
Sang surya menyambut pagi ini begitu cerah, secerah hati Angga yang akan membuat pesta kejutan untuk ulang tahun adik angkatnya. Sudah hampir empat tahun Angga tidak merayakan ulang tahun gadis manjanya itu. Kali ini ia ingin membuat pesta yang tak terlupakan oleh Se Ah dengan bantuan Rania.
Angga memakai jas lengkap kebesarannya hendak pergi ke kantor Yoon Entertainment. Ini adalah hari kedua ia bekerja dengan asisten ayahnya, Rendy.
"Kamu gak sarapan Ga?" Tanya Dae Jung yang melihat putranya hanya melewati meja makan.
"Aku sarapan di rumah Se Ah aja pa." Jawab Angga
"Ehm... lebih sayang masakan mama Anin dari pada mama Arsy?" Rajuk mama kandung Anggara.
"Bukan begitu mama sayang... aku cuman gak mau adik super bawel itu terlambat sekolah." Bela Anggara pada dirinya sendiri agar mama nya tak merajuk lagi.
"Baiklah-baiklah, pergilah dan bilang pada Se Ah minta kesini papa kangen." Kata Yoon Dae Jung seakan mengerti, apa maksud putra tunggalnya itu.
"Siap pa.." Ucap Angga tegas layaknya prajurit.
****
Angga masuk begitu saja ke dalam rumah Se Ah. Rumah yang sudah ia anggap sebagai rumahnya sendiri.
"Pagi semuanya!" Sapa suara barito khas milik Angga, lelaki itu menghampiri Anindiya mencium pipi kanannya kemudian beralih mengacak rambut adik manjanya.
"Kak Angga apaan sih!" teriak Se Ah seraya menyisir rambut yang acak-acakan akibat ulah Angga.
Angga hanya tersenyum menang, melihat adiknya memajukan bibir tipisnya. Kemudian beralih pada lelaki yang duduk dihadapan Se Ah.
"William..." Gumamnya ketika melihat William sedang melahap sarapan paginya.
"Apa yang dilakukan William di rumah mama sepagi ini? Bukankah yang dipakai itu bajuku? Ah... apa dia menginap disini? Tapi kenapa?" Tanya Angga dalam hati.
William seakan sadar oleh tatapan Angga, ia menghentikan aktifitas makannya dan menyapa Angga dengan senyumnya. "Hai Ga!"
__ADS_1
"oh... hai!" Balas Angga yang masih menyimpan beberapa pertanyaan di otaknya.
"Makan Ga!" Anindiya menyuruh Angga untuk makan sarapan yang baru saja ia siapkan. Karena tak ada respon dari Angga, Anindiya mengikuti tatapan aneh putranya yang tertuju pada William. "Ow... maaf Ga, mama yang kasih baju itu ke William." Jelas Anindiya tak enak hati karena tanpa izin Angga, dirinya meminjamkan baju pada William.
Angga mengalihkan pandangannya dari William ke Anindiya, ia hanya mendongak ke arah Anindiya.
"Kemarin waktu William mengantar Se Ah pulang mobilnya mogok di tengah jalan. Ya akhirnya sampe rumah baru dini hari itu pun naik mobil box." Jelas Anindiya, karena itulah yang ia dengar dari William.
"Mobil mogok?" Gumam Se Ah dalam hati, "kenapa William tak cerita sebenarnya pada mama?"
"Apa ma? mobil box?" Teriak Angga terkejut, "Kenapa kamu gak hubungi aku?" Tanya Angga minta penjelasan pada William.
"Udah kak, dimakan itu sarapannya. Keburu telat ke kantornya." Sahut Se Ah saat tahu William akan menjawab pertanyaan Angga. Ia tak mau William harus berbohong lagi dan harus menjawab pertanyaan Angga yang berlarut-larut hingga dirinya puas.
"Tapi..." Angga tak melanjutkan kata-katanya, iamerasa kakinya di injak oleh seseorang. Ketika melihat kebawah ternyata kaki Se Ah yang bertahta disana.
Se Ah menatapnya tajam dan memberi isyarat agar Angga diam, tak perlu menginjak dua kali kakaknya itu diam dan melanjutkan makannya.
"Jadwal aku udah kosong, jadi gak perlu lagi ke skul tinggal tunggu pengumuman aja." Jelas Se Ah.
"Yes!' Pekik Angga.
"Kelihatannya seneng banget?"
"Ya lah... itu berarti aku udah gak antar jemput kamu, kelinci manisku!" Goda Angga seraya mencubit dagu Se Ah.
Se Ah segera menangkis tangan Angga tapi tiba-tiba tangannya di pegang oleh Angga. Lelaki itu melihat pergelangan tangan Se Ah yang membiru. Ia menarik tangan Se Ah mencoba meyakinkan apa yang ia lihat.
"Tanganmu kenapa?" Tanya Angga menyelidik.
"eh.. gak papa kak!" Se Ah menarik tangannya segera.
__ADS_1
"Gak papa gimana?" Teriak Angga yang membuat curiga Anindiya dan meminta Se Ah memberikan tangannya ke Anindiya.
Se Ah pasrah dengan permintaan ibunya, ia pun memberikan tangannya yang memperlihatkan lingkaran membiru disana.
"Ya ampun Se Ah... ini kenapa sayang?" Tanya Anindiya khawatir.
"Itu... itu.. kemarin Rania memegang tangan Se Ah terlalu kuat ma saat nonton film horor." Jelas Se Ah dengan nada rendah sembari menundukkan kepalanya. Ia takut kalau ibunya tak percaya dengan apa yang ia bilang.
"Ya sudah nanti jangan lupa di kompres." Pesan mama Se Ah.
Se Ah merasa lega dengan apa yang dikatakan mamanya, kalau tidak bisa habis dia di interogasi sang mama.
"Oya ma.. papa mana?" Tanya Angga tak melihat papa yang suka sekali melarang Angga menggoda Se Ah.
"Papa ke Seoul." Jelas Anindiya
"Lah... kelinciku kok gak ikut? kan aku bisa bebas kesana kemari ma tanpa ada yang minta tolong ini itu!" Ucap Angga berbisik tapi masih jelas terdengar ditelinga Se Ah dan William.
"Ow... jadi gak suka anterin aku, pantesan kemarin lebih memilih nganterin Rania dari pada aku." Rajuk Se Ah.
"Ya iyalah, Rania itu lebih manis, anggun, lucu dan..." Puji Angga
"Terus-terus puji Rania, nyesel ngenalin dia sama kakak."
"udah terlanjur bebekku sayang... jadi siap-siap manggil Rania kakak ya!" goda Angga seraya mencubit bibir Se Ah yang maju kedepan.
Se Ah terdiam mendengar celoteh Angga, Se Ah yang biasanya marah jika dicubit bibirnya atau di sentuh dagunya sekarang membeku. "Rania jadi kakak aku? Apa kak Angga suka sama Rania?"
"Angga berangkat ya ma!" Pamit Angga. "Oya William jangan lupa dibalikin ya bajunya, itu pembelian bebekku tersayang." Kata Angga seraya mengacak rambut Se Ah dan berlalu pergi.
Se Ah masih membeku, bahkan tangannya yang hendak mengambil gelas minum pun terdiam disana. Entahlah, dadanya sesak mendengar Angga menyebut Rania akan menjadi kakaknya.
__ADS_1