
...Happy Reading....
Jam istrahat telah tiba.
"Cantik." satu kata kekaguman keluar dari mulut seorang siswa laki laki yang berada di sudut kantin sekolah, memuji kecantikan wajah Giandra, Lexi Alexander.
"Kau benar, dadanya juga besar." sela seorang siswa satunya, Kinos.
"Penampilannya cupu dan kampungan, tapi malah membuatnya Keren dan manis." kata yang satunya lagi dengan genit, Kimmy. Ketiganya sejak tadi memperhatikan Giandra yang sedang menikmati makanan siangnya bersama Lala dan Icha.
"Lebih cantik dari cewek Loe Lex. Dadanya juga gak kalah besar dari Salsa." lanjut Kimmy kembali.
"Gue pasti akan mendapatkannya." kata Lexi percaya diri. Dia idola wanita di sekolah ini.
Semua siswa-siswi mengagumi ketampanannya, tubuhnya yang atletis proposional. Hampir semua siswi menyukainya dan ingin menjadi pacarnya, meski dia seorang bajingan yang suka gonta-ganti pasangan untuk pelampiasan hasratnya. Terlebih lagi dia memiliki uang banyak, orang tua kaya raya dan cukup berpengaruh. Dengan uang dan kelebihan yang dia miliki tentu banyak perempuan ingin menjadi wanitanya dan tidak akan menolak rayuannya. Meski berhubungan dengan Salsa dan menjadikan wanita itu pemuas hasrat di atas ranjang, dia tetap berhubungan dengan wanita lain. Tapi meski begitu, dia tetap mengakui kehebatan permainan ranjang Salsa yang selalu membuatnya puas dan tidak mengecewakan, karena itu dia tetap mempertahankan Salsa.
"Yakin Loe?" tanya Kimmy.
"Ya iyalah, yakin banget! Wanita mana yang dapat menolak pesona seorang Lexi Alexander? Gak ada satu pun siswi di sekolah ini yang gak mau jadi wanita gue. Mereka malah sukarela ingin jadi penghangat ranjang gue." kata Lexi dengan kepercayaan diri penuh, senyum sinis.
"Tapi gue yakin, siswi baru itu beda dari wanita wanita yang ngejar Loe. Dia kelihatannya kalem dan cuek." kata Kimmy kembali.
"Yoi, orangnya pendiam. Lihat aja tuh, dia bahkan gak ngelirik Loe sama sekali. Padahal kita sejak tadi di sini." timpal Kinos meledek.
"Kalian meremehkan aku?" Lexi tidak senang,
wajahnya memerah menahan emosi.
"Bukan begitu Bro. Jangan marah. Loe ini mudah emosi!" kekeh Kimmy seraya mengelus lengan bos nya ini agar tidak marah.
Tapi Lexi sudah terlanjur emosi. Dia adalah tipe orang yang semua keinginannya harus terpenuhi, termasuk keinginannya untuk mendapatkan Giandra. Apalagi jika ada orang yang meremehkan dirinya, maka keinginan untuk mendapatkan sesuatu semakin kuat. Karena itu tantangan buat dia.
"Udah tenang bro, kita bercanda kok, Loe pasti akan mendapatkan siswi baru cantik dan manis itu." Kinos beralih mendukung Lexi karena tidak ingin terkena imbas kemarahan.
"Benar, Loe sangat tampan, kuat, perkasa dan banyak duit. Semua wanita pasti takluk sama Loe." bujuk Kimmy senyum senyum penuh kepalsuan.
"Cihh__!" Lexi mengumpat mereka, setelah tadi meremehkan dan meledeknya sekarang malah mendukung dan memujinya.
Kedua sahabatnya itu nyengir kuda.
Lexi kembali melihat pada Giandra yang saat itu sedang tersenyum sambil memperbaiki kaca matanya yang melorot, wajah itu terlihat sangat manis dan semakin cantik tak kala tersenyum karena ledekan Lala.
"Sangat manis." Gumamnya tanpa sadar.
