Andai Kau Tahu

Andai Kau Tahu
episode 9 - Preman 2


__ADS_3

William melajukan mobilnya dengan kencang, ia kesal dengan gadis manja adik dari sahabatnya itu. Baru kali ini, ia merasa kesal menghadapi gadis kecil seperti itu.


Tapi entah apa yang terjadi pada dirinya, mobilnya perlahan melambat. Hatinya merasa tak tenang, ia mengkhawatirkan Se Ah. Bagaimana pun ia yang bertanggung jawab mengantar Se Ah sampai rumah.


"Aahhh..." Teriak William memukul pengemudi dengan kerasnya kemudian memutar balik mobilnya dan menuju ke tempat dimana Se Ah tadi ia tinggalkan.


Tak berapa lama, ia melihat seorang gadis berlari dengan kencangnya diikuti oleh dua orang yang mengejar tak kalah cepat.


"Se Ah..." Pekiknya. Ia melajukan mobilnya berbalik dengan cepatnya menyusul Se Ah.


Setelah dekat, ia memarkirkan mobil dan berlari ke arah dua orang yang telah mengkungkung Se Ah.


Bruukk... suara tendangan keras melempar salah satu dari mereka ke jalanan.


"Kakak..." Pekik Se Ah pelan tapi masih terdengar oleh William.


Lelaki berbadan tegap itu pun menghajar kedua lelaki yang telah mengganggu Se Ah. William menghajar mereka hingga babak belur. Tetapi tak disangka, ternyata disana adalah markas dari dua orang itu dan teman-teman mereka pun berdatangan.


Senyum kemenangan dua orang bandit itu, sedangkan Se Ah hanya melihat betapa banyaknya orang yang datang dengan ketakutan. William memundurkan langkahnya, mendekati dimana Se Ah berada. Ia menggenggam tangan Se Ah dengan rapat.

__ADS_1


"Bagaimana ini kak?" Gumam Se Ah ketakutan di dekat William.


Tanpa aba-aba William menyeret Se Ah untuk berlari bersamanya. Mereka berlari tanpa menoleh kanan kiri. Se Ah hanya mengikuti langkah William, sesekali ia tersandung dan mencoba bangkit lagi.


Sekarang ia pasrah dengan keadaan, kakinya sudah tak kuat untuk melangkah lagi. Jantung Se Ah sudah berdebar tak karuan.


"Aku capek kak!" Keluh Se Ah.


William melihat ke kanan dan kiri dan melihat ada sebuah box pickup dengan pintunya terbuka. Tanpa berfikir lagi William mengajak Se Ah masuk kedalam dan menutup perlahan.


Se Ah menyandarkan badannya di box yang terasa dingin, ia hanya ingin mengatur nafasnya yang tersengal-sengal. Begitu pula dengan William, lelaki itu memejamkan matanya dan berusaha untuk mengatur nafasnya.


Tiba-tiba terdengar suara orang mengunci box mobil yang membuyarkan lamunan William. Tak lama kemudian deru mesin mobil dinyalakan dan mobil box itu melaju.


Seketika badan Se Ah tersentak saat mobil box itu melaju dan jatuh ke badan William yang berada di depannya. Sontak William memeluk badan Se Ah agar tidak oleng.


William menatap paras cantik yang dari tadi dilihatnya tapi kini lebih dekat dengan wajahnya. Se Ah yang mendongak berhasil membuat saliva William naik turun. Dan ketika sang sopir menambah kecepatan mobilnya, sontak dua insan itu terjatuh.


Badan William hilang keseimbangan, ia tak kuasa menahan badan Se Ah hingga membuat dirinya terjatuh kebelakang. Dan Se Ah terjerembab diatas pelukan William hingga tanpa sengaja membuat bibir mereka bersatu.

__ADS_1


Kedua insan itu saling melotot, terkejut dengan apa yang terjadi. Dengan cepat Se Ah melepaskan pelukan itu, berusaha untuk bangkit dan duduk bersandar di dinding box.


William hanya melihat Se Ah ia seakan ditarik kembali dari fantasi liarnya. Ia pun bangun melepaskan jaket yang dipakainya.


"Pakai ini!"


William melempar jaket miliknya ke depan Se Ah, agar badan Se Ah yang terlihat itu bisa tertutupi sempurna.


William berdiri dan menggedor-gedor box yang didepat sopir, agar mereka mengetahui kalau William dan Se Ah ada di dalam sana. Tak lama kemudian, sang sopir menghentikan mobil dan membuka box miliknya.


"Apa yang kalian lakukan disini?" Tanya sang sopir terkejut melihat dua orang remaja berada disana.


"Kami dikejar penjahat pak, ketika melihat box Bapak terbuka, kami langsung masuk." Jelas Se Ah seraya di bantu William turun dari sana.


"Bisakah Bapak mengantar kami pulang?" Tanya William, melihat tak ada jawaban William mengeluarkan dompet dari sakunya dan memberi beberapa lembar uang ratusan ribu pada Sang sopir.


"Tapi kursi depan sangat sempit jika harus di duduki kalian berdua."


William tak menjawab, ia malah menatap Se Ah seakan menawarkan pada gadis itu apa Se Ah keberatan?

__ADS_1


"Tak masalah pak, kami sudah sangat berterima kasih atas bantuan Bapak." Sahut Se Ah.


__ADS_2