Anak Tiriku Sugar Babyku

Anak Tiriku Sugar Babyku
Bab. 6 Sekolah Baru & Teman Baru


__ADS_3

Pagi hari.


Terdengar ketukan di pintu kamar Giandra."Nona, Tuan Dam meminta anda turun untuk sarapan."


"Sebentar Bik." Giandra menatap pantulan tubuhnya pada cermin di depan. Mengenakan seragam SMA lengkap. Kemeja putih, rok selutut, sepatu putih kous kaki putih sebatas betis, tak lupa dasi yang melingkar pada kerah kemeja. Dia mengucir pendek rambutnya yang di buat bergelombang, poni bergelombang sebatas kening dan kaca mata lensa kotak warna coffee. Dia seperti gadis kampungan dan cupu, tapi penampilan itu malah membuatnya terlihat Keren dan semakin cantik.


Meletakkan tas di punggung, Giandra segera keluar dari kamarnya.


Fatmala tak berkedip melihat wajahnya. Wajah cantik ini mengingatkan dia pada seseorang di masa lalu. Sama persis mengenakan seragam sekolah seperti ini.


"Ada apa Bik?" tanya Giandra merasa aneh di perhatikan.


"Tidak ada apa apa Non. Bibi hanya pangling saja melihat wajah cantik ini." kata Fatmala tersenyum.


Giandra jadi tersipu malu."Aku gak terlihat cupu kan Bik?" tanyanya di sela melangkah. Mereka melewati kamar Regina yang tertutup. "Malah terlihat Keren Non." Fatmala tersenyum.


Giandra kembali tersenyum kikuk."Tapi kemeja ini kekecilan di tubuhku. Boleh Bibi siapkan yang lebih besar dari ukuran ini?"


Fatmala melihat kemeja yang melekat di tubuh Giandra. Sebenernya kemeja ini sudah pas di tubuh Giandra, hanya saja dia memiliki dada yang besar. Kedua buahnya tercetak jelas membuat Giandra tidak nyaman.


"Baik Non, nanti sebentar Bibi akan pesankan." kata Fatmala.


"Terimakasih Bik, maaf merepotkan."


"Tidak sama sekali. Ini sudah tugas bibi. Jangan sungkan untuk mengatakan apa yang Nona butuh kan."


"Iya Bik, terimakasih!"


Keduanya turun ke bawah menggunakan lift. Sampai di bawah menuju ruang makan. Di meja makan sudah ada Opa Dam, Oma Dian, juga Regina.


"Cucu Oma benar benar cantik!" puji Oma Dian ketika Giandra tiba di depan mereka.


Giandra tersipu."Selamat pagi Oma, Opa." menyapa.


"Selamat pagi. Mari duduk, sarapan dulu sebelum ke sekolah." kata Opa Dam.


Giandra melihat pada Regina yang santai menyantap sarapannya, entah dia menyapa wanita ini atau tidak? Karena tak ada di bahas dalam kontrak perjanjian. Tapi demi untuk menghormati wanita yang telah melahirkannya ini di depan Dam dan Dian, dia pun menyapa."Selamat pagi Ma."


"Pagi __" jawab Regina acuh tak acuh.


Giandra segera duduk di dekat Opa Dam.


Fatmala menuangkan susu ke dalam gelas Giandra.

__ADS_1


Giandra terpaku menatap makanan dan minuman mewah ini. Yang tidak pernah dia rasakan. Sebenarnya dia beberapa kali menikmati makanan mewah seperti ini saat acara ulang tahun Hotel tempat dia bekerja dulu. Melihat makanan mewah ini membuat Giandra teringat adik adik panti. Yang setiap hari makan apa adanya, bahkan terkadang hanya makan dua kali sehari tapi tidak pernah mengeluh. Bahkan jika kekurangan makanan, sebagian anak anak yang lebih besar memilih untuk berpuasa agar bisa mengirit makanan.


"Bagaimana tidur mu semalam, apa nyenyak?" tanya Dian membuyarkan lamunan Giandra.


Giandra kaget dan segera menguasai keadaan. Untung saja dia menggunakan kacamata, sehingga cairan bening yang mengumpul di kelopak matanya tidak terlihat.


"Sejujurnya tidak Opa!" kata Giandra. Semalam dia memang kurang tidur karena kepikiran pada adik adik panti dan juga kejadian buruk di hotel yang masih menyisakan rasa takut. Kejadian itu membuatnya trauma. Tak ada teman untuk berbagi, memendam sendiri hingga membuatnya tertekan dan trauma.


"Mungkin karena baru pertama kali kau tidur di rumah ini. Nanti lama lama kau akan terbiasa dan betah dengan kamarmu."


"Iya Opa."


Dian melihat ke arah Regina.


"Kapan Nathan kembali?"


"Aku tidak tahu Oma, Nathan belum menghubungi ku. Aku sudah mengirim pesan padanya tapi belum di baca." kata Regina dengan raut wajah kesal. Begitu sulit menghubungi Nathan, pesan chat pun tak di balas.


"Apa dia sudah tahu keberadaan Giandra di rumah ini?"