"Benar, gue yakin tubuhnya pasti masih fresh dan tersegel, belum terjamah." ucap Kimmy melihat dua bongkahan besar milik Giandra. Dia bahkan sampai menelan ludah.
Ucapannya itu membuat Lexi semakin ingin untuk mendapatkan Giandra. Matanya tak lepas dari dada dan bokong Giandra yang besar, dia bahkan berimajinasi sedang menikmati kedua bagian itu, hingga tak sadar membuat miliknya tegang."Gue pasti akan mendapatkannya. Secepatnya gue akan mendapatkannya. Gue tak sabar untuk menikmati setiap bagian tubuhnya yang molek! Jika gue gak bisa memilikinya maka mobil gue milik kalian." katanya kemudian. Membuat Kimmy dan Kinos terperangah.
"Maksud Lo mobil sport Loe itu?" tanya Kimmy.
"Serius Loe?" Kinos juga ingin meyakinkan. Pasalnya mobil sport itu adalah mobil kebanggaan Lexi dan harganya sangat mahal. Selalu di pakai di dalam setiap pertandingan balap mobil. Beberapa kali kedua mobil itu di pakai dalam taruhan balapan dan menjadi incaran lawannya, tapi tak ada satupun yang dapat merebut karena Lexi selalu menang dan tidak terkalahkan. Termasuk dia dan Kimmy sangat ingin memiliki tunggangan mewah bos mereka itu.
"Sejak kapan seorang Lexi main main dalam soal taruhan?" kata Lexi penuh percaya diri tanpa mengalihkan pandangannya dari Giandra. Tapi kemudian dia memutar lehernya melihat kedua teman setianya ini." Tapi jika kalian kalah, maka kalian berdua akan menjadi kacung gue seumur hidup."
"Deal." kata Kinos dan Kimmy kompak tanpa di komando, karena sangat ingin memiliki mobil sport itu.
"Cih, ternyata kalian sangat ingin memiliki mobil ku." cibir Lexi kesal yang langsung di tanggapi nyengir kuda oleh Kimmy dan Kinos.
"Banyak banget tugasnya." keluh Lala.
"Benar, gue nggak ngerti sepenuhnya tugas pak Haris." Icha ikut mengeluh.
"Giandra, kerja bareng yuk! Gue lihat tadi di kelas, Loe ngerti semua contoh soal pak Haris dan Bu Lina. Loe pasti bisa mengerjakan tugas tugas dari mereka." kata Lala. Karena waktu di kelas tadi, Giandra sala satu siswa yang bisa menjawab ke pertanyaan ke dua guru itu.
"Iya, benar. Bagaimana kalau kita kerja bersama? Boleh ya Giandra?" Icha ikut meminta.
"Tentu boleh." kata Giandra sambil mengangguk. Bertepatan dengan ponselnya bergetar. Giandra segera merogoh benda tersebut dari saku kemejanya. Terlihat nama Bik Rima pada layar ponsel.
__ADS_1
"Bentar ya, aku terima telepon dulu." katanya pada Lala dan Icha.
"Silahkan Giandra." kata Icha.
Giandra segera keluar dari kantin di iringi tatapan mata Lexi Kinos dan Kimmy. Lexi segera berdiri.
"Kemana Loe?" tanya Kinos, tapi tidak di tanggapi. Terpaksa kedua kacung itu mengikuti bosnya.
Giandra pergi ke arah lapangan basket yang berada di dekat kantin, agar lebih leluasa dan aman berbicara dengan Rima. Ada beberapa siswa yang sedang bermain basket.
"Ada Bik?" tanya Giandra setelah mengangkat telepon.
"Apa bibi menggaggu mu?"
"Tidak Bik, kebetulan sekarang lagi waktu istirahat. Ada apa Bik? Apa adik adik baik baik saja?" tanyanya tidak tenang. Sejak melihat nama Rima memanggil di layar ponselnya, Jantungnya berdebar tidak tenang. Khawatir terjadi sesuatu yang buruk di panti.
"Qenan drop lagi. Dia pingsan Gia!" suara lemah Rima dari seberang.
"Astaghfirullah, kok bisa Bik?" Giandra kaget dan menekan dadanya yang terasa sesak.
