
tapi tak seharusnya kakak melakukan ini kan?"
"maaf... " ucap Angga memeluk tubuh adiknya yang masih sesenggukan. " Aku gak mau kamu jadi milik orang lain, kamu hanya milikku, hanya milikku."
Se Ah menatap Angga tak percaya, apa maksud kakaknya kalau dirinya hanya miliknya. Seperti mengerti dengan tatapan Se Ah, Angga pun mengangguk. "Aku mencintaimu Se Ah."
Mata Se Ah memburam, ia merasa terharu dengan apa yang telah Angga ungkapkan. Se Ah tak menyangka kalau ternyata kakaknya juga mencintainya.
"Kakak serius dengan apa yang kakak ucapkan?"
"Ya... kakak mencintaimu, maaf jika kakak baru menyadari hal ini."
"kak!" Ucap Se Ah seraya memeluk Angga dengan erat.
Angga membalas pelukan Se Ah, ia begitu sayang pada adiknya. Ini semua berkat William, seandainya lelaki itu tak mendekati Se Ah, Angga tak akan tahu bagaimana perasaannya terhadap adik angkatnya itu.
Angga melepas pelukan Se Ah, ia menatap dalam ke manik mata adiknya. "Jangan menangis lagi ya!" Larang Angga seraya mengusap air mata Se Ah dengan ibu jarinya kemudian mencium dahi Se Ah dengan takzim.
Bukannya meresapi dan merasakan ciuman Angga malah Se Ah memukul dada Angga. "Habis kakak kasar banget, sakit tahu."
"eh... sakit mana sama kakak, ni lihat sampai berdarah." Kata Angga dengan menunjuk bibirnya. "Dan ini juga sakit." Rengek Angga memegang tangan Se Ah dan mengusap perlahan ke pipi yang telah ditampar Se Ah.
"Makanya kalau mau nyium orang izin dulu." Ucap Se Ah dengan memanyunkan bibirnya.
"Ya... bebekku sayang!"
Angga menggoyangkan dagu Se Ah dengan gemasnya kemudian memeluknya lagi.
"Ehm... kakak pulang dulu ya! gak enak kalau tidur disini, mama dan papa gak ada."
Se Ah hanya menganggukkan kepalanya tanda setuju, meskipun Angga sudah menganggap rumah Mo Ryung itu rumahnya juga, tapi ketika Se Ah hanya tinggal dengan asisten rumah tangga, Angga tak berani menginap disana.
Kring....kring... Bunyi ponsel Angga berhasil menghentikan langkahnya.
__ADS_1
"Halo ma..!"
"Gimana Se Ah? udah ketemu?" Tanya Anindiya dengan nada penuh kecemasan.
"Sudah ma... mama tenang saja. Bagaimana dengan oma?" Balas Angga bertanya tentang keadaan Oma.
"Oma?" Tanya Se Ah pada Angga dan dirinya mulai mendekati Angga.
Angga pun mengerti, kemudian ia mengeraskan suara panggilan ponselnya. "Oma masih di ICU!"
"Apa yang terjadi dengan oma, ma?" Sahut Se Ah mengkhawatirkan keadaan Omanya.
"Siang tadi Oma tiba-tiba kena serangan jantung dan belum sadar hingga sekarang Se Ah. Doakan Oma ya!"
"Ya ma... Se Ah selalu doakan Oma. Se Ah kesana sama kak Angga ya!" pinta Se Ah.
"Kamu istirahat saja dirumah, pasti capek habis keluar seharian. Tenang saja nak....disini udah ada mama, papa dan paman Jung Su. Besok saja baru kesini." Perintah sang mama.
"Oya selama mama merawat oma, Se Ah... jangan bertindak seperti ini lagi ya? mama khawatir."
"Sementara ini, Mama titip Se Ah sama kamu ya Ga!"
"Ya ma."
"Se Ah nurut apa kata kak Angga. Jangan pernah membantah."
"Baik ma..."
Setelah selesai bicara Anindiya menutup ponselnya, begitu pula dengan Angga. Se Ah mendudukkan dirinya di sofa, mengusap perlahan wajahnya. Sungguh ia merasa khawatir pada kondisi Omanya.
"Padahal di pesta kemarin Oma terlihat baik-baik saja, tapi kenapa sekarang malah sakit lagi?" Gumam Se Ah dalam hati.
Angga mendudukkan dirinya disamping Se Ah mengelus pundak Se Ah perlahan, mencoba untuk menenangkan adik angkatnya itu.
__ADS_1
"Sudahlah Se Ah, Oma pasti segera sembuh."
"Ya kak..."
"Kenapa tadi tiba-tiba menghilang? Kau kesal dengan siapa?" Tanya Angga mengingatkan kembali dengan apa yang dilakukan Se Ah. ia tahu kebiasaan adiknya yang suka menyendiri jika ada masalah.
"Aku cuma pengen sendiri aja kak."
"Sendiri? Bukannya kamu dengan William?" Tanya Angga yang entah kenapa hatinya merasa sangat sakit tadi saat melihat Se Ah memeluk William.
"aku gak sengaja ketemu kak Liam lalu diajak jalan, ya udah.. dari pada gak tahu mau kemana , aku ikut aja. Lagi pula kak Liam kan jarang bicara jadi ya gak berisik."
"Kak Liam?" Tanya Angga yang penasaran dengan panggilan Se Ah pada William.
"William kak, namanya kepanjangan ya udah aku panggil Liam aja."
"Kamu ini! merubah nama orang seenaknya." Celoteh Angga dengan mengusap lembut puncak kepala Se Ah.
"Kakak... kan rambut Se Ah jadi berantakan."
"Ya.. ya... ya udah cepet mandi lalu segeralah istirahat, besok kau harus sekolah." Perintah Angga yang hanya diangguki oleh Se Ah
"Kakak pamit ya! Besok pagi kakak jemput.!" Pamit Angga seraya beranjak dari tempat duduknya.
"Ok kak..." Jawab Se Ah.
"Tumben tak ada rengekan kakak suruh tidur sini?" Tanya Angga merasa heran.
"Lagi males ngliat kakak." Jawab Se Ah asal.
"Masa?"
"Udah Ah... nanti panjang, katanya Se Ah harus istirahat."
__ADS_1
"Ya Udah, met bobok adik manisku. Kakak pulang!" Pamit Angga lagi.
Angga keluar dari rumah Se Ah dengan hati yang begitu gembira, ia bersyukur karena Se Ah juga mencintainya. Jika Se Ah mencintai William, ia tak tahu harus berbuat apa.