Anak Tiriku Sugar Babyku

Anak Tiriku Sugar Babyku
Bab.23 Suara Laknat


__ADS_3

...Happy Reading....


Giandra celingukan di ruang tamu, menoleh ke kiri kanan dan setiap sudut ruang tapi tak menemukan apa yang dia cari, beralih ke ruang tengah, ruang makan dan ruang santai tapi tak menemukan jaket Reza."Padahal aku menaruhnya di sofa ruang tamu." gumamnya.


"Nona __!" panggilan rendah dari arah belakangnya membuat Giandra sedikit kaget. Giandra memutar lehernya ke belakang, melihat bibi Fatma.


"Nona sedang mencari apa?" tanya Fatmala.


"Apa Bibi melihat jaket kulit berwarna hitam? Tadi ku letakkan di sofa ruang tamu."


"Oh Nona mencari jaket itu?"


Giandra mengangguk.


"Tunggu sebentar Bibi ambilkan. Tadi bibi menyimpannya di lemari ruang binatu." Fatma beranjak pergi ke belakang, lalu balik lagi hanya dalam waktu 5 menit.


"Ini Nona." menyodorkan pada Giandra yang langsung di terima gadis itu.


"Itu jaket punya siapa Nona?"


"Oh ini punya temanku __ teman satu kelas dengan ku. Tadi aku jalan sama dia. Kebetulan paha aku terbuka saat naik motornya, terus dia memakaikan jaketnya untuk menutupi aurat ku. Tapi aku lupa mengembalikannya." Giandra menjelaskan.


"Berarti temannya baik ya Non?!" kata Fatma mendengar bentuk perhatian teman itu pada Giandra.

__ADS_1


"Iya, aku juga merasa begitu." kata Giandra sambil mengulas senyum. Senyumnya itu membuat Fatmala menyimpulkan sesuatu.


"Tapi Nona harus ingat, ada kebaikan yang benar benar tulus, ada juga yang palsu.Terkadang ada kebaikan yang mengandung suatu alibi untuk mendapatkan sesuatu. Nona tetap harus hati hati berteman dengan siapa pun."


Senyum di wajah Giandra langsung surut."Iya Bik, aku mengerti." katanya faham dengan maksud Fatmala.


Fatma tersenyum mengelus lembut lengan kiri anak majikannya ini."Apa lukanya masih sakit?" melihat luka di lengan kanan. Dia menyentuh lembut perban luka.


"Tidak, obat yang di berikan dokter Arish sangat mujarab." Giandra terharu oleh perhatian dan kebaikan Art ini. Seharusnya segala bentuk perhatian ini dari Regina, mamanya. Tapi mana peduli Regina pada dirinya?


"Syukurlah, besok pagi perbannya di ganti."


"Nona tadi tidak makan malam, apa mau bibi siapkan sesuatu?" tanyanya. Saat pulang tadi, Giandra hanya minum segelas susu karena merasa belum lapar.


"Tidak perlu Bik, aku gak lapar. Nanti saja kalau lapar, aku akan bikin sendiri." kata Giandra."Aku mau balik ke kamar. Bibi juga harus istrahat, pergilah ke kamar."


Giandra mengangguk."Iya Bik." Lalu beranjak dari hadapan Fatmala.


Fatma masih mematung di tempatnya tak lepas menatap tubuh Giandra yang menuju lift, sembari pikirannya menerawang ke masa lalu. Teringat Kepolosan, ketulusan, kesopanan, keramahan seseorang."Nona, kenapa saya melihat anda di diri Nona Giandra?" batinnya sedih."Sudah 8 tahun berlalu, Nona ada di mana? Kembalilah jika Nona masih ada di dunia ini." lelehan bening mengalir tanpa sadar. Dia menyekanya segera, lalu melangkah menuju kamarnya sebelum ada yang melihat.


Giandra terus melangkah membawa tungkainya menuju kamar. Saat mendekati ruang kerja Nathan, telinganya mendengar suara suara aneh dari dalam sana. Dahi Giandra mengerut"Suara apa itu?" batinnya. Tapi Giandra memilih untuk tidak peduli, apalagi yang berhubungan dengan papa tirinya. Dia terlalu takut berhadapan dengan pria itu, aura wajah Nathan yang datar dan juga tatapannya yang dingin membuat tubuhnya bergidik. Giandra kembali melanjutkan langkah. Tapi saat melewati pintu, suara itu semakin terdengar jelas di telinga dan mengusik hatinya. Karena suara itu suara mamanya."Mama kenap? Apa yang terjadi pada mama?" timbul perasaan khawatir. Meski dia benci pada Regina tapi hatinya tidak menerima terjadi sesuatu pada wanita yang telah melahirkannya itu. Giandra melihat pintu yang terbuka sedikit. Dia memasukkan kepalanya sedikit untuk melihat apa yang terjadi di dalam sana.


