
Brukkk...
Se Ah menabrak dada bidang di depannya. Se Ah berhenti dan mendongak ke wajah tampan yang menatapnya.
"Kamu suka sekali menabrakku ya?" Tanya William yang berdiri tegak di hadapan Mo Se Ah.
Gadis itu hanya terdiam, ia segera menundukkan pandangannya. Ia tak mau William melihat wajahnya yang sembab akibat menangis.
William menatap gadis yang di depannya, ingin rasanya ia memarahi gadis manja itu. Tapi ketika melihat kedua mata Se Ah memerah, amarah yang siap keluar itu seperti menguap begitu saja.
Entah apa yang terjadi dalam diri William, ia segera memeluk tubuh Se Ah, tubuh tinggi yang hanya mencapai pundak William itu. Hatinya teramat sedih melihat mata merah milik Se Ah. Rasa ingin melindungi dan menghilangkan kesedihan gadis itu tiba-tiba muncul begitu saja.
Se Ah yang merasakan pelukan William, tanpa ragu membalasnya tak kalah erat dan menumpahkan semua sesak di dada William.
"Aku disini." Ucap William seraya mengusap lembut rambut panjang Se Ah, mencoba untuk menenangkan gadis yang sekarang menangis sesenggukan itu.
Se Ah sadar dengan apa yang dilakukan, dengan perlahan dirinya melepaskan pelukan hangat yang membuatnya tenang. Ia mengusap kasar air mata yang masih tersisa.
"Terima kasih..." Ucapnya dengan sisa isak tangisnya.
William tak membalas ucapan Se Ah, ia hanya menatap kedua mata Se Ah yang masih mengeluarkan air mata meski sudah tak sederas tadi. Ia pun mengusap air mata yang masih tersisa di pipi mulus Se Ah dengan ibu jarinya.
"Jangan berterima kasih padaku, kau harus mencuci bajuku karena ingusmu itu." Kata William yang membuat gadis di depannya cemberut.
"Jorok!" Pekik Se Ah yang langsung meninggalkan William di tempatnya.
__ADS_1
Se Ah berjalan menuju toilet, ia harus membersihkan sisa air matanya kalau tak mau mamanya curiga. Setibanya disana, ia segera mengambil air di wastafel dan mencuci muka kemudian memakai pelembab serta bedak.
"Sudah selesai ma?" Tanya Se Ah saat sudah di butik.
"Sudah sejak tadi, kamu dari mana aja?" Tanya Anindiya pada putrinya yang menghilang sejak ia keluar dari kamar ganti.
"Jalan-jalan bentar." Jawab Se Ah enteng dan menjatuhkan dirinya di kursi empuk.
"Kamu menangis?" Saat Anindiya melihat ke mata putrinya yang memerah.
"ah... aku cuma kelilipan ma." Jelas Se Ah seraya mengucek matanya yang tak gatal.
"Eh... jangan dikucek nanti tambah parah." larang Anindiya.
Rumah berlantai dua milik Mo Ryung itu berdiri megah di kawasan perumahan tengah kota. Rumah yang biasanya tampak sepi sekarang terlihat beberapa orang yang lalu lalang.
Hari ini bukan hari dimana Se Ah dilahirkan. Tapi hari ini digunakan Mo Ryung untuk merayakan ulang tahun putri tunggalnya.
Ia melakukan hari ini karena bertepatan dengan usia perak pernikahan dirinya dan Anindiya. Sebuah pernikahan yang dilakukannya karena merasa ingin memiliki Anindiya. Perempuan yang ia temui menangis sendirian di tepi pantai.
Bukan sebuah pesta yang meriah, tapi pesta yang hanya akan dihadiri oleh keluarga dekat Mo Ryung dan Anindiya.
"Kok rame banget ma?" Tanya Se Ah yang sudah masuk kedalam rumah dan mendengar dengung suara orang yang mengobrol. "Oma!" Panggil Se Ah ketika melihat neneknya duduk disamping Mo Ryung.
Se Ah berlari memeluk nenek yang hampir setahun tak ditemuinya. Nenek Se Ah pun membalas pelukan cucunya dan menciumi wajah cantik Se Ah.
__ADS_1
"Ah... Oma.. nanti bedak Se Ah luntur!" rengek Se Ah yang hanya berniat menggoda neneknya.
"Maaf-maaf cucu oma yang cantik. Habis Oma kangen banget." Colek Oma di pipi kanan Se Ah lalu memeluk Se Ah kembali.
"Oma kapan datang?" Tanya Se Ah yang masih bergelayut pada neneknya.
"Baru saja." Jelas ibu Mo Ryung yang memang baru sampai di Jakarta sore ini bersama Mo Jung Su dan istrinya.
"Kau tak kangen sama pamanmu ini." Celoteh Jung su yang dari tadi hanya melihat Se Ah.
"Paman...bibi..." Sapa Se Ah kemudian menghampiri mereka dan mencium tangan mereka satu persatu.
"Ini ada apa sich kok semua berkumpul?" Tanya Se Ah yang tak biasanya melihat keluarga besar Mo berada dirumahnya.
"Mama ingin merayakan hari pernikahan mama dan papa yang sudah berusia perak." Jelas Anindiya.
"Oh... pantes tadi mama cuma pilih-pilih gaun pesta. Eh.. tapi tumben kok dirayain?" Tanya Se Ah tanpa basa basi, karena ia tahu ayahnya paling tidak suka pesta.
"Mama pengen aja ngerayainnya, cuma sekali ini aja kok dan sekalian merayakan ulang tahun putri mama." Jelas Anindiya.
"Ulang tahunku? untuk apa? lagian Se Ah kan gak suka dirayain rame-rame ma atau hem... Se Ah tahu, pasti ngirit kan?" Ejek Se Ah
"Sekalian kan gak papa, mumpung papa ngijinin." Kata Anindiya dengan melirik Mo Ryung yang hanya tersenyum simpul.
"Oh... kalau gitu, selamat hari pernikahan mama dan papaku tersayang!" Ucap Se Ah seraya mencium pipi ayah dan ibunya.
__ADS_1