Anak Tiriku Sugar Babyku

Anak Tiriku Sugar Babyku
Bab. 26


__ADS_3

...Happy Reading....


"Kemari kan tangan mu." kata Nathan.


Mau tidak mau Giandra meluruskan tubuhnya, lalu menggerakkan tangan kirinya lebih dekat pada Nathan, menuruti perintah itu. Aroma wangi tubuh pria ini tercium sangat di hidung Giandra. Parfumnya begitu wangi, harganya pasti sangat mahal, batin Giandra. Jarak mereka yang hanya berbatas paha Nathan.


Perlahan Nathan membuka perban. Luka itu mulai mengering, karena obat yang di beri Arish bukan main main khasiatnya dan tentu harganya pun tak main main."Masih sakit?" tanya Nathan seraya membawa pandangannya ke wajah Giandra yang menatap ke arah piring makannya di depan. Wajah yang tampak tegang.


"Tidak Tuan." jawab Giandra singkat suara rendah.


"Meski sudah tidak sakit, tetap harus di tutup perban karena belum kering benar, nanti terkena debu dan infeksi." kata Nathan, membawa pandangannya kembali pada luka di depan. Giandra diam saja tak ngomong apa pun. Mau ngomong pun pasti tidak ada gunanya. Hanya saja di tidak menyangka Nathan peduli pada lukanya.


Beberapa saat setelah mengganti perban."Minum obatnya." kata Nathan seraya mengeluarkan dua butir obat dari tempatnya, di sodorkan pada Giandra yang langsung di terima oleh gadis itu. Giandra segera meminum dua tablet sekaligus di susul air putih."Terima kasih sudah mengganti perban ku." ucap Giandra. Dia tidak menyangka Nathan akan melakukan itu.


Nathan menanggapi dengan tatapan sekilas, lalu segera berdiri, di susul Giandra. Nathan naik ke atas mengambil sesuatu di ruang kerjanya dengan buru buru. Sedangkan Giandra pamit pada Fatma berangkat sekolah.


"Hati hati di luar ya Non?" pesan Fatmala.


"Iya Bik." ucap Giandra, dia hendak menyalim tangan Fatmala. Membuat ART itu terkejut. "Nona tidak pantas mencium tangan saya. Nona tuh majikan dan saya __!"


"Semua manusia sama di hadapan Allah Bik, Tidak ada yang beda. Yang membedakan hanyalah amal kebajikannya. Setinggi apapun kedudukan, pangkat dan jabatan seseorang, dia harus menghormati orang yang lebih tua, menghargai yang muda." kata Giandra memutus ucapan Fatmala. Art itu termangu kagum. Giandra melanjutkan menyalim tangannya."Semoga Allah selalu menjaga dan melindungi Nona." ucapnya terharu.


"Aamiin, Terimakasih doanya Bik." ucap Giandra. Dia melangkah mendekati mobil yang akan mengantarnya ke sekolah.


"Pak Gum, kita berangkat sekarang." hendak masuk, tapi batal dengan suara Gum.


"Nona akan berangkat dengan Tuan Nathan ke sekolah. Tuan Nathan yang akan mengantar Nona." kata Gum membuat Giandra terpaku. Tapi kemudian dia tersadar dengan ucapan Nathan yang muncul dan sedang mengitari mobil menuju pintu sebelah.


"Masuklah." Nathan masuk dan duduk di belakang kemudi."Kenapa bengong? Cepat masuk." kata Nathan dari dalam mobil melihat Giandra bengong.


Giandra menelan ludah. Lalu membuka pintu mobil di belakang. Tapi dia batal masuk dengan suara Nathan."Duduk di depan." perintah Nathan.


"Ha?" Giandra kaget.


"Cepatlah sedikit nanti kau terlambat. Belum lagi jika jalanan macet."


"Aku duduk di belakang saja Tuan."

__ADS_1


"Aku bukan sopir mu Giandra. Jangan membantah!"


Terpaksa Giandra masuk dan duduk di depan, sebelah Nathan. Mobil melaju meninggalkan area hunian megah itu.


Hening tak ada yang berbicara, Nathan sibuk dengan kemudi, Giandra memilih menatap jalanan dan kenderaan yang lewat. Dia teringat ke dua temannya Icha dan Lala. Apa keduanya sudah memasukkan tugas pak Kris? Giandra merogoh sakunya dan mengambil ponselnya. Membuka aplikasi WhatsApp. Ada chat masuk dari Mr L. Dia segera membuka pesan itu.


..."Good morning mawar"...


..."Kamu lagi ngapain?"...


Di lihatnya pesan itu masuk 5 menit yang lalu.


Giandra segera membalas kedua pesan itu.


..."Selamat pagi Tuan, saya sedang perjalanan menuju sekolah."...


"Kamu lagi chatingan sama siapa? Serius amat." Suara Nathan mengagetkan Giandra. Giandra buru buru menyimpan ponselnya.


"Teman." balasnya singkat. Dia tidak menyangka Nathan memperhatikannya.