Giandra terbelalak setelah melihat yang terjadi di dalam sana. Suara aneh itu ternyata lenguhan dan erangan yang keluar dari mulut Regina yang merasakan sensasi nikmat karena miliknya sedang di obok obok oleh jari Nathan. Posisi Regina berada dalam pangkuan Nathan yang sedang duduk di sofa, tubuhnya polos tanpa sehelai benang. Giandra seperti orang linglung, tubuhnya kaku dan tegang melihat adegan mesum di dalam sana. Dia kembali tercengang saat melihat Regina turun dari pangkuan Nathan dan berlutut di antara paha Nathan. Dalam hitungan detik dia berhasil mengeluarkan bagian selatan Nathan yang menjulang tegak dari bokser. Dan dalam sekejap mata benda berurat kemerahan itu masuk ke dalam mulut Regina.

__ADS_1


Giandra secepatnya menarik kepalanya dari pintu, tak ingin lama lama melihat adegan kotor pasangan suami-istri itu. Dia menutup pintu dengan perlahan agar tidak berbunyi. Kedua lututnya gemetar, jantung berdegup kencang."Astaga, bisa bisanya mereka melakukan hal itu tanpa menutup pintu." umpatnya geram. Mata sucinya jadi ternoda melihat adegan 21± itu. Giandra jadi menyesal mengapa harus terhasut mendengar suara suara laknat yang hingga membuatnya melihat adegan menjijikkan itu. Dengan tubuh gemetar, Giandra berlari ketakutan menuju kamarnya. Dia membuang tubuhnya di atas ranjang lalu menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut. Jantungnya masih berdegup kencang. "Sialan, kenapa juga aku terpancing harus melihat ke dalam sih?" gerutunya kesal.


"Manusia manusia menjijikkan, mau berhubungan gak lihat lihat tempat. Seharusnya di tutup dulu pintunya." umpatnya. Untuk menghilangkan adegan mesum itu dari pikirannya, dia membaca surah surah pendek Alquran dan ayat kursi agar adegan adegan laknat yang menghantui pikirannya itu menghilang. Dan tanpa sadar dia melakukan murojaah, menghafal beberapa ayat dalam surat Al-Baqarah yang belum di hafal, hingga kejadian menjijikkan itu hilang dari pikirannya. Kebiasaannya melakukan hafalan bersama adik adik panti. Menghadirkan rasa rindu pada adik adiknya, juga segala aktivitas yang selalu mereka lakukan bersama. Ingin sekali dia pulang, berkumpul bersama keluarganya di panti.


Suara bergetar dari bawah ketiaknya membuyarkan hafalannya. Dia membuka selimut dan menurunkan pandangannya pada ketiaknya. Ada jaket Reza yang tertindih oleh tubuhnya. Dia ingat ponsel Reza m Segera dia bangun dan duduk. Mengeluarkan benda pipih mungil itu dari saku jaket. Di lihatnya nomor panggilan tanpa nama.


Giandra ragu untuk mengangkat telepon, tapi mungkin saja Reza, pikirnya. Dia segera menekan tombol hijau, tersambung.


"Assalamualaikum." ucapnya.


"Waalaikumsalam. Giandra," balasan suara pria dari seberang.


"Reza?" Giandra langsung mengenali suara itu.


"Iya, ini aku. Kau belum tidur?"


"Belum ngantuk. Aku dari tadi nunggu kamu menghubungi aku. Jaket sama ponsel kamu terbawa lagi sama aku."


"Gak apa apa, itu gak terlalu penting. Nanti saja kalau kita ketemu di sekolah. Apa kamu baik baik saja? Bagiamana keadaan mu?" tanya Reza.


Wajah Giandra mengernyit. Kenapa Reza menanyakan keadaannya?


"Barusan aku dapat kabar kalau kamu terluka karena di serang oleh orang jahat. Bagaimana keadaan mu?"

__ADS_1


Giandra terkesiap mendengar pertanyaan itu, bagaimana Reza bisa tahu musibah yang menimpanya? Suara Reza bahkan terdengar khawatir."Alhamdulillah keadaan ku baik, lukanya tidak terlalu dalam, hanya tergores dan sudah di obati." jawabnya beberapa saat.


...Bersambung....


__ADS_2