
Rania berlari menuju kamarnya tak menghiraukan panggilan sang ayah, ia hanya merutuki nasibnya yang harus kehilangan kesuciannya di masa sekolah.
Ia terduduk di belakang pintu kamar, menguncinya dan menangis sejadi-jadinya. Ia meluapkan rasa sedih, sakit hati dan kekecewaan pada Angga.
Apa yang bisa ia lakukan sekarang kalau tidak dengan menangis, Angga yang ia kagumi telah berani mengambil kesuciannya disaat dirinya tidak sadar bahkan lelaki itu tak mau bertanggung jawab atas semua yang terjadi. Malah ia mengelak dan menuduh dirinyalah yang memfitnah Angga.
Demi Tuhan, dipikiran Rania tidak pernah terbersit pikiran mesum seperti itu bahkan mencoba untuk membayangkannya saja ia tak berani. Ia tahu bahwa Angga adalah milik sahabatnya. Sahabat yang selalu ada untuk dirinya baik sedih maupun senang.
"Rania..." Coba Ramdhan memanggil putrinya. "Buka pintunya nak! Kita cari jalan keluar bersama-sama!"
Ramdhan berkali-kali mencoba membujuk putrinya tapi hanya ada suara tangisan tanpa pergerakan disana.
"Pa... sudahlah! mungkin Rania butuh sendiri sekarang." Coba Alexa membujuk sang suami dengan lembut.
"Apa kau tidak mengerti keadaan Rania sekarang, ia butuh teman, ia butuh orang yang menyayanginya untuk menghiburnya, menenangkan dirinya."
"Iya aku tahu, tapi apa tidak..."
__ADS_1
"Cukup Alexa... kau memang dari dulu tak pernah mencintai putriku!" Bentak Ramdhan pada Alexa yang mencoba mencegah dirinya menenangkan Rania.
Alexa pergi dengan kemarahannya dan Ramdhan masih terdiam di depan pintu kamar Rania, ia hanya melihat kepergian Alexa dengan tatapan nanar.
Ramdhan tahu seperti apa istrinya, wanita itu tidak pernah menganggap Rania sebagai putrinya. Jujur bukan salah Alexa melainkan salah dirinya yang tidak pernah mencintai wanita itu.
Entah kenapa Ramdhan tidak bisa mengganti posisi ibu Rania dengan Alexa. Setiap kali dirinya bersama Alexa hanya wajah ibu Rania yang hadir.
Ramdhan menikahi Alexa hanya karena paksaan sang ayah agar Rania memiliki seorang ibu. Dan juga dorongan Aldo yang tak lain adalah teman istrinya agar Ramdhan tak terpuruk atas kehilangan istrinya.
Awalnya Ramdhan mencoba untuk mencintai wanita itu, membuatnya bahagia dan mecoba menjadi suami yang baik tetapi saat Ramdhan mengetahui bahwa Alexa mencintai lelaki lain hatinya tak bisa menerima.
Di rumah sakit,
Se Ah melangkahkan kakinya dengan cepat ke arah kamar sang nenek, ia mendapat kabar kalau neneknya sudah sadar.
"Pa..." Sapa Se Ah kemudian memeluk ayahnya yang sedang duduk di sofa di dalam kamar rawat inap nenek. "Bagaimana keadaan oma?"
__ADS_1
"Sudah baikan, sekarang masih di periksa oleh dokter." Jawab Mo Ryung dengan menatap ke arah lelaki yang berdiri di belakang Se Ah.
Se Ah melihat pandangan ayahnya yang tertuju pada William. "Dia... kak Liam teman kak Angga."
William melangkah mendekati Mo Ryung dan mengulurkan tangannya seraya tersenyum, "William."
"Mo Ryung." Balas Mo Ryung yang juga menjabat tangan William hangat. "Duduklah dulu mungkin sebentar lagi nenek kembali."
"Aku ke belakang sebentar pa.." Pamit Se Ah dan pergi menuju kamar mandi yang tak jauh dari sana.
"Apa Se Ah habis menangis?" Tanya Mo Ryung tanpa basa basi.
"Ehh.... iya om, tapi maaf saya tidak tahu kenapa." Jawab William jujur tanpa menutupi dari Ryung.
"Bukan karena kamu?."
"Bukan om... saat saya bertemu Se Ah, dia sudah menangis dan saya hanya berusaha menenangkannya."
__ADS_1
"terima kasih." Ucap Mo Ryung dengan senyum mengembang, entah kenapa ia suka berbicara dengan lelaki disampingnya itu, ia merasa bahwa lelaki itu bisa menjaga Se Ah dan membahagiakan putrinya.