"Hidungnya mengeluarkan darah lagi. Bibi segera membawanya ke rumah sakit karena dia tak kunjung sadar."
"Ya Allah!" tubuh Giandra lemas seketika. Cairan bening seketika menggenangi kelopak matanya. Dadanya semakin sesak.
"Dokter menyarankan untuk di rawat di rumah sakit. Sementara kita berdua tahu, tidak semua biaya pengobatan Qenan di tanggung jaminan kesehatan. Bibi bingung harus bagaimana, jadi bibi menghubungi mu."
"Apa tidak boleh di rawat di rumah saja Bik?"
"Kondisi Qenan semakin menurun dan tidak boleh hanya melakukan perawatan jalan. Dia harus dalam penanganan dokter dan alat alat medis 1x24 jam. Bahkan dokter menyarankan untuk kembali melakukan kemoterapi."
"Ya Allah." tubuh Giandra semakin lemah bahkan kedua tangannya gemetar.
"Qinan demamnya sudah turun, tapi dia terus berhalusinasi. Tubuhnya pucat dan semakin lemah karena tidak ada makanan yang masuk. Dokter menyarankan untuk rawat inap agar dia dapat melakukan transfusi makanan. Bibi sungguh tidak tega melihat anak anak itu!" suara sendu serak Rima membuat air mata Giandra jatuh. Dia dapat merasakan bagaimana menderitanya anak anak itu menahan kesakitan. Giandra benci pada dirinya karena tidak bisa melakukan apapun untuk meringankan rasa sakit anak anak malang itu. Yang tidak pernah mengeluh, sabar dan Ikhlas menikmati penyakit yang mereka derita. Bahkan kedua anak itu pasrah jika tuhan mengambil nyawa mereka.
Giandra terisak-isak dengan bahu terguncang karena menekan tangisnya agar tidak keluar.
Ya Allah, ya Allah ya Allah, Astaghfirullah. Kata kata itu tak henti di ucapkan di hatinya untuk menguatkannya. Dia semakin kuat menekan dadanya yang terasa sesak dan sakit. Air matanya semakin banyak mengalir.
"Kamu jangan sedih dan khawatir. Bibi akan mencoba cari pinjaman lagi. Kita harus tetap berusaha. Pasti ada jalan yang Allah berikan." kata Rima menguatkan meski wanita itu merasakan hal sama seperti Giandra.
"Iya Bik, aku akan mencoba berusaha di sini. Tolong jaga Qenan dan Qinan. Bibi juga jaga kesehatan. Nanti aku akan menghubungi Bibi." kata Giandra. Lalu mematikan telepon, menyimpan di saku kemeja. Dia melap pipinya yang basah. Untung saja dia menggunakan kacamata jadi tak ada yang tahu kalau saat ini matanya lagi sembab dan merah.
...Bersambung...
...Happy Reading....
Giandra masih bengong di tempatnya memikirkan adik adiknya dan bagaimana cara mendapatkan biaya buat pengobatan mereka. Dia tidak sadar sesuatu sedang melayang ke arahnya, yaitu bola basket. Tapi ketikan benda itu semakin mendekati wajahnya, dia menyadari dan terkejut bukan main. Saking paniknya tidak sempat menghindar, dan berpikir apa pun. Dia memekik keras dan pasrah. Tapi sebelum benda itu menghantam wajahnya, seseorang menariknya dengan cepat sehingga wajahnya batal berciuman dengan si kulit bundar itu.
Jantung Giandra berdegup kencang. Panik, takut, gemetar yang di rasakan saat ini menjadi satu.
"Kau tidak apa apa?"
Suara pertanyaan itu membuat Giandra tersadar dengan keadaan. Dia terkejut setelah menyadari bahwa saat ini tubuhnya berada dalam dekapan seseorang. Wajahnya terbenam di dada seseorang. Giandra seketika mendongak ke atas. Mata indahnya membulat melihat wajah seseorang di atas sana yang juga sedang menatapnya dengan cemas. Kembali tersadar dengan keadaan, Giandra segera menarik diri dari dekapan laki laki itu tanpa beralih dari wajah tampan berkeringat. Bukan hanya wajahnya yang berkeringat tapi seluruh tubuhnya yang terbungkus seragam olahraga basket celana pendek, kous tanpa lengan yang bertuliskan nama sekolah ini.
