
...Happy Reading....
"Sugar Baby? Apa itu?" dahi Giandra mengerut.
"Ya ampun, kamu polos banget Gia." Tia menepuk jidatnya. Dia mendekatkan wajahnya di dekat wajah Giandra yang tampak penasaran mendengar penjelasannya. Temannya yang satu ini memang benar benar polos.
"Jadi simpanan Om Om kesepian dan harus melayani mereka di atas ranjang." bisiknya pelan.
"Apa?" Giandra terbelalak, nafasnya terasa tercekik dan tertahan."Gila Loe Ti."
"Makanya gue ragu kasih tahu Loe."
Giandra masih terdiam belum bisa mencerna apa yang di katakan Tia. Pantas saja hidup Tia berubah 180⁰ hanya dalam beberapa hari. Yang biasanya dekil dengan pakaian yang lusuh kini tampak cantik, mengenakan pakaian dan barang-barang mewah layaknya wanita sosialita. Ternyata dia jadi sugar Baby Om Om kesepian? Dan pria yang di lihat tadi bermesraan dengan Tia sudah pasti Sugar Daddynya Tia.
Tubuh Giandra bergidik tegang takut menjadi pelampiasan hasrat Om Om.
"Aku hanya menyarankan itu sama kamu. Itupun kalau kamu mau." imbuh Tia.
"Tapi ini dosa Tia, pekerjaan maksiat!"
"Aku sangat tahu. Awalnya aku juga tidak mau melakukan hal gila ini, tapi tak ada cara lain lagi! Aku terpaksa. Aku gak tega lihat bapak kesakitan, juga melihat adik adikku kelaparan, dan ibuku yang terus bekerja keras menjadi pembantu dari rumah ke rumah rumah. Kau juga kan tahu kehidupan keluarga aku bagaimana."
Tentu saja Giandra tahu kesusahan, kesulitan keluarga Tia."Terus apa bapak dan ibu mu tahu?"
Tiara menggeleng lemah."Hanya kamu yang ku beri tahu. Jangan sampai orang tuaku tahu. Yang ada bapak bisa mati dan ibu bunuh diri. kalau mereka tahu." katanya sendu dengan matanya yang memerah menahan tangis. Giandra segera memeluknya. Kedua gadis itu berpelukan erat saling menumpahkan kesedihan, dan beban hidup.
"Aku tahu itu perbuatan dosa Gia, tapi aku tidak tahu lagi harus berbuat apa. Aku sangat butuh uang untuk biaya pengobatan bapak!" Tiara terisak.
"Ssst __jangan menangis Tia. Aku ngerti posisi kamu!" Giandra mengelus punggungnya lembut. Sejenak mereka berpelukan, lalu saling melepaskan.
"Jadi bagaimana Gia, apa kau mau mengikuti saran ku?" tanya Tia setelah merasa tenang.
"Aku bingung Ti_!" Giandra masih ragu.
"Awalnya juga aku berpikir seperti kamu. Tapi tak ada jalan lain."
Giandra terdiam, hati dan otaknya saling berperang. Memikirkan dan membayangkan melayani Om Om saja membuat perutnya mual dan ingin muntah. Ini dosa yang sangat besar dan uang yang di dapat pun haram. Tapi dia juga sangat butuh uang. Qenan dan Qinan __ anak anak malang yang terlahir sebelum waktunya karena kekejaman manusia manusia laknat. Sejak kecil mereka merasakan penderitaan karena penyakit. Dan anak anak itu telah pasrah menerima kematian. Sungguh pilu hatinya melihat penderitaan anak anak itu.
"Aku mau Tia__!" kata kata itu tiba tiba saja keluar dari mulutnya, sering jatuhnya air matanya.
Tia terkejut. Mata membulat sempurna. Seorang Giandra yang taat melaksanakan shalat Lima waktu, rajin mengaji, mengajari anak anak panti mengaji mau melakukan perbuatan maksiat? Temannya ini benar benar putus asa. Dan semua Karena keadaan yang memaksa.
"Kamu yakin Giandra?"
Giandra mengangguk sambil menggigit bibir bawahnya." Yakin Ti," padahal jawaban mulutnya bertolak belakang dengan hatinya.
"Baik, aku akan bantu kamu!" Tiara meraih ponsel Giandra di meja, lalu mendownload aplikasi SugarDaddy.
"Kamu tahu hal seperti ini dari mana?" tanya Giandra sambil memperhatikan apa yang Tia lakukan.
