
Se Ah menarik nafasnya panjang ketika sampai di halaman rumah Rania. Ia mencoba untuk menguatkan hati agar bisa bertemu Rania. Semoga ia bisa melewati hari ini dan mengikhlaskan Angga dengan sahabatnya itu.
"Se Ah..." Panggil William yang melihat Se Ah tak kunjung turun dari mobil.
Se Ah menghadap William, senyum ramah yang ditampilkan lelaki itu bisa membuat hatinya tenang dan sepertinya memberikan kekuatan padanya. Entah malaikat mana yang bernaung pada William hingga membuat Se Ah yang manja dan seenaknya sendiri bisa berubah seratus delapan puluh derajat menjadi penurut.
Se Ah mengangguk mantap yang menandakan dirinya telah siap menemui Rania. Mau tidak mau ia harus bertemu dengan sahabatnya dan menyelesaikan semua masalah ini.
William turun dari mobil, ia berjalan memutar untuk membukakan pintu Se Ah. Gadis manja yang biasanya selalu ceria itu menarik nafas panjang sekali lagi memantapkan hatinya.
"Semua akan baik-baik saja ada aku." Ucap William seraya menjulurkan tangannya meminta Se Ah untuk memegangnya.
Se Ah menatapnya, senyum indah miliknya menghiasi wajah cantiknya. Ia menyambut tangan William yang terasa hangat dan menjadi pegangan kuat bagi Se Ah.
"Se Ah..." panggil Alexa yang baru saja keluar dari rumahnya.
Se Ah dan William menghampiri wanita paruh baya yang masih terlihat cantik itu. Mereka menyalami wanita itu dengan ramah dan segera masuk ke dalam rumah.
__ADS_1
"Terima kasih Se Ah, tante benar-benar bingung harus berbuat apa, kau tahu kan baik tante maupun om tak dekat dengan Rania." Ucap Alexa sumringah.
"hm.... tak perlu sungkan seperti itu tante, oya... Dimana Rania?" Tanya Se Ah kemudian dia tak ingin berlama-lama dengan ibu sambung Rania itu
"Dia ada di kamarnya" Jawab Alexa, dan dengan segera Se Ah berlari ke lantai dua, ia tahu dimana letak gadis yang sudah menjadi sahabatnya tiga tahun terakhir ini.
Alexa hanya menatap Se Ah yang menuju ke atas kemudian ia berpaling dari gadis itu ke arah lelaki yang datang bersama Se Ah. Seorang lelaki yang terlihat tak asing dimatanya. Ia menatapnya dengan seksama wajah lelaki itu, hingga suara agak berat membuyarkan semuanya.
"Siapa tadi?" Tanya Orang itu yang tak lain adalah ayah dari Rania. Dia melihat Se Ah berlari ke atas.
"itu Se Ah pa..." Jelas Alexa seraya mendekati Ramdhan
"Saya William, teman Se Ah."
******
Angga uring-uringan setelah pergi dari rumah Rania, ia pergi begitu saja tanpa ada arah bahkan sudah dua hari sejak kejadian itu. Ia tak kunjung pulang. Pengecut! Ya mungkin itu kata yang pantas Angga sandang sekarang.
__ADS_1
Ia melarikan diri dari masalah ini. Namun sebenarnya bukan dia tak mau menghadapi dan mempertanggung jawabkan semua ini, tapi ia berusaha untuk mencari bukti bahwa apa yang dituduhkan padanya tidak benar.
"Bagaimana Ren?" Tanya Angga pada asisten papanya itu.
"Tanpa cacat tuan." Terang Rendy, ia menjelaskan semua yang ada di cctv adalah benar Angga.
"Kau yakin?" Tanya Angga yang memang tak merasa melakukan hal sehina itu.
"Ya tuan, tanpa cela sedikitpun " Jawab Rendy dengan tegas.
"Tidak mungkin, aku benar-benar tidak melakukannya Ren. Bagaimana lagi caranya agar aku bisa membuktikannya Ren?"
"Tuan, sebaiknya serahkan semua pada saya, saya akan mencari jalan keluarnya. Dan sebaiknya Anda istirahat."
"Bagaimana aku bisa istirahat, sedangkan wanita yang aku cintai masih kecewa padaku. Bahkan aku mencoba menghubunginya tidak bisa."
"Mungkin non Se Ah butuh waktu untuk sendiri tuan." Jelas Rendy mencoba menenangkan Angga.
__ADS_1
"Ren... kirim rekaman cctv itu padaku!"