
Sepanjang perjalanan, Se Ah hanya terdiam, ia melihat keluar jendela dengan sesekali air mata yang menetes. William yang masih setia duduk di belakang kemudi hanya sesekali menoleh ke arah Se Ah tetapi ia tak berani untuk bertanya apa pun. Ia tak mau mengusik gadis di sebelahnya itu.
William memarkirkan mobilnya di depan cabang ke dua kedai es krim miliknya, "Turunlah, tunggu aku di dalam." Ucap William kemudian turun.
Ia telah ditunggu dua orang karyawan lelaki yang siap menunggu perintahnya. Se Ah hanya melihat apa yang dilakukan William, karena bosan dirinya turun mengikuti William masuk ke kedai. Tak lupa ia mengusap sisa air matanya dengan tisu dan memakai bedak untuk menutupi sembab di wajahnya.
Kedai kedua ini lebih besar dari pada yang ada di depan sekolah Se Ah, kedai ini lebih mirip dengan cafe dari pada kedai es krim biasa. Bahkan menu disini lebih banyak variannya.
Se Ah melanjutkan langkahnya mengikuti William hingga bruukkk... Gadis itu menabrak dada bidang William.
"Kau ini!" Pekik William seraya menggeleng-gelengkan kepala. "Jalan yang benar, ada orang segede gini ditabrak aja!"
Se Ah hanya nyengir kuda pada William, ia memang salah karena sedari tadi matanya kesana kemari tak menyadari kalau William berdiri disana.
"Ayo!" Ajak William seraya memegang tangan Se Ah. Ia mengajak Se Ah ke belakang kedai dan naik tangga yang ada disamping kedai.
"Tunggu aku disini, jangan kemana-mana sebentar lagi es krim favoritmu datang!" Perintah William yang sudah memesankan es krim kesukaan Se Ah.
Gadis itu hanya patuh dan menunggu es krimnya, tak lama kemudian seorang pelayan wanita menghampiri dan memberikan es krim pesanan William untuk Se Ah
"Ini mbak... Selamat menikmati!" Ucap pelayan itu.
"Terima kasih." Ucap Se Ah seraya tersenyum.
"Ehm.. mbak nya cantik."Gumam pelayan perempuan itu perlahan tapi masih terdengar oleh Se Ah.
__ADS_1
"Terima kasih kak." Jawab Se Ah tak lupa memberi senyum manisnya.
Se Ah menatap punggung pelayan itu hingga menghilang. Kemudian mulai menikmati es krimnya perlahan, ia merasakan manis dan dinginnya es krim seakan bisa melumerkan rasa sesak di dadanya.
Kejadian tadi pagi membuat gadis yang baru saja merasakan kebahagiaan yang diberikan oleh Angga kemarin, seketika berubah menjadi kesedihan yang sangat dalam.
Sosok Angga dan Rania yang berpelukan tanpa busana diatas ranjang masih tergambar jelas di pikirannya. Rasa sesak kembali muncul, matanya pun mulai memanas.
"Kenapa kau melakukan ini semua padaku kak? Seandainya kemarin kau tak mengucapkan rasa cinta itu mungkin tak akan sesakit ini." Gumam Se Ah yang mengembalikan tetesan air mata jatuh di pipi mulusnya.
William naik ke lantai dua, ia menatap Se Ah yang memakan es krim dengan pandangan entah kemana. "Apa yang terjadi padamu Se Ah?"
William segera duduk di sebelah Se Ah, mencoba menanyakan lagi apa yang ia tanyakan. Tapi bukan jawaban yang ia terima, justru Se Ah menatapnya dan memeluk William dengan erat. Ia menangis tersedu disana, meletakkan wajahnya di dada bidang milik William.
William hanya bisa membalas pelukan Se Ah, mengusap rambut Se Ah perlahan, mencoba untuk menenangkan gadis itu. Se Ah semakin tersedu-sedu, tangisnya pecah dan berhasil menyayat hati William.
Setelah beberapa lama Se Ah melepaskan pelukan William, menunduk dengan sisa isak tangis yang masih terdengar.
"Apapun yang terjadi aku bersamamu Se Ah." Ucap William dalam hati, seraya mengusap air mata Se Ah dengan ibu jarinya.
"Kak Angga jahat padaku!" Rengek Se Ah, gadis manja itu mulai merajuk pada William. "Ia bilang cinta padaku, tapi ia tidur dengan Rania." Jelas Se Ah kembali menangis.
"Tidur dengan Rania? tapi setahu aku Angga bukan lelaki seperti itu." Pikir William.
"Sudahlah, mungkin mereka khilaf."
__ADS_1
"Khilaf... Alasan klasik yang dibuat lelaki jika telah melakukan kesalahan." Marah Se Ah seraya memukul dada bidang William.
"Aw... kenapa marahnya sama aku? Aku kan cuma...."
"Salah sendiri belain kak Angga."
"Siapa yang belain Angga, aku cuman...."
"Udah ah... gak usah bela diri sendiri."
"Eh... siapa yang bela diri sendiri? aku kan..."
"Aku bilang udah ya udah kak! aku capek berdebat terus sama kakak."
"Ya... iya... udah. Tapi mukanya gak gitu juga." Kata William seraya mencubit bibir Se Ah setelah melihat bibir Se Ah sudah maju.
"Ih... apaan sich kak sakit!" Pekik Se Ah yang masih dengan bibirnya yang maju. "Kak Liam...!!!"
Melihat rengekan Se Ah, William bukannya prihatin ia malah tertawa terbahak-bahak. Bagaimana tidak bibir gadis itu yang mecucu sangat menggelitik hatinya. "ih... jahat... kenapa malah ketawa? Aku ini patah hati tahu!" Rajuk Se Ah seraya mencubit pinggang William.
"Aw... aw... sakit!" Pekik William. "Sudah Se Ah... sudah..." William yang masih tertawa dan di cubiti oleh Se Ah.
"Kak Liam nyebelin... nyebelin." Se Ah bersedekap dan berbalik tak mau menghadap William.
Menyadari itu William berpindah menghadap Se Ah dan memegang kedua lengan gadis itu. "Habis bibir kamu itu loh... seperti bebek." Kata William dengan menirukan gaya Se Ah.
__ADS_1
"Kak Liam!!"