Andai Kau Tahu

Andai Kau Tahu
episode 17 - Kenapa aku harus menuruti dia?


__ADS_3

Siang itu di kedai es krim milik William, Se Ah duduk sendirian dengan menikmati rice krispy chocholate ice kesukaannya. Ia memang berniat kesana sendirian tanpa mengajak siapa pun.


Se Ah hanya ingin mengurangi atau kalau bisa menghilangkan perasaan cintanya pada Angga. Ia sudah memikirkan bahwa apa yang dikatakan papa memang benar. Kalau cinta itu tak harus memiliki, tapi hatinya seakan masih tak mau menerima itu.


Rasa cinta Se Ah pada Angga begitu besar, bahkan tiada hari mendengar suara Angga. Dulu saat Angga masih sekolah di London, tiap hari Se Ah menghubunginya. Bahkan jika Se Ah sedang libur ia akan rela berangkat ke London untuk memberi kejutan pada kakaknya itu.


Se Ah memang tak memberi tahu Angga soal hatinya, egonya terlalu tinggi jika ia harus menembak Angga. Tapi kalau sudah begini, penantian dia agar Angga menembaknya ternyata sia-sia. Angga lebih memilih sahabatnya dari pada dirinya.


Tak terasa air mata Se Ah terjun begitu saja, mengingat semua kenangan indah bersama Angga hingga kejadian dimana ia melihat Angga memakaikan kalung ke leher Rania.


"Andai kau tahu hatiku kak..." gumam Se Ah dalam hati.


Se Ah menikmati es itu sesuap demi sesuap, sesekali ia mengusap kasar air matanya yang tanpa malu membasahi pipinya.


"Cukup." Suara Barito terdengar membuyarkan lamunan Se Ah. "Apa kau tak kenyang memakan itu semua?"


Se Ah mendongakkan wajahnya, memandang seseorang yang sedang duduk di depannya. "Sejak kapan dia ada disini?" Tanya Se Ah dalam hati.


"Kenapa menatapku seperti itu? aku bukan hantu. Aku sudah dari tadi disini." Ucap William seakan tahu apa yang ada di hati Se Ah.


Se Ah memalingkan wajahnya memandang lalu lalang orang yang beraktifitas di padatnya kota lewat kaca di sebelahnya.


"Jijik melihatku?" Tanya William dan tanpa menunggu jawaban gadis itu, William beranjak dari tempat duduknya dan menggenggam tangan Se Ah. Tepatnya menarik tangannya hingga dirinya berdiri dan mengikuti langkah William.


"kak Liam... es krim ku belum habis." Rengek Se Ah yang sekarang berjalan dengan kesusahan.


Bruukk... Kepala Se Ah membentur dada William yang tiba-tiba berhenti dan berbalik menghadapnya.

__ADS_1


"Aduh.... kalau berhenti bilang dong!" protes Se Ah dengan mengusap kepalanya yang terasa sakit. "Badan kakak itu kayak batu, keras sekali."


"Jangan cerewet." Larang William kemudian melanjutkan langkahnya dan berhenti tepat di depan motor sport berwarna biru putih. Ia menaiki motornya dan melemparkan helm ke arah Se Ah.


Se Ah dengan sigap menangkap helm itu, "Dasar... gak sopan." umpat Se Ah.


"Naik!" Suruh William yang sudah memakai helmnya. Se Ah hanya melihat helm yang dipegangnya dan tidak menggubris perintah William. "Se Ah... naik!" suruh William lagi.


Se Ah tersentak, ia segera memakai helm dan duduk di jok motor belakang William. Setelah Se Ah siap, William meraih tangan Se Ah dan melingkarkan di pinggangnya.


"Eh... kenapa aku harus menuruti dia?" Pikir Se Ah setelah sadar. "Kita mau kemana?" Teriak Se Ah di telinga William seraya akan melepaskan tangannya tapi dengan cekatan William menambah laju motornya hingga Se Ah harus merapatkan kembali pegangannya.


"Kak Liam... kita mau kemana?" Tanya Se Ah lagi yang masih tak dijawab oleh William. Dengan kesalnya Se Ah mencubit perut William kuat-kuat hingga membuat motor William oleng dan lelaki itu hampir saja menabrak orang.


William meminggirkan motornya, meminta maaf pada orang yang hampir saja celaka itu. "Maafkan saya Bu... saya tidak sengaja." Ucap William pada wanita paruh baya yang terduduk di aspal dan membantunya untuk duduk di tepi trotoar.


Dengan cekatan William memberikan air mineral yang selalu ada di motornya. "Ini Bu minumlah..." Kata William seraya membukakan segel air minum dan memberikan pada sang ibu.


Se Ah hanya melihat apa yang dilakukan William, mulai memapah wanita paruh baya itu untuk minggir, memberi ia minum hingga wanita itu pergi dari sana.


"Kau gila ya!" Umpat William pada Se Ah yang masih berdiri mematung di samping motor. "Naik!" Suruh William lagi


"Maaf!" Ucap Se Ah perlahan, ia sadar dengan apa yang dilakukannya tadi. "Tapi itu semua kan gara-gara kak Liam. Kalau saja kak Liam tadi jawab pertanyaan Se Ah, semua gak akan terjadi."


"Ow... jadi sekarang kamu nyalahin aku?" Bentak William tak terima.


"Iya lah..." Balas Se Ah dengan nada tak kalah tinggi. "Kak Liam kenapa gak jawab pertanyaan Se Ah, mau nyulik Se Ah kan?"

__ADS_1


Plettak... sentilan keras mendarat di dahi Se Ah.


"Au.." Pekik Se Ah seraya mengelus dahinya yang sakit.


"Jangan pikir macam-macam, siapa yang mau nyulik kamu." Jelas William "Dan satu hal lagi, jangan panggil aku Liam, nama apa itu!" larang William. "Liam... lucu juga." gumam William dalam hati dan sedikit mengangkat sudut bibirnya.


"Naik!" Perintah William


"kak Li...William mau ngajak aku kemana?" Tanya Se Ah masih penasaran.


"Udah naik, nanti juga tahu."


"Kasih tahu dulu, baru aku naik."


"Ehm.. apa mau ditinggal lagi... ha?" tanya William seakan mengingatkan kejadian saat Se Ah meminta turun dari mobilnya. Tanpa diminta lagi gadis itu naik ke motor William. Ya... meskipun dengan bibir bebeknya.


Tak butuh waktu lama, mereka berdua tiba di sebuah taman wisata hutan mangrove. Sebuah taman yang terlihat hijau dengan dedaunan mangrove yang lebat dan segar.


Udara yang segar seakan merubah pikiran penat menjadi lebih rileks. Apalagi di tambah dengan suguhan air sekitarnya yang jernih dan nampak hijau.


Se Ah tak sabar menunggu William mengantri di loket, ia berjalan menikmati suasana di sekitar sana. Ia menunggu dengan memandang air jernih di depannya, ingin rasanya ia terjun dan berenang untuk menghilangkan rasa penatnya.


"Ayo!" Ajak William yang membuat senyum merekah hadir di wajah Se Ah.


*****


Terima Kasih yang udah setia baca novel aku ke empat ini, novel yang masih perlu banyak belajar lagi.

__ADS_1


Mohon untuk like, vote dan komennya ya... reader baik hati😘😘😘


terima kasih


__ADS_2