"Meysa, aku gak sengaja melihat dia di jemput sama Om Om pulang sekolah. Sebenarnya aku sudah mendengar gosip tentang pekerjaannya itu. Tapi aku gak percaya, tapi setelah ku selidiki ternyata benar. Dia sering di ajak Om Om tidur di hotel tempat kamu kerja! Pantas saja dia tidak pernah kehabisan uang dan sering mengadakan party friends."
Meysa adalah primadona sekolah, cantik dan tidak pernah kehabisan uang, tapi sombong, suka pamer. Dia royal pada para kacungnya.Ternyata uang yang selalu di pamerin itu hasil dari menjual diri.
"Kita beda dengan Meysa. Kita melakukan pekerjaan itu karena terpaksa. Sedangkan Meysa untuk kesenangan dan memenuhi gaya hidupnya." kata Tiara melihat ada penyesalan dan rasa bersalah di wajah Giandra. Bahkan mungkin juga mulai Ragu.
"Aku sudah memasukkan biodatamu, tapi yang palsu. Aku gak masukin yang asli nanti ketahuan. Nama kamu di sini aku pakai Mawar dan aku memakai Melati. Nah sekarang tinggal masukkan foto kamu."
"Foto aku? Nanti ketahuan seisi jagad Maya Jika fotoku terpampang di sana!"
"Terus gimana caranya mereka tahu wajah kamu? Yang di lihat oleh pria hidung belang dari wanita adalah wajah cantiknya, terus tubuh indah dan seksi. Jadi kamu harus foto seluruh tubuh kamu, dan harus menggunakan pakaian seksi biar membuat mereka tertarik dan milih kamu. Contohnya seperti ini__!" Tia mengambil ponselnya dan memperlihatkan pakaian yang di kirim ke aplikasi Sugar Daddy.
Giandra tercengang melihat Tiara mengenakan lingerie seksi warna pink dengan bahan sangat tipis, ukuran kecil, berenda dan terbuka di mana mana. Wajahnya juga di make up secantik mungkin, Giandra bahkan tidak mengenali dirinya karena Tia berubah menjadi gadis cantik dan seksi.
"Aku harus pakai baju seperti ini? Gak Tia, aku gak mau. Pakai baju seperti ini sama saja seperti telanjang." tolak Giandra mentah mentah.
"Justru Itu harus Gia, biar kamu terlihat seksi dan menggoda kaum hawa. Dengan begitu mereka akan segera mengirim chat sama kamu dan kamu akan cepat cepat dapat uang untuk membayar biaya pengobatan Qenan dan Qinan."
"Aku gak mau seluruh mata lelaki melihat tubuh telanjang ku! Kasihan ayah di alam kuburnya tersiksa karena ulahku. Ambil foto aku yang tertutup sedikit, gak seksi parah kayak kau." Giandra tetap kekeuh tidak mau memakai pakaian seksi.
Tiara tidak akan memaksa. Dia malah merinding mendengar kata Siksa kubur yang di ucapkan Giandra tadi.
"Kalau gitu, aku akan foto bagian bawah tubuh kamu saja, wajah gak usah tapi bibir harus! Pria sangat suka bibir seksi. Jadi buat bibir Loe seksi. Loe harus nurut, kalau tidak gak akan ada yang mau sama kamu."
__ADS_1
Giandra mengalah. Dia mengangguk lemah.
Tiara membuka dua kancing atas seragam Giandra biar keliatan leher jenjang Giandra yang putih dan tulang selangka yang terlihat indah."Om Om suka daun muda, Apalagi yang masih sekolah. Mereka pasti langsung tertarik begitu melihat fotomu menegakan seragam SMA. Sekarang aku akan mengambil gambar foto kamu, bergayalah se sensual mungkin."
"Aku gak tahu__!"
Terpaksa Tiara memberi contoh melakukan beberapa gaya. Giandra tampak kaku. Akhirnya Tiara mengambil cukup banyak foto untuk di pilih. Tiara bergeming melihat dua tanda merah keunguan di leher Giandra. Kedua tanda itu malah membuat foto gambar Giandra jadi semakin seksi dan indah.
"Kenapa leher kamu merah gini?" tanya Tia.
Giandra terhenyak." Alergi, gatal bekas garukan kuku." bohongnya. Entah kenapa untuk hal itu dia berbohong, padahal mereka selalu terbuka dalam hal apapun.
