mereka."Ini aku sudah kerjakan tugas Reza, sekalian kalian antar ke dewan guru." katanya seraya menyerahkan dua lembar kertas dins berisi tugas Reza. Giandra segera menerimanya."Dan ini, sekalian tugas aku juga kasih ke pak Haris dan pak Kris." sambung Jesika menyodorkan kertas yang lain, merupakan tugasnya. Dia dapat informasi kalau mereka di beri tugas.
"Anter sendiri. Kamu gak punya kaki?" kata Lala ketus.
"Nyuruh seenak jidat kak pake minta tolong lagi." sambung Icha ketus.
"Baik," Giandra segera menerima kertas tugas Jesika. Lalu menarik kedua tangan temannya.
"Enak saja nyuruh nyuruh. Emangnya kita kacungnya?" kata Icha kesal dalam langkah mereka.
"Sudah. Dia nyuruh aku bukan kalian." kata Giandra.
"Kamu jangan mau aja di suruh sama dia, nanti kebiasaan dia!" Icha masih ketus.
"Tetap saja kita gak suka dia nyuruh nyuruh orang semaunya! Menyebalkan sekali." gerutu Icha.
"Kalian kok kayak gak suka sama Jesika?" tanya Giandra heran."Dia sombong dan suka semena-mena pada siswa yang lemah. Banyak siswa di sekolah ini takut padanya. Aku gak suka sama dia! Gue terpaksa jadi anggota Cheerleader karena di paksa sama ibu Lily." jelas Icha.
"Tapi Tunggu __ kenapa dia bisa pindah ke kelas kita?" tanya Lala menghadang jalan Icha dan Giandra dengan berhenti tiba-tiba di depan keduanya.
"Iya, aku juga heran!" timpal Icha dengan alis mengerut.
"Sudah, ngapain jadi pikiran kalina? Itu urusannya. Sebaiknya kita segera ke dewan guru, 10 menit lagi jam tujuh!" Giandra menarik tangan mereka.
Selesai mengantar tugas bel tanda masuk kelas berbunyi. Semua siswa masuk ke kelas masing-masing termasuk Giandra, Lala dan Icha. Mereka duduk di tempat masing-masing. Jesika masuk belakangan. Dia menuju tempat duduknya sambil melihat ke kursi Reza yang kosong. Begitu dia duduk, Giandra mendekatinya. Giandra meletakkan dua kertas tugas Reza."Kata Pak Haris dan pak Kris, Reza sudah memasukkan tugasnya!" katanya ramah. Dia tersenyum sekilas lalu kembali ke tempat duduknya. Jesika menatapnya tajam sambil merungut kesal karena Reza selalu menolak segala bentuk kepedulian dan kebaikannya. Sudah lama dia menyukai Reza dan mencari perhatian laki laki itu, tapi Reza susah sekali di dekati dan malah terus menghindarinya. Tapi terhadap Giandra Reza terlihat peduli dan perhatian, padahal Giandra murid baru kemarin.
Saat duduk, ponsel Giandra bergetar. Giandra segera melihat siapa yang mengirim pesan. Mr. L."Apa pelajarannya sudah di mulai?"
Giandra panik, jantungnya berdegup. Dia segera mematikan layar hp khawatir di lihat Lala dan Icha.
"La, Cha, aku keluar sebentar, mau menghubungi seseorang." pamitnya pada
Lala dan Icha.
__ADS_1
"Iya, cepat sedikit sebelum guru olahraga datang." kata Icha. Gia mengangguk dan segera beranjak dari tempat duduknya, lalu keluar. Giandra menjauh sedikit dari pintu kelas, lalu menyalakan layar hp dan membuka aplikasi WhatsApp.
Giandra: Belun Tuan, kebetulan gurunya belum datang.__send.
Mr.L: Malam ini kita bertemu. Datanglah ke hotel X kamar nomor (sekian) jam 9."
Deg ___ Nafas Giandra berhenti berdetak sekilas. Tubuhnya melemah seketika, kedua tangannya gemetar. Akhirnya pernjanjian kontrak ini datang juga, Mr. L meminta untuk bertemu, batinnya merasa takut.
Giandra: Baik Tuan, tapi bisakah aku terlambat sedikit? Setengah sepuluh aku ke sana__send.
Mr.L : Kenapa?"
Giandra: Aku masih ada urusan sampai jam 9.__send.
Mr.L : Baik. Kau tahu hotelnya?"
Giandra: Tahu Tuan."
Mr.L: Oke, aku tunggu. Selamat belajar mawar."
Cairan bening menggenangi kelopak matanya. Kedua tangannya gemetar hebat, sampai sampai ponselnya terlepas dari genggamannya. Tubuhnya terasa sangat lemah, tulang kakinya seakan tidak bersambungan. Dia hampir jatuh jika seseorang tidak menangkap tubuhnya dengan cepat.
"Giandra?" suara itu mengagetkannya Giandra. Dia melihat siapa orang yang menahan tubuhnya."REZA?!" secepatnya Giandra menekan kedua matanya yang basah. Lalu melepas kedua tangan Reza di pinggangnya.
Reza memungut ponsel Giandra di lantai. Giandra langsung menyambar benda itu dari tangan Reza. Membuat Reza terkejut."Kamu kenapa Giandra?" menatap wajah sembab Giandra.
"Emmm, tidak __!" Giandra langsung mengulas senyum. Tapi Reza tahu itu bohong. Dia memperhatikan Giandra dari jauh sedang berbalas chat entah dengan siapa. Raut wajah Giandra yang campur aduk antara tegang, terkejut dan sedih terlihat jelas. Bahkan terlihat jelas kedua tangan Giandra yang gemetar saat menulis. Dan Giandra hampir jatuh jika dia tidak cepat menahan.
"Sebenarnya siapa yang yang berbalas pesan dengannya?" batin Reza.
Sementara dari pintu kelas sepasang mata menatap penuh kebencian dan amarah pada mereka. Lalu pemilik mata itu masuk ke dalam kelas.
"Reza, Maaf, aku lupa membawa jaket dan ponselmu." kata Giandra. Padahal dia ingat ingat terus untuk membawa kedua benda itu, tapi malah kelupaan.
Tak ada tanggapan, hanya tatapan dari Reza.
"Kenapa kau sampai di serang?" menyentuh perban luka Giandra.
"Aku tidak tahu. Saat itu aku sedang menunggu jemputan. Tiba tiba saja ada yang menyerang. Mereka dua orang. Luka ini hanya luka kecil, dan jika saja pria itu tidak datang menyelamatkanku, maka luka lebih besar dari ini yang ku dapatkan."
"Pria siapa?" dahi Reza mengerut.
"Ada yang nolong aku saat itu. Tapi aku gak tahu siapa. Aku gak sempet lihat wajahnya karena terlalu panik, takut melihat luka ini. Mungkin masyarakat di sekitar situ atau pemakai jalan yang saat itu berada dekat dengan tempat kejadian. Dia menarik ku, terus meluk lindungi aku, hingga Hujaman pisau dari penjahat itu menancap di punggungnya." kata Giandra meringis membayangkan kejadian itu.
"Lupakan kejadian buruk itu. Jangan di ingat atau di bayangkan. Yang penting kamu baik baik saja. Semoga kejadian seperti itu tidak akan menimpamu lagi." kata Reza tidak ingin membuat Giandra kepikiran terus pada kejadian buruk itu. Giandra mengangguk. Lalu keduanya segera masuk ke dalam kelas karena melihat guru olahraga sedang menuju kelas.
__ADS_1
...Bersambung....