
Mo Se Ah bangun dengan mata sembabnya, kejadian kemarin malam masih membekas di dalam pikirannya. Ia duduk di atas kasur empuknya mengusap wajahnya dengan kasar.
Ketika ia menyentuh bibirnya, bayangan kemarin malam ketika William menciumnya tiba-tiba muncul. "Aaahhh.... " teriak Se Ah dengan kuat. "Kenapa harus dia yang mencuri ciuman pertamaku? Seharusnya kak Angga yang dapetin itu." Rengek Se Ah. Ia menggelengkan kepalanya dengan kuat, ia harus bisa melupakan kejadian malam itu dan membuat William juga melupakannya.
Ia segera menyegarkan diri, mengguyur badannya dengan air dingin dan memoles pelembab tipis pada wajahnya hanya untuk menyamarkan mata sembabnya.
Terdengar tawa renyah dari arah dapur, tak seperti biasanya ada tawa lelaki disana. Mo Se Ah menyipitkan pandangannya, betul saja ada sosok lelaki tinggi disamping ibunya. Tapi itu bukan postur kakak atau ayahnya.
"William..." Gumam Se Ah ketika melihat lelaki itu tertawa menyambut gurauan ibunya.
"Ma..." Sapa Se Ah.
"Eh.. sayang, kau sudah bangun!" Balas Anindiya dengan membalikkan badannya dan merentangkan tangan agar gadisnya itu memeluk dirinya. Seperti biasa, Se Ah menyambut pelukan mamanya dan mencium kedua pipi ibunya itu.
__ADS_1
"Ngapain kak Liam ada disini?" Jutek Se Ah heran akan hadirnya lelaki pemilik kedai es krim itu.
William menatapnya, mengarahkan badannya menghadap Se Ah. Sedangkan gadis itu hanya melihat ke arah tangan William yang mengaduk kopi.
"Kemarin William menginap disini, mama yang minta, kasihan kalau dini hari harus pulang. Lagian kalian ini, jalan kok sampai tengah malam gitu? Untung papa ke Seoul kalau enggak pasti kalian langsung di nikahkan." Omel Anindiya.
Se Ah menatap William tak mengerti, apa lelaki ini tak memberitahukan kejadian kemarin pada mamanya. Manik mata mereka saling tatap kemudian William berpaling dan segera membawa beberapa cangkir kopi diatas nampan dan di letakkannya di meja makan.
"Duduk Se Ah, kita sarapan dulu. William sudah membantu mama membuat kopi." Ucap Anindiya yang sudah duduk di kursinya.
"Punya kamu coklat hangat, kau tak suka kopi kan?" Jelas William yang tahu kerut dahi Se Ah.
"Dari mana ia tahu aku tak suka kopi?" Tanya Se Ah dalam hati kemudian meneguk coklat hangat buatan William. "Ehm... coklat ini enak sekali." teguk Se Ah lagi dan berhasil mengangkat sudut bibir William ke atas.
Mereka pun melahap sarapan pagi yang telah dibuat Anindiya, wanita dewasa itu membuat sandwich kesukaan putrinya.
__ADS_1
"Kenapa papa ke Seoul? apa terjadi sesuatu dengan Oma?" Tanya Se Ah mengingat kembali kata ibunya tentang ayahnya yang berangkat ke Seoul.
"Ada beberapa cabang perusahaan bermasalah dan papa harus menyelesaikannya." Jelas ibunya. "Ya.. sekalian jenguk Oma, kau tahu kan pamanmu itu jarang di Seoul."
"Ehm..." Gumam Se Ah.
"Ehm... kalau kamu kuliah disana saja bagaimana? sekalian kita bisa nemani Oma."
"Kuliah di Seoul?" Tanya Se Ah dalam hati, ia merasa enggan kesana, sudah hampir empat tahun ia jarang ketemu Angga. Kalau dia kuliah disana pasti gak akan bisa ketemu sama Angga. Apalagi kakaknya itu sudah mulai bekerja di kantor ayahnya.
"Se Ah?" Panggil mamanya yang berhasil membuyarkan lamunan Se Ah.
"Akan Se Ah pikirin ma." Ucap Se Ah seraya tersenyum manis pada ibunya.
"Pagi semuanya!" Sapa suara barito yang sangat di kenal Se Ah. Siapa lagi kalau bukan Angga. "Ma, Se Ah dan William..."
__ADS_1
"Apa yang dilakukan William di rumah mama sepagi ini? Bukankah yang dipakai itu bajuku? Ah... apa dia menginap disini? Tapi kenapa?" Tanya Angga dalam hati