Dan Tiara percaya begitu saja tak bertanya lagi. Dia segera mengirim biodata dan foto Giandra."Sudah terkirim, kamu tinggal menunggu chat dari orang yang tertarik sama kamu. Semoga kamu beruntung dan mendapatkan sugar Daddy yang kaya raya." kata Tiara.
Giandra terkesiap, dia merasa takut mendengar perkataan itu, jantung berdebar, tapi dia mencoba menghalau perasaan itu demi kesembuhan Qenan dan Qinan, juga demi adik adiknya yang lain.
...Bersambung....
Promo novel author:
Rafa dan Ara___ End
Arley dan Ana__Enda
Khanza dan Gracio ___End
Rangga dan Rara __On Going
Anak Tiri Sang Mafia __On Going
...Happy Reading....
Dari kantin dapat di dengar oleh telinga Gia dan Tia suara sorak sorakan para siswa yang mendukung Tim Basket dari sekolah masing-masing. Tapi itu tidak membuat Giandra tertarik. Saat ini dia hanya kepikiran pada adik adiknya di panti, terutama Qinan dan Qenan. Dia ingin sekali pulang melihat adik adiknya, tapi apa Regina mengizinkannya? Belum lagi dia baru masuk hari ini di sekolah barunya.
"Aku pengen pulang Ti! Aku ingin melihat adik adikku, terutama Qinan dan Qenan! Aku ingin menjaga mereka di rumah sakit. Bibi Rima pasti kerepotan mengurus Qenan dan Qinan di rumah sakit, juga adik adik di panti. Aku gak tega melihat Bik Rima repot ke sana kemari ngurusin mereka seorang diri!" keluh Giandra tertunduk lesu. Meski ada Baim dan tiga orang adiknya yang sudah besar dan bisa membantu Bik Rima membersihkan panti, memasak seadanya, menjaga dan mengajari adik adik yang paling kecil, tetap saja Giandra tidak tenang.
"Kamu baru masuk sekolah hari ini, dan belum tentu juga mamamu akan mengizinkan pulang, kamu sudah terikat kontrak perjanjian dengannya."
Giandra menghela nafas, bahkan Tia pun berpikir sama dengannya.
"Giandra, semoga keberuntungan berpihak padamu dengan jalan yang kamu pilih tadi. Jika kamu beruntung mendapatkan Pria yang kaya, bukan hanya biaya pengobatan Qenan dan Qinan yang dapat kamu lunasi, tapi juga bisa mengembalikan uang mama mu yang digunakan membeli rumah panti. Dengan begitu kamu bisa bebas dari kontrak perjanjian dengannya dan berkumpul lagi dengan adik adikmu."
Giandra terkesiap menatap sahabatnya."Apa sebanyak itu uang yang akan kita terima setelah menemani Om Om kesepian? Karena jumlah pembelian rumah panti bukan jumlah yang sedikit, harganya 500 juta Ti. Dan biaya pengobatan Qenan selain dari kemoterapi sangat mahal,1 M. Pengobatannya hanya bisa di lakukan di luar negeri. Belum lagi pengobatan Qinan." kata Giandra.
"Bahkan ada yang bisa mendapatkan lebih banyak dari itu, jika pelayanan memuaskan dan tidak mengecewakan mereka, malah di kasih bonus mobil dan apartemen. Dan aku berharap kamu mendapatkan Om Om yang tajir melintir, duitnya banyak! Tadi, aku menuliskan penawaran 100 juta untuk mu sekali pelayanan."
"What, 100 juta? Banyak banget Ti!" Giandra terbelalak.
"Itu masih harga penawaran, belum harga kesepakatan. Masih akan turun jika mereka tidak sanggup membayar kamu sejumlah itu. Tapi ada yang juga yang membayar dua kali lipat jika masih perawan! Dan untuk kamu yang masih fresh dan perawan, 100 juta udah harga pas. Jika mereka masih mau memakai kamu lebih dari satu dua tiga kali, bayangkan saja uang yang akan kamu dapatkan lebih banyak! Lima kali saja kamu mereka meminta untuk di layani olehmu, 500 juta yang akan kamu dapatkan." kata Tia sangat antusias.
Kali ini bukan senang yang di rasakan Giandra, tapi ketakutan, tubuhnya bahkan merinding. Membayangkan uang yang akan di terima dengan jumlah yang banyak, maka lebih banyak juga dosa yang akan di tanggung. Mungkin melebihi buih di lautan dan tidak akan terampuni. Dan seberapa berat siksa Kubur yang akan di dapatkan ayahnya?
