Andai Kau Tahu

Andai Kau Tahu
episode 25 - Kecewa 3


__ADS_3

Angga dan Rania duduk di hadapan Dae Jung dan Arsy, mereka berdua duduk menunggu apa yang akan dikatakan Angga. Namun lelaki yang baru saja lulus kuliah itu hanya diam, pikirannya bukan terfokus dengan apa yang ia lakukan pada Rania tetapi pada Se Ah, ia harus segera menemui wanita yang sangat dicintainya itu. Ia tak mau Se Ah salah faham.


Hawa berubah menjadi dingin ketika Dae Jung menatap Angga dengan tajam, "Menikahlah dengan Rania." Ucap Dae Jung kemudian.


"Menikah?" Ucap Angga seakan tak percaya dengan apa yang keluar dari bibir Dae Jung. "Untuk apa aku menikah dengan Rania sedangkan aku tidak melakukan apa-apa pada Rania. Aku berani bersumpah pa!"


"Papa tidak menerima sumpah mu Angga, papa hanya melihat bukti bergumulan kalian. Kamu harus bertanggung jawab dengan apa yang kamu lakukan!"


"enggak pa, aku gak mau! aku mencintai Se Ah, mana mungkin aku meninggalkan Se Ah." Tolak Angga, kemudian ia berpaling pada Rania. "Ran... bilang sama papaku kalau kita tidak melakukan apa-apa! Kau tahu kan Ran, kalau aku mencintai Se Ah dan aku gak mungkin melakukan hal itu padamu." Pinta Angga berlutut di hadapan Rania.


Rania hanya diam, ia hanya bisa meneteskan air matanya. Sakit rasanya ketika Angga tak mau bertanggung jawab atas dirinya.


"Berkatalah sesuatu Ran!" mohon Angga,


Rania mendongak menatap Angga dengan mata yang memerah, "Bagaimana aku tahu kakak tak melakukan apa-apa padaku saat aku tak sadarkan diri?"


"Aku yang pingsan Ran... bukan kamu!" Teriak Angga seraya berdiri tegak dihadapan Rania. "Aku mohon Ran, jangan bercanda!" Bentak Angga yang menambah kesedihan Rania. Gadis itu menangis tersedu mendengar bentakan Angga, baru kali ini ia merasakan sakit karena di bentak oleh seseorang.


"Angga!" Panggil Arsy yang berpindah tempat duduk mendekati Rania dan memeluk gadis yang masih duduk di bangku SMA itu.


Tanpa berbicara apapun, Dae Jung menyeret Angga menjauh dari Arsy dan Rania. Ia memilih untuk berbicara dengan putranya di ruang tamu.


"Jujur sama papa Ga!" Pinta Dae Jung.


"Aku berkata jujur pa, percaya padaku." Pinta Angga, kemudian Angga menceritakan semua yang terjadi kemarin malam ketika ia pulang dari rumah Se Ah. Ia di kejar oleh komplotan yang tak di kenalnya dan tiba-tiba bertemu Rania. Hingga tadi pagi saat dirinya terbangun karena teriakan mamanya.


Dae Jung menatap selidik ke arah putra tunggalnya, ia ingin sekali mempercayai putranya tapi ada sesuatu yang masih mengganjal pada dirinya.


"Aneh... apa kau punya musuh?" Tanya Dae Jung,

__ADS_1


"Bagaimana aku punya musuh sedangkan berkelahi saja aku gak jago, lagi pula aku baru kembali kesini setelah 4 tahun di London." Jelas Angga, ia juga berfikir apakah selama ini ia pernah melukai seseorang.


"Rendy!" Panggil Dae Jung yang melihat Rendy baru masuk ke dalam apartemen Angga. "Kenapa kau kembali? Bagaimana Se Ah?"


"Nona baik-baik saja tuan, beliau diantar oleh tuan William, teman tuan Angga."


"Oh... baguslah! Oya Ren... ambil rekaman CCTV apartemen dan tunjukkan padaku!" Perintah Dae Jung.


"Baik tuan!" Ucap Rendy kemudian segera pergi dari sana untuk melaksanakan tugas dari tuannya.


*****


Di Luar apartemen Angga


"Nona Se Ah!" Panggil Rendy berlari mendekati Se Ah. "Saya antar nona pulang!" Pinta Rendy.


Tapi Se Ah tidak merespon Rendy, sebenarnya ia berhenti bukan karena panggilan Rendy tapi karena ia melihat William yang berdiri tampak berbincang dengan seorang wanita.


Suara Rendy itu mengusik William, ia menoleh ke asal suara dan betapa terkejut dirinya melihat Se Ah dengan mata memerah berdiri tegak menatapnya.


"Terima kasih atas kerjasamanya, kami tunggu pesanan berikutnya." Ucap William menyudahi pembicaraannya pada wanita yang telah memesan es krim untuk acara ulang tahun putranya.


Wanita itu pun kembali ke apartemennya dan William mendekati Se Ah. "Kau suka sekali menangis ya?"


"Bukan urusanmu!" Jawab Se Ah ketus dan mengusap sisa air matanya dengan kasar. "Antar aku pulang!" Ucap Se Ah seenaknya sendiri, seraya berjalan menuju mobil William yang bertulis nama kedainya.


"Dasar gadis itu!" Omel William. "Kenapa dia?" Tanya William pada Rendy yang masih berdiri di sampingnya.


"Saya kurang tahu tuan." Jawab Rendy tak mau membeberkan apa yang sebenarnya terjadi dengan nona mudanya.

__ADS_1


"eh... gadis itu suka sekali menyusahkan orang. Bagaimana Angga bisa mengangkatnya sebagai adik sich?" Tanya William yang hanya di jawab senyuman oleh Rendy.


"Baiklah... aku akan antar nona mu pulang, sebelum ia mengamuk!" Senyum William kemudian menepuk pundak Rendy dan segera menuju mobilnya.


"Terima kasih tuan William." Ucap Rendy kemudian kembali ke apartemen Angga.


"He... ada apa lagi?" Tanya William setelah masuk ke dalam mobilnya.


"Ayo jalan!" Pinta Se Ah tanpa membalas pertanyaan William.


William hanya diam, ia tak menghidupkan mobilnya meskipun mendengar permintaan gadis manja di sebelahnya. "Kenapa diam? Ayo jalan!"


"Jalan kemana?"


"Kemana kek... pokoknya aku mau jalan-jalan!" Rengek Se Ah.


"Kenapa harus aku bukan Angga?" Heran William yang tahu kalau Angga selalu siap untuk Se Ah.


"Kalau dia bisa, mana mungkin aku mengajakmu!"


"Jadi... aku cadanganmu?"


"Kenapa kamu jadi cerewet banget sich! aku bilang jalan ya jalan, gak usah mikir macam-macam."


"Tapi nona... aku sedang kerja bukan jalan-jalan."


"Terserah, pokoknya aku ikut!" Kesal Se Ah


"Benar? Gak nyesel?" Tanya William menekankan permintaan Se Ah. Ia tak mau di tengah jalan gadis itu merengek.

__ADS_1


"Ya... aku gak akan nyesel ikut sama kamu kak Liam!" Jelas Se Ah dengan menekankan nama William.


__ADS_2