Pria yang merupakan salah satu siswa di sekolah ini segera meraih bola yang hampir menghantam Giandra tadi. Matanya menatap tajam ke sayap kiri tribun, ke arah di mana Kimmy dan Kinos berada, yang tampak terlihat kesal karena usaha mereka untuk membantu sang bos gagal.
Siswa bertubuh atletis, kulit putih dengan tinggi 185 cm itu mendribble bola ke tengah lapangan, lalu melompat dengan lincah seraya melempar bola ke arah Ring__Masuk. Terdengar tepukan dari siswa siswi yang sedang duduk, menonton di tribun. Giandra pun terpukau, takjub melihatnya memasukkan bola ke ring dengan mudah.
"Dia Kapten Tim basket sekolah ini." kata Lala membuat Giandra kaget.
"Namanya Reza Pratama." sambung Icha. Kedua teman barunya itu membuat Giandra kaget karena muncul tiba-tiba. Keduanya mengambil tempat duduk di samping kiri kanan Giandra.
"Beruntung banget Lo bisa di peluk sama dia. Bagaimana bau keringatnya? Wangi bukan?" Celetuk Icha senyum senyum dengan kening berkedip kedip. Mereka yang melihat Giandra berada dalam dekapan Reza tadi.
"Dia sangat tampan bukan? Binar mata kami bercahaya jika melihat wajah tampannya." Celetuk Lala dengan senyumnya."Giandra, Mimpi apa Loe semalam?"
Dahi Giandra mengerut bingung dengan pertanyaan itu.
__ADS_1
"Pasti mimpi indah, buktinya hari ini Loe mendapatkan kejadian yang menyenangkan. Bisa merasakan pelukan hangat dan mencium aroma wangi kapten kita." kata Icha kembali dengan senyuman yang menggoda.
Wajah Giandra kembali mengernyit, lalu gelang geleng kepala mendengar perkataan yang menurutnya gila dan konyol ini.
"Loe tahu nggak, Reza tuh idola wanita di sekolah ini. Banyak yang ngefans padanya, dan ingin menjadi pacarnya, termasuk aku dan Icha. Tapi tak ada satupun yang menarik hatinya. Orangnya terlalu dingin." Celetuk Lala.
"Kalian sudah selesai makan?" tanya Giandra alih alih menanggapi perkataan mereka tentang Reza, sang kapten Tim Basket sekolah ini. Dia tidak menyangka kedua temannya ini begitu tergila gila pada Reza.
"Udah, makanya kita nyusul Loe ke sini."
"Tapi makanan ku belum di bayar."
"Udah kita bayar kok, tenang aja."
"Terimakasih ya, nanti aku ganti uang Kalian." Giandra hendak mengambil uang di saku rok, tapi tangannya di tahan Lala.
"Gak usah. Anggap traktiran kita ke Loe sebagai siswa baru di sekolah ini dan juga sebagai pertemanan kita." kata Lala yang ikut di angguk'in Icha.
Giandra tersenyum haru."Terimakasih ya __!"
"Sama sama Giandra." Icha dan Lala balas tersenyum.
Tepukan tangan yang menggema di udara membuat mereka kembali fokus ke lapangan.
"Reza _ Reza _Reza_ Reza!" terdengar teriakan seorang siswi menyerukan nama Reza, lalu diikuti siswa lainnya.
"Kalau dia, Jesika. Ketua Tim Cheerleader." kata Icha melihat pandangan Giandra beralih pada gadis yang menyerukan nama Reza tadi.
"Dia menyukai Reza, dan keduanya dekat. Tapi keduanya belum jadian. Karena beredar gosip kalau Reza tidak menanggapi perasaan Jesika. Dan Jesika tidak mau menyerah begitu saja. Dia akan terus berjuang memiliki Reza."
