Andai Kau Tahu

Andai Kau Tahu
episode 18 - Pergi Dengan William


__ADS_3

"Ayo!" Ajak William yang membuat senyum merekah hadir di wajah Se Ah.


Se Ah dan William berjalan melewati jembatan beralaskan kayu untuk menuju ke dalam hutan mangrove. Perjalanan mereka sebenarnya bisa dibilang cukup jauh, tapi semua itu tak terasa karena hembusan udara sepoi-sepoi dan kicauan burung terasa sahdu menyelingi suara deru ombak yang terhempas.


Se Ah terus berjalan dan berjalan menikmati suasana tanpa mempedulikan William yang berjalan di belakangnya. Gadis itu sesekali berhenti hanya untuk memandang burung yang sesekali hinggap di pohon mangrove yang lebat.


William hanya mengikuti saja apa yang diinginkan gadis manja itu. Gadis yang pernah membuat hatinya cukup kesal dengan tingkahnya, tapi juga membuat dirinya sukses seperti sekarang.


Se Ah berhenti ketika melihat tempat persewaan perahu dayung atau kano, ia ingin sekali menaiki perahu itu. Se Ah seketika teringat akan William, lelaki yang telah mengajaknya kemari.


William yang melihat Se Ah menoleh kesana kemari segera menghampirinya. Ia tahu keinginan Se Ah ketika gadis itu berdiri tegak di tempat persewaan kano.


Tanpa bertanya pada Se Ah, William pun menyewa sebuah kano untuk mereka berdua. Se Ah yang melihatnya terlihat sangat senang dan langsung mendekati William yang melambaikan tangannya, menandakan dirinya mengajak Se Ah untuk naik.


Tanpa bicara, Se Ah menikmati perjalanan mengelilingi hutan dengan kano, sesekali Se Ah pun memasukan tangannya ke dalam air yang jernih itu.


"Jernih sekali..." Pekik Se Ah merasa takjub atas pesona hutan mangrove itu.


"Kau suka?" Tanya William yang masih mengayuh dayung perlahan.


"Suka sekali kak Liam." Jawab Se Ah dengan senyumnya yang merekah menambah cantik dirinya.


William membalas Se Ah pun dengan tersenyum dan mengangguk perlahan. Ia merasa senang melihat Se Ah seperti ini dari pada ketika Se Ah berada di dalam cafenya tadi pagi.


Sebenarnya sejak Se Ah datang tadi pagi di kedainya, William selalu memperhatikannya. Ia merasa aneh gadis yang biasanya datang dengan senyum sumringah dan menyapa pegawainya, sekarang menekuk wajahnya dan terlihat sembab. Entah mengapa hatinya begitu sesak, sakit seakan menyempit dan membuat dirinya susah bernafas ketika melihat Se Ah seperti itu.


"Senyum mu indah kak." celoteh Se Ah tiba-tiba dan berhasil membuat pipi William merona merah. "Aku suka melihatnya."

__ADS_1


William hanya diam, lidahnya terasa kelu, pipinya menghangat karena malu atas pujian Se Ah.


Setelah puas berkeliling hutan mangrove dengan kano, mereka berdua memilih untuk istirahat dan duduk di jembatan kayu dengan kaki yang menjuntai kebawah.


"Terima kasih kak," Ucap Se Ah ketika menerima minuman coklat hangat yang telah dibelikan William. Se Ah menyeruputnya perlahan menikmati sensasi coklat yang membuat pikirannya semakin jernih.


William mengangguk seraya duduk disamping Se Ah menghadap arah yang sama seperti Se Ah.


Diiringi langit yang berwarna orange, matahari yang mulai kembali ke peraduannya. Se Ah menikmati coklat hangat itu dan William menyeruput kopi pahit kesukaannya.


"Ehm... enak banget kak...."Puji Se Ah setelah menyeruput coklat hangat miliknya. "Oya... kak Liam kok tahu sich aku suka sekali coklat."