"Aku sudah memberi tahunya kemarin sore lewat pesan."


"Anak itu, pekerjaan terus yang di pikirkan." keluh Opa Dam."Ku kira setelah menikah dia akan lebih sering pulang ke rumah."


"Kamu tidak akan mengantar Giandra ke sekolah?" tanya Dian.


"Tidak sempat Oma, aku buru buru. Nanti suru sopir saja untuk mengantarnya. Aku pergi dulu." Regina cipika-cipiki dengan Oma Dian, lalu segera pergi dengan terburu buru di iringi tatapan Gia. Memang apa pekerjaan mama? batinnya. Opa Dam dan Oma Dian terlihat menyayangi mamanya. Bagiamana jika mereka tahu sifat asli mamanya yang sebenarnya?


"Sayang, siang ini Oma dan Opa akan pergi ke Bandung. Kamu akan sendirian di rumah ini." kata Dian.


"Ke Bandung?" dahi Giandra mengerut.


"Iya, kami akan pulang ke rumah kami. Rumah Opa dan Oma di sana."


"Giandra mengira Opa Dam dan Oma Dian tinggal di rumah ini." Giandra terkejut.


"Tidak sayang, kami ke sini karena pernikahan Nathan dan Regina, dan juga ingin menyambut kedatangan mu!"


"Kenapa gak tinggal di sini saja Oma, biar kita kumpul bersama dan tidak kesepian. Rumah ini terlalu besar." kata Giandra.


"Opa ada pekerjaan di sana. Meski ada asistennya, tapi Opa sangat di perlukan untuk hal hal yang penting." kata Dam.


"Yahhh, aku akan kesepian. Mama kelihatannya sibuk dengan pekerjaannya." keluh Giandra. Rumah sebesar ini hanya beberapa orang yang menempati dan tuan rumahnya jarang di rumah.

__ADS_1


"Nanti Opa dan Oma akan sering datang berkunjung."


"Benar ya Opa, Oma?"


"Iya, atau kalau kau mau, kau bisa berkunjung ke rumah kami di Bandung."


"Boleh juga Oma, kapan kapan aku akan ke sana." Giandra sumringah.


"Iya, kapan saja kau mau, Opa dan Oma akan senang sekali menunggu kedatangan mu." kata Dian.


"Sebaiknya kamu berangkat sekolah, nanti terlambat. Semoga kamu suka dan betah dengan sekolah barumu."


"Baik Opa." Giandra segera berdiri dan menggunakan tas sekolah, di letakkan di atas punggung. Dia di antar Dam dan Dian ke mobil, berpelukan sebentar lalu pergi.


25 menit kemudian mobil berhenti di depan sekolah berlantai 5. Sekolah berlabel internasional dengan biaya yang sangat mahal. Guru perwalian kelasnya sudah menunggu di dewan guru. Lalu dia di bawah ke ruang kelasnya, bersama dengan guru jam pelajaran pertama. Sama halnya seperti murid baru pada umumnya, Giandra juga di minta berdiri di depan kelas untuk memperkenalkan diri. Semua manik mata siswa melihat ke arahnya. Dua menit waktu yang di beri untuk perkenalan.Tidak ada suara yang terdengar kecuali suara Giandra memperkenalkan diri. Pak Haris, Guru yang tegas keras dan disiplin memang sengaja tak memberi waktu berlebihan untuk perkenalan karena beberapa pertimbangan. Cukup sebut nama, hobi dan sekolah sebelumnya. Setelah itu Giandra menuju tempat duduk kosong yang berada di belakang.


"Kursi itu ada yang menempati." kata seorang siswi melihat Giandra yang hendak duduk di bangku kosong dekat tembok dinding. Giandra tidak jadi menjatuhkan bokongnya.


"Kamu duduk di dekat aku saja." kata siswi itu lagi sambil tersenyum. Dia menepuk bangku kosong di sebelahnya. Giandra mengikuti ucapannya, duduk di dekat gadis itu.


"Giandra, aku Lala." bisik gadis itu memperkenalkan diri.


"Dan aku Icha." kata siswi di depan mereka, setelah membalikkan setengah badannya ke belakang."Apa kau mau jadi teman kami?" tanya Icha kembali.


Giandra mengangguk tersenyum." Aku mau." dia senang langsung mendapat teman baru.


Pelajaran di mulai sampai selesai dan mereka mendapatkan tugas."Tugasnya bapak tunggu besok pagi jam 7 pagi di dewan guru. Jadi begitu kalian sampai di sekolah segera taruh di meja bapak. Paham?"


"Paham pak!" jawab semua siswa. Pak Haris segera keluar di iringi cibiran kekesalan sebagian dari mereka. Selanjutnya berganti dengan guru mata pelajaran lainnya dan mereka pun mendapatkan tugas.


...Bersambung....


Mampir ya di karya author yang lain:


@Rafa & Ara (Tamat)


@Arley & Ana (Tamat)


@Khanza & Gracio (Tamat)


@Rangga & Rara (On Going)


@Anak Tiri Sang Mafia (On Going)

__ADS_1


__ADS_2