Telinga Giandra mendengar suatu getaran. Dia meraba saku roknya sebelah kanan. Karena getaran itu berasal dari situ. Setelah mengambil benda yang bergetar itu Giandra kaget melihat ponsel mini milik Reza. Dia melihat suara Alarm waktu shalat ashar berbunyi.
"Astaga, aku lupa mengembalikannya." Giandra segera berdiri.
"Kamu mau kemana?" tanya Tia.
"Lapangan basket, mau mengembalikan ini!" memperlihatkan Ponsel ukuran mini milik Reza."Ini punya temanku, aku pinjam tadi dan lupa mengembalikannya!"
Kelamaan memakai ponsel membuat Reza meninggalkannya. Dia lupa Reza sedang terbuka buru, dan dia malah kelamaan bicara dengan Bik Rima.
"Ya udah, sekalian kita melihat pertandingan." ajak Tia. Dia ikut berdiri memakai tas dan membayar minuman mereka. Keduanya segera menuju lapangan basket yang tidak jauh dari kantin.
Banyak sekali siswa yang menyaksikan pertandingan. Tempat duduk di tribun sudah full. Tribun sayap kanan digunakan oleh siswa pendukung dari SMA Jaya Wijaya, dan sebelah kiri suporter pendukung dari Bina Nusantara. Karena tidak muat menampung banyaknya siswa, sebagian Siswa memilih berdiri.
Giandra dan Tia melihat ke arah papan skor yang menunjukkan angka poin.
Tia langsung bersorak senang."Sekolah kita unggul Gi, lihat poin Bina Nusantara tertinggal jauh." katanya senang. Dia lupa kalau Giandra murid sekolah Bina Nusantara sekarang.
Giandra hanya mengangguk tersenyum. Lalu dia melihat ke arah Reza yang tampak melakukan tembakan dari luar daerah pertahanan lawan, tapi hasilnya gagal, bola tidak masuk ke dalam keranjang, tapi memantul pinggiran Ring. Giandra tampak kecewa.
Penonton yang merupakan pendukung dari SMA Bina Nusantara bersorak kecewa, sang kapten gagal mencetak poin. Tapi kemudian terdengar sorak sorakan gembira suporter SMA Jaya Wijaya, sambil meledek lawan yang gagal mencetak poin.
__ADS_1
Tim Cheerleader Jesika dan Icha menyerukan yel yel mereka memberikan semangat pada Tim basket mereka.
"SMA Bina Nusantara yes_yes__yes..."
"Ayo Reza semangat_ Reza_ Reza_Reza!" sorak pendukung Bina Nusantara.
"Kamu Kenapa Reza? Kamu kurang fokus!" kata coach melihat Performa anak didiknya menurun. Pikiran anak ini entah kemana.
"Kau kenapa Bro? Apa yang kamu pikirkan?" tanya teman satu timnya. Mereka bingung dengan permainan Reza yang amburadul. Nafas mereka tampak memburu cepat dengan keringat semakin banyak mengalir membasahi tubuh.
Reza hanya diam tak menanggapi. Wajahnya tetap datar tak menunjukan reaksi apapun. Hanya matanya yang tampak kelayapan ke arah tribun entah mencari apa. Saat ini waktu istirahat half time bagi pemain.
"Mana teman kamu yang punya ponsel?" tanya Tia.
Giandra melihat ke arah Reza yang tampak duduk di pinggir lapangan bersama guru olahraga, Coach dan teman teman satu tim. Mereka mempergunakan waktu istirahat dengan merenggangkan otot otot dan menyusun strategi baru yang di sampaikan Coach. Sama halnya dengan Tim basket Jaya Wijaya yang berada di lapangan sebelah.
"Itu dia __!" kata Giandra menunjuk kepada Reza.
"Iya," Giandra mengangguk seraya menyebut nomor punggung Reza.
"Bukannya dia kapten Tim Basket di sekolah ini?" tanya Tia. Giandra kembali mengangguk tanpa beralih dari Reza. Dia berharap Reza melihat ke arahnya. Dia mengangkat ke dua tangannya ke atas di lambaikan ke kiri kanan ke depan untuk menarik perhatian Reza saat Reza melihat ke arah tempatnya berdiri.
Giandra melambaikan tangannya dengan cepat. Ulang kali di lakukan Dan berhasil, mata Reza terpusat padanya. Pemuda itu langsung berdiri melihat pada Giandra. Giandra segera mengambil ponsel Reza dan di angkat ke atas, di perlihatkan pada Reza.