"Dan aku gak menyangka kalian berdua ternyata tukang gosip." kekeh Giandra yang langsung di sambut tawa lepas oleh Icha dan Lala.
"Gosip itu hiburan Gia, hidup itu perlu hiburan biar gak membosankan!" kekeh Icha.
"Bukan hiburan tapi Dosa!" kata Giandra membuat wajah Lala dan Icha meringis.
"Tahu gak, Gosip itu di buat oleh orang Iri, di sebarkan oleh orang Bodoh, dan di terima dengan baik oleh orang yang Idiot." kekeh Giandra.
"Jadi kau mengatakan kami bodoh dan idiot?" Icha dan Lala menatapnya tajam dan kesal.
Tawa Giandra pecah dan lepas, melihat wajah cemberut keduanya yang menggemaskan. Cukup keras suara tawanya hingga menarik perhatian sang kapten. Wajah yang tadi di lihatnya sangat mendung kini berbinar ceria.
"Wajah kalian benar benar lucu dan menggemaskan Baby!" ledek Giandra.
"Giandraaaaa__!" teriak Icha dan Lala semakin kesal dengan ledekan itu. Giandra seketika berdiri dan lari menghindar pukulan ke dua teman barunya. Icha dan Lala segera mengejarnya. Ketiganya berlarian kejar mengejar menuruni tribun. Dan tidak sengaja Giandra menabrak seseorang. Giandra kaget, begitu juga dengan orang yang di tabrak yang merupakan murid laki laki. Es krim yang dipegangnya jatuh ke lantai dan mengena di celana dan sepatunya.
"Maaf, aku gak sengaja." kata Giandra panik. Reflek dia menurunkan tubuhnya dan membersihkan lelehan es krim di celana dan sepatu pria itu mengunakan telapak tangan. Lexi yang memang sengaja membuat drama penabrakan ini ikut menurunkan tubuhnya."Tidak apa apa __ tidak perlu di bersih kan." memegangi bahu Giandra untuk berdiri."Berdirilah, tidak usah di bersihkan."
Giandra segera berdiri mengikuti tarikan ke dua tangan Lexi di bahunya. Tapi kemudian dia segera mundur menghindari tangan Lexi. Kejadian buruk di hotel kemarin membuatnya trauma untuk bersentuhan dengan laki laki. "Aku benar benar tidak sengaja." ucap Giandra kembali dengan wajah memelas.
Lala dan Icha juga kaget melihat celana dan sepatu Lexi yang kotor.
"Ya ampun, celana dan sepatu kamu kotor Lexi. Maafkan Giandra, dia tidak sengaja." kata Icha.m, wajahnya tampak takut.
"Iya, ini bukan hanya kesalahan Giandra, tapi kami bertiga. Ini gara gara kita yang mengejarnya. Seharusnya kita gak berlari kejar kejaran di sini." sela Lala ikut merasa bersalah.
Lexi segera mengulas senyum manis yang membuat wajahnya semakin tampan, di mata siswi lain. Tapi tidak di mata Giandra, karena saat ini Giandra hanya fokus di rasa bersalah karena menabrak serta membuat celana dan sepatu Lexi kotor.
"Kalian tidak perlu merasa bersalah begitu. Ini kan tidak sengaja. Sudahlah __ !" kata Lexi dengan suara rendah bahkan terdengar lembut.
"Kamu gak marah?" tanya Lala heran, sama halnya dengan Icha. Karena mereka berdua tahu, bahkan seluruh penghuni sekolah ini tau temperamen buruk Lexi. Pria kasar dan arogan meski pada wanita. Dia bahkan suka melakukan perundungan dan bullying pada siswa lemah. Sebagian siswa di sekolah ini takut padanya dan tidak mau mencari masalah.
Jadi sikap baiknya ini membuat Icha, Lala serta beberapa siswa yang berada di situ melihat sikap baiknya heran dan bingung.
...Bersambung....
Jangan lupa jejak dukungan ya, like komen positif, vote, hadiah kopi, subscribe, dan bintang lima. Terimakasih
__ADS_1