"Karena kau orang pertama yang mencelaku karena coklat." Jawab Liam dan berhasil membuat Se Ah menoleh kearahnya. "Jangan menatap heran seperti itu? Kau pasti lupa kan?" selidik William.


flashback on


Hari itu adalah hari pertama kedai es krim milik William dibuka. William masih memiliki dua rekan kerja untuk membantunya saat itu. Satu diantaranya membantu William berdiri di depan kedai untuk memberikan satu cup es krim sebagai tester rasa untuk kedai barunya.


"ehm.... hei... coklatnya agak pahit, tambahi susunya lagi. Oya... senyum sedikit, jangan jutek."


William hanya melihat tak membantah satu katapun.


"Sini aku bantu!" Pinta gadis itu yang tak lain adalah Se Ah. Ia mengambil apron yang dipakai William dan nampan yang dibawa lelaki itu.


"Ayo... ayo... es krim gratis, boleh coba dulu. Hari ini masih promo beli satu gratis satu." Teriak Se Ah seraya berjalan mendekati orang yang lalu lalang menawarkan es krim dengan senyum merekah.


William hanya melihatnya tanpa protes, gadis cantik yang murah senyum itu membuat dirinya jengkel. Betapa tidak baru kenal sudah berani mengatakan dirinya jutek.

__ADS_1


"Wah.. mbaknya cantik, masih pakai seragam kok udah bekerja." Celoteh salah satu orang yang mengambil es krim di tangan Se Ah.


"Sambilan Bu... mau coba Bu .. enak loh... tapi sayang coklatnya agak pahit, tapi gak papa Bu.. ni kan hari pertama besok kita akan buat lebih enak lagi. Gimana Bu?" Tanya Se Ah setelah melihat ibu muda itu mencicipi es krim yang ia tawarkan.


"Lumayan lah nak..." Kata ibu itu.


"Ajak putranya masuk Bu, mumpung hari ini promo satu gratis satu dan masih banyak pilihan didalam, pasti ada yang cocok." Bujuk Se Ah dan berhasil membuat ibu serta putranya masuk ke kedai untuk menikmati es krim.


Setelah itu, banyak yang mulai tertarik dengan apa yang ditawarkan Se Ah dan pelanggan pun berdatangan. William yang melihat itu segera membantu Se Ah memberikan cup-cup es krim hingga habis.


Setelah tester habis, Se Ah mengembalikan nampan dan apron barista yang dipakainya. "Senyum sedikit hasilnya banyak kan! Dan jangan lupa buat coklatnya seenak mungkin." Se Ah melambaikan tangannya dan berlalu pergi.


flashback off


William menceritakan pertemuan pertama mereka, yang cukup berkesan untuk William tapi sepertinya tidak untuk Se Ah.


Gadis itu masih berfikir, "Masa sich! Seingatku lelaki itu berkacamata, banyak jerawat dan berkumis halus. Jauh beda sama kakak."


"Dulu... aku hanya berfikir cari uang agar bisa kuliah." Jawab William sedikit mengangkat sudut bibirnya. Betapa dirinya membiarkan jerawat tumbuh dimana-mana.


"Oh.. tapi kau hebat, masih kecil sudah pandai promosi. Apalagi semua saran yang kau titipkan di surat yang kau titipkan di rekan kerjaku, semua menjadikan aku seperti ini. terima kasih."


"Sama-sama. Aku lihat dari cara papa mempromosikan bisnis property nya, tapi senang juga sich kalau kakak pakai." Senyum Se Ah kemudian mengajak William untuk pulang karena hari sudah mulai gelap.


Kali ini Se Ah melingkarkan kedua tangannya di pinggang William, ia merasa lelah seharian menyusuri hutan mangrove. Dengan semilir angin dan William yang menjalankan motornya perlahan membuat Se Ah tertidur di pundak William.


Tangan William memegang lembut tangan Se Ah, ia tak ingin gadis yang sudah mulai masuk dihatinya itu terjatuh. Dan tangan satunya mengemudikan motor dengan sangat hati-hati menembus gelapnya kota yang cukup padat.

__ADS_1


Sesampainya di depan rumah Se Ah, gadis itu masih saja lelap di pundak William. Lelaki itu memarkir motornya dan mengelus perlahan tangan mulus Se Ah, untuk membangunkan Se Ah.


"Dari mana kalian?" Teriak Angga tiba-tiba saat sudah berada tepat di depan William.


__ADS_2