"Ponselmu?" ucap Giandra dengan gerakan bibir menekan setiap huruf. REZA bisa membaca gerakan bibir Giandra meski jarak 25 meter. Reza segera melangkah mendekati pak Mario guru olahraga."Pak, pinjam Ponsel bapak sebentar." katanya terburu buru. Ponselnya ada di loker. Mereka di larang membawa ponsel ke lapangan selama pertandingan.
"Kamu ingin menghubungi siapa? Nanti saja setelah pertandingan selesai."
"Ini sangat penting dari pertandingan ini." kata kata datar di sertai tatapan datar membuat pak Mario langsung mengeluarkan ponselnya. Sementara pelatih dan teman timnya saling berpandangan.
"Kenapa dia?"
Pak Mario hanya mengangkat bahu dan kedua tangannya.
REZA segera menekan setiap angka nomor ponselnya yang ada pada Giandra. Lalu memanggil nomor itu sembari melihat ke arah Giandra. Giandra melihat panggilan masuk pada ponsel Reza, dua hati mau mengangkat karena tidak tertera nama pemanggil, sepertinya nomor baru. Dia melihat ke arah Reza yang sedang memberi isyarat untuk mengangkat telepon. Giandra segera mengangkat panggilan.
"Reza,"
"Hmmm__!" tatapan pada Giandra.
"Maaf aku mengganggumu. Tadi aku lupa mengembalikan ponselmu. Lalu bagaimana? Apa aku titipkan sama Jesika saja atau sama Icha? Soalnya aku mau pulang sekarang!" Giandra juga melihat ke arah Reza sambil berbicara.
"Jangan berikan kepada siapa pun. Kamu pegang dulu. Nanti aku ambil sama kamu setelah pertandingan." Reza memang tidak sembarang meminjamkan ponselnya pada siapa pun.
Sesaat Giandra terdiam mendengar ucapan Reza yang akan mengambil ponsel setelah pertandingan, sementara dia mau pulang karena ingin mencari Informasi lowongan pekerjaan dengan mendatangi beberapa tempat."Apa pertandingannya masih lama?" tanyanya kemudian.
"Tinggal satu babak."
"Baiklah, aku akan menunggumu. Semangat ya, kalian harus menang!" kata Giandra menyemangati. Tidak enak hati menolak keinginan Reza yang sudah dua kali menolongnya. Tak ada sahutan selain panggilan di matikan. Sebelum mengembalikan ponsel pak Mario, Reza masih mengirim satu pesan."Jangan menghubungi atau mengirim pesan ke nomor ini lagi!"_ Send. Lalu dia menghapus panggilan pada log panggilan, juga menghapus pesan tadi. Setelah itu dia mengembalikan benda pipih itu pada pemiliknya.
Giandra segera menyimpan ponsel Reza setelah membaca pesan.
"Kapten Kalian ganteng banget Gi." kata Tia tersenyum penuh arti."Kamu baru masuk hari ini tapi sudah akrab dengannya. Bahkan ponselnya ada sama kamu." Tia menyenggol lengan Giandra."Apa kau dan dia __!"
"Tidak Ti, yang kamu pikirkan tidak benar." potong Giandra segera.
"Terus?" Tia menatap menyelidik, ingin tahu.
Gia segera menceritakan penyebab ponsel Reza sampai ada pada dia."Ohhh gitu." Tia mengerti dan tidak menggoda lagi. Kedua kembali fokus ke lapangan.
Sementara di lapangan pertandingan kembali di mulai karena waktu istirahat telah habis. Kali ini Reza main maksimal dan mengeluarkan skill permainannya yang luar biasa hingga membuat sang pelatih, pak Mario, juga penonton takjub. REZA bermain dengan penuh semangat. Setiap lemparannya menghasilkan poin, sehingga Tim mereka berhasil mengejar poin yang tertinggal, bahkan mengumpulkan poin paling banyak sehingga membuat Tim mereka keluar sebagai pemenang.
...Bersambung....
Mohon maaf Reader's tersayang, ada beberapa bagian yang author rubah dalam bab ini. Terus dukung author ya, tinggal kan jejak dukungannya.
Mampir juga di karya author yang lain:
👉Rafa dan Ara (End)
👉Khanza dan Gracio (End)
👉Arley dan Ana (End)
__ADS_1
👉Rangga dan Rara (On Going)
👉Anak Tiri Sang Mafia (On Going)