"Bagaimana dengan sekolahmu, apa semuanya lancar?" tanyanya hangat. Dia ingin membuka obrolan hangat dengan anak tirinya ini.


"Iya Tuan, semuanya lancar." Giandra gak nyangka lagi kalau Nathan perhatian dengan sekolah nya, mamanya saja gak peduli sama sekali.


"Kenapa kamu bisa di serang orang?" tanya Nathan. Mencoba berbicara santai agar gadis ini tidak takut padanya. Entah apa yang membuat anak ini takut padanya? Bahkan menyebut dirinya Tuan.


"Aku tidak tahu." jawab Giandra.


"Kamu kenal orang orang itu?" melihat wajah Giandra sekilas, lalu kembali fokus ke depan. Dia memutar kemudiannya karena telah sampai di tempat tujuan. Lebih cepat sampai karena tidak macet. Nathan memarkir mobil di depan pintu gerbang sekolah, lalu membuka belt pengamannya.


"Tidak." jawab Giandra setelah beberapa saat berpikir. Dia hendak membuka belt pengamannya tapi batal dengan suara Nathan.


"Atau kamu punya musuh?" tanya Nathan.


Kali ini Giandra membawa pandangannya melihat wajah Nathan." Musuh?" balik bertanya karena terkejut.


"Maksud aku, mungkin ada yang tidak menyukai mu?!" kata Nathan membalas tatapan Giandra. Jarak sangat dekat begini membuatnya bisa melihat keseluruhan bagian bagian wajah anak tirinya. Mencium aroma wangi stroberi segar yang menguar dari tubuh gadis ini. Dan itu membuatnya tak sadar menelan saliva.

__ADS_1


Giandra termangu beberapa saat. Musuh? Siapa orang yang tidak menyukainya? Dia baru dua hari tinggal di kota besar ini. Dia tidak pernah berurusan dengan orang lain apalagi sampai mencari masalah dan musuh.


Di tempat tinggalnya yang dulu pun di tidak pernah mencari masalah dengan siap pun.


Tapi kemudian dia teringat Regina, yang tidak menyukainya. Apa mamanya yang menyuruh penjahat itu menyerangnya? Tapi hatinya ragu, tidak mungkin mamanya.


"Kenapa kamu diam? Apa yang kau pikirkan? Apa ada orang yang tidak menyukai mu?" tanya Nathan membuyarkan lamunan Giandra.


"Aku tidak tahu kalau ada orang yang tidak menyukaiku. Tapi selama hidup, aku tidak pernah mencari masalah dengan siap pun. Aku hanya ingin hidup aman dan tenang." jawab Giandra."Aku juga bingung kenapa ada yang nyerang aku." sambung Giandra.


"Oke, tetap berhati hatilah saat diluar rumah dan juga berteman dengan siapa pun." kata Nathan. Giandra mengangguk. Dia hendak membuka belt pengamannya, namun sialnya entah kenapa belt itu sulit sekali lepas dari tubuhnya. Alis Nathan mengerut melihat Giandra kesulitan melepas belt pengamannya. Nathan segera memajukan badannya ke arah Giandra dan mencoba meraih belt untuk di lepas pengaitnya.


Giandra tersentak, tubuhnya mematung. Posisi wajah Nathan begitu dekat dengan wajahnya. Hembusan nafas Nathan yang hangat bahkan dapat dia rasakan menerpa membelai permukaan kulit wajahnya. Jantung Giandra berdegup kencang, Wangi nafas pria Nathan bercampur dengan Wangi parfum maskulin pria dewasa ini terserap oleh indera penciumannya. Tubuh Giandra jadi panas dingin, juga tegang bergidik takut dengan kedekatan ini.


Sedangkan Nathan tak sanggup sadar posisi tubuhnya yang mengukung tubuh Giandra.


"Tuan,,," Giandra berusaha mendorong tubuh Nathan. Nathan terkejut melihat Giandra dengan bingung.


"Biar aku saja." kata Giandra seraya mengisyaratkan posisi tubuh mereka.


"Sedikit lagi." kata Nathan. Berusaha membuka belt. Akhirnya belt bisa terlepas. Giandra buru buru membuka pintu mobil dan keluar setelah terlebih dulu pamit. Dia berlari masuk tanpa menoleh lagi ke belakang.


Di dalam mobil, Nathan tersenyum kecil."Sangat menggemaskan." gumamnya pelan. Tapi beberapa detik kemudian, senyum itu menghilang ketika melihat seorang gadis yang berdiri di depan pintu gerbang. Yang menarik perhatian Nathan adalah, gadis itu melihat ke arah Giandra dengan tatapan mencurigakan.


...Bersambung....


Jangan lupa tinggalkan jejak dukungan buat author ya, Mampir juga di karya author yang lain:


👉Rafa & Ara (End)


👉Arley & Ana (End)


👉Khanza & Gracio (End)


👉Rangga & Rara (On Going)


👉Anak Tiri Berharga Sang Mafia (On Going)

__ADS_1


__ADS_2