
Sejak kepulangan William tadi pagi, Se Ah masuk kedalam kamarnya. Ia merasa malas melakukan aktifitas apa-apa, yang ia inginkan hanya rebahan di kamar dan menutup bola matanya.
Kata-kata Angga yang meminta Se Ah bersiap-siap memanggil Rania kakak, membuat dirinya lemas dan dadanya terasa sesak. Ia tak terima jika Angga menyukai sahabatnya itu.
tok...tok..tok... terdengar pintu kamar Se Ah di ketuk dari luar dan dibuka perlahan oleh Anindiya.
"Mama kira tidur." Ucap Anindiya yang melihat putri semata wayangnya yang menatap langit-langit kamar. "Ada apa? mikirin William?"
"William, apa hubungannya dengan William?" Pikir Se Ah melihat Anindiya yang duduk di pinggir tempat tidur.
"Dia memang tampan dan menyenangkan Se Ah. Kalau mama perhatikan, dia juga cinta sama kamu." Jelas Anindiya.
"Mama ngomong apa sich? siapa yang mikirin Liam?" sewot Se Ah.
"Liam? Panggilan kesayangan William ya?" Goda mama Se Ah
"Panggilan kesayangan apaan ma? namanya aja kepanjangan jadinya Se Ah lebih enak manggil dia Liam." Jelas Se Ah menyandarkan dirinya di kepala tempat tidur.
"Masa?" Coba Anindiya menyelidik.
"Ya mamaku sayang..." tekan Se Ah. "Lagian mama ngapain sich, kok bilang Liam cinta sama Se Ah? amit-amit kalau Se Ah suka sama dia."
"Kok gitu, dia itu kan..."
__ADS_1
"Gak usah nyanjung dia ma, dia itu cowok super nyebelin dan gak ada di kamus Se Ah untuk suka cowok dingin kayak dia."
"hem... Jangan gitu, benci sama cinta itu beda tipis." Ucap Anindiya.
"ah... mama sok tahu."
"Ya udah kalau gak percaya sama mama, oya lebih baik ikut mama jalan-jalan yuk, dari pada kamu tiduran aja di kamar." Ajak Anindiya
"Males ah ma... paling juga ke mall, kemarin aku udah jalan sama Rania" Oceh Se Ah.
"Kan sama Rania, sekarang sama mama." Jelas Anindiya. "Ayolah... sebelum mama nyusul papa ke Seoul."
"Ke Seoul?" Tanya Se Ah sedikit terkejut dan hanya dijawab anggukan oleh Anindiya. "Terus Se Ah gimana?"
"Ya mama..." rengek Se Ah
"Mama cuma bentar, kangen sama papa." Goda Anindiya pada putrinya.
"Ih.. mama sok genit." celoteh Se Ah yang membuat Anindiya tersenyum merekah.
"Udah Ah... ayo berangkat!" Ajak Anindiya seraya membantu putrinya beranjak dari tempat tidur.
Tak lama kemudian, mereka pun menyusuri kota yang super padat dan tiba di sebuah mall terbesar disana. Se Ah yang awalnya tak antusias sama sekali, akhirnya pasrah dengan ajakan mamanya.
__ADS_1
Ia hanya melihat sang mama yang beberapa kali menunjukkan baju pada dirinya, untuk meminta pendapat Se Ah. Gadis itu hanya mengangguk jika dilihat baju itu cocok dengan mamanya dan menggeleng jika tidak cocok.
Hingga matanya yang dari tadi disibukkan oleh sang mama, akhirnya berpindah ke seseorang yang sangat dikenalnya. Ya.. sosok yang tadi pagi datang ke rumah dan mengatakan Rania akan menjadi kakaknya.
Tampak kakak tampannya itu menggandeng seorang cewek yang juga tak asing bagi Se Ah tapi dia masih tak bisa melihat wajah gadis itu. Angga membawa gadis itu ke sebuah toko perhiasan yang sangat terkenal disana. Hanya orang-orang yang tajir melintir dan para selebriti yang biasa berkunjung kesana.
Se Ah diam-diam mengikuti Angga dan meninggalkan mamanya yang sedang mencoba pakaian di butik langganannya itu.
Se Ah melihat kakaknya mengambil sebuah kotak perhiasan yang di berikan pelayan toko, sepertinya Angga sudah memesan beberapa waktu yang lalu.
Kemudian Angga melihat-lihat pajangan yang lain dan meminta pelayan untuk mengambilkannya.
"Rania..." Pekik Se Ah ketika Angga memutar wanita yang bersamanya dan terlihat jelas wajah Rania yang tersenyum bahagia.
Dan yang membuat Se Ah seakan mau pingsan, ketika Angga memakaikan sebuah kalung berlian di leher Rania dan senyum yang tak kalah manisnya terlihat jelas diwajahnya.
Se Ah memundurkan kakinya perlahan, memegang dadanya yang terasa sangat sesak.
"Jadi benar apa yang dikatakan kak Angga tentang perasaannya terhadap Rania." Gumam Se Ah dalam hati.
Matanya pun terasa panas dan memburam. Ia segera berbalik, berlari sekencang apa yang ia bisa. Tangannya sesekali memukul-mukul dadanya agar rasa sesak itu segera hilang.
Air mata yang sudah memburam sejak tadi, akhirnya jatuh diatas pipi mulus miliknya. Dengan kasar, Se Ah mengusap air matanya tanpa mempedulikan pandangan setiap orang yang melihat dirinya.
__ADS_1
Tapi tiba-tiba... Brukkk, Se Ah menabrak dada bidang di depannya. Se Ah berhenti dan mendongak ke wajah tampan yang menatapnya.