
Baik William maupun Ryung sama-sama terdiam mereka berada pada pikiran masing-masing. Hingga suara pintu terbuka dan di susul dengan oma yang duduk di kursi roda didorong oleh sang istri.
"ma... bagaimana?" Tanya Mo Ryung pada ibunya.
"Semuanya baik, tidak ada masalah ya kan Nin?" Tanya ibu Mo Ryung menegaskan bahwa dirinya baik-baik saja.
"William." Panggil Anindiya ketika melihat William berdiri tepat di samping Mo Ryung. "Sama siapa Wil?"
"Se Ah tante." Jawab William kemudian mencium tangan Anindiya dan nenek Se Ah.
"oma..." Panggil Se Ah sumringah saat baru keluar kamar mandi dan menjumpai omanya.
"sayang...." balas sang oma seraya memeluk cucu kesayangannya.
"oma... maaf Se Ah tak menemani oma." Ucap Se Ah menyesal karena disaat omanya jatuh sakit dia tak bisa mendampinginya.
"Oma baik-baik saja sayang..." Jawab nenek Se Ah yang sudah terbaring di ranjang rumah sakit.
__ADS_1
"Ini siapa?" Tanya Oma seketika melihat seorang lelaki berwajah tampan berdiri tegak disamping putranya.
"William oma."Jawab William dengan senyum simpul yang menambah ketampanannya.
"Kekasihnya Se Ah?" Oma yang merasa senang melihat lelaki yang di ajak cucunya itu. Se Ah bukan gadis yang mudah untuk di dekati lelaki selama ini hanya Angga yang bisa dekat dengan dirinya.
"Bukan oma, kak Liam ini temannya kak Angga." dengan suara pelan menyebutkan nama yang baru saja melukai hatinya hingga membuat Anin dan Mo Ryung mengerutkan dahi. Betapa tidak, biasanya putri manjanya itu semangat jika menyebutkan nama Angga.
"Oya, dimana cucu tampan oma itu?" Tanya nenek Se Ah yang tak melihat kehadiran Angga.
"em... kakak..." jawaban Se Ah terputus, karena ponsel miliknya tiba-tiba berdering dan tertera nomer rumah Rania disana.
"Siapa nak?" Tanya Anin yang heran melihat Se Ah tak menjawab ponselnya karena selama ini Se Ah tak pernah melakukan itu.
"Gak penting ma." Jawab Se Ah sekenanya, namun ponsel itu berdering lagi.
"Jawab dulu nak, mungkin penting" pinta sang nenek.
__ADS_1
Se Ah menatap neneknya kemudian dengan malas keluar dari ruang rawat itu dan berdiri disana. Bukannya mengangkat, Se Ah hanya memandang ponselnya saja.
"Siapa?" Tanya William yang ternyata membuntuti Se Ah dari belakang.
Gadis itu terdiam, tak menjawab sepatah katapun pertanyaan William hingga dering ponsel miliknya mati dan berbunyi lagi.
"Se Ah..."Panggil William lagi yang akhirnya membuat Se Ah menunjukkan layar ponselnya dan bertuliskan rumah Rania.
"Se Ah... lari dari masalah itu tak baik." cetus William
Gadis itu menatap William yang tepat berdiri di depannya. Bagaimana bisa lelaki ini memintanya untuk menerima panggilan telfon dari orang yang telah mengkhianati Se Ah.
"Mendengarkan penjelasannya sebentar tak akan buruk." Jelas William yang sepertinya mengerti tatapan Se Ah. "Jawab dan dengarkan dulu?"
Entah kenapa Se Ah patuh saja dengan permintaan lelaki yang baru dikenalnya itu, dengan perlahan gadis itupun menjawab telfon dari Rania.
"Halo.." Sapa Se Ah
__ADS_1
"Halo Se Ah, ni tante mamanya Rania. Tante minta tolong sama kamu segera kesini ya! tante takut terjadi apa-apa pada Rania karena setelah kedatangan Angga, dia tak mau keluar kamar." Kata mama Rania panjang lebar