
Hari semakin larut saat Rania tiba di rumahnya.
Tapi nampak rumah besar itu sepi, seperti tak ada siapa-siapa disana. Penjaga rumahnya pun tak kelihatan.
Angga memencet klakson berkali-kali, biasanya tanpa memencet klakson penjaga rumah Rania sudah membukakan pintu.
"Aku turun kak, mungkin beliaunya tertidur." Ucap Rania. "Terima kasih ya kak."
"Kau yakin?" Tanya Angga yang merasa khawatir.
Rania menganggukkan kepalanya, kemudian membuka pintu mobil.
"Ehm... Ran... mau kah kau membantuku? Aku ingin membuat pesta kejutan ulang tahun untuk Se Ah."
"Tentu Kak."
Senyum manis Rania mengiringinya keluar dari mobil Angga.
Tiba-tiba ada seorang lelaki membukakan pintu gerbang rumah Rania, lelaki yang biasanya siap untuk membuka pintu.
"Maaf nona saya ketiduran." Ucap lelaki paruh baya yang bernama Tito.
"Ow.. ya gak papa." Jawab Rania.
__ADS_1
"Aku balik dulu ya!" Pamit Angga yang hanya mengintip dari kaca mobil.
"Ya kak.. terima kasih."
****
Se Ah menggerutu sendiri sepanjang jalan, sudah beberapa menit ia berjalan tidak ada taksi melintas. Ia mencoba membuka aplikasi taksi online pun tak ada sama sekali yang menyahut.
Se Ah ingin sekali mengutuk lelaki bernama William itu, bagaimana bisa ia membiarkan gadis remaja jalan sendirian di malam gelap seperti ini.
Se Ah terus berjalan sesekali menoleh ke kanan kiri berharap ada taksi atau mobil atau motor atau apapun itu untuk mengantar dirinya pulang kerumah.
Se Ah sedikit merasa heran, jalan yang biasanya ramai lalu lalang mobil entaj kenapa malam ini tak ada satu pun mobil yang melewatinya.
"Hai manis..." terdengar suara lelaki dari arah belakangnya.
"Ya Tuhan... tolong hamba-Mu ini!" Seru Se Ah dalam hati
"Hei.. kenapa kau takut? Kami orang baik." Jelas salah satu dari mereka yang menghadang jalan Se Ah.
"Kami akan mengantarmu gadis manis." Celoteh salah satu dari mereka dengan tersenyum sarkas.
"Jangan mendekat, atau aku akan teriak."
__ADS_1
Coba Se Ah melindungi dirinya, baru kali ini ia berada di situasi yang tak menyenangkan.
"Teriak saja!" Ucap mereka seraya memegang tangan Se Ah.
"Jangan sentuh aku!" Teriak Se Ah dengan mengibaskan tangan kekar yang memegangnya.
"Ow.... garang sekali... aku takut!" Ejek mereka yang terus mendekati Se Ah.
Gelak tawa terdengar diantara mereka berdua, menertawakan gadis manis nan cantik di depannya yang berubah menjadi pucat.
"Aku bilang, jangan mendekat!" Teriak Se Ah kemudian menendang kaki salah satu dari mereka dan berlari sekencang-kencangnya.
"Tolong....tolong." Teriak Se Ah berkali-kali dengan terus berlari tanpa arah.
Se Ah bukan pelari handal, langkahnya dengan mudah diikuti oleh kedua lelaki yang tak dikenal itu. Tangan Se Ah di cengkram kuat, bahkan terasa kuku mereka menusuk ke kulit putih Se Ah.
"Lepaskan aku!" Pinta Se Ah, ia memohon dengan mata yang sudah berkaca-kaca.
"uh... cup..cup... jangan menangis, aku gak suka melihat cewek cantik menangis." ujar salah satu dari mereka dengan menjambak rambut Se Ah.
Se Ah menjerit ketakutan dan merasakan sakit di kepalanya. Ia mencoba memberontak, menggerak-gerakkan badannya, memohon untuk dilepaskan. Tapi mereka berdua menahan Se Ah dengan sangat kuat.
Se Ah di seret dengan kasar, mendorong dirinya ke sebuah tembok besar dan merobek jaket yang Se Ah gunakan. Hingga terlihat sesuatu menantang disana, membuat dua lelaki yang sudah dikuasai hasrat itu menelan salivanya.
__ADS_1
Tiba-tiba, bruukk... suara tendangan keras melempar salah satu dari mereka.
"Kakak..." Pekik Se Ah