
Andjani keluar dari dalam kamarnya, dan merasa kaget melihat Sasha yang belum juga pulang, padahal hari sudah menjelang malam.
"Anna, kamu cantik sekali pakai baju rumahan santai seperti ini. Sini sayang duduk sama Tante, mamamu sedang memasak dan seperti biasa, tidak mau dibantu. Malam ini Tante mau menumpang untuk makan malam, kamu tidak keberatan kan?"
"Tentu tidak Tante, baiklah Tante, aku akan membantu mama terlebih dahulu" Andjani pamit untuk segera menuju ke dapur. Walau Sasha sudah mengatakan kalau Qaynaya tidak mau dibantu untuk memasak, tapi Andjani sangat faham siapa mamanya. Qaynaya mungkin menolak bantuan dari orang lain, tapi tidak dari anak-anak nya.
Qaynaya selalu mengajarkan pada kedua anaknya, tentang pekerjaan rumah tangga, bahkan Arion yang merupakan anak laki-laki, juga tidak ada bedanya dengan Andjani, karena Qaynaya mendidiknya untuk bisa juga menguasai pekerjaan rumah tangga.
Tidak ada istilah malu untuk mengajari anak laki-laki nya untuk bisa melakukan hal itu, karena pekerjaan rumah tangga, bukanlah menjadi tanggung jawab seorang wanita saja, tetapi tanggung jawab seluruh anggota keluarga.
Dan seperti yang sudah di duga oleh Andjani, Qaynaya tersenyum senang saat melihat anak gadisnya itu mendekatinya. Dengan cepat Qaynaya memberikan perintah pada anak gadisnya, untuk membantunya memotong sayuran.
Andjani merasa heran melihat sayuran yang begitu banyak, dan menanyakan pada mamanya.
"Bukankah kita hanya bertambah Tante Sasha saja untuk makan malam ini, kenapa sebanyak ini masaknya? sepertinya ini akan banyak tersisa nantinya" Andjani berbicara sambil mengupas wortel dan segera memotongnya.
"Bukankah ada Ardi juga" Qaynaya melihat kearah Andjani, untuk melihat apa reaksi dari anaknya itu.
Sungguh diluar dugaan dari Qaynaya, karena Andjani sepertinya tidak terlihat kaget sedikitpun, dan hanya menganggukkan kepalanya. Qaynaya merasa heran melihatnya, bagaimana bisa anaknya itu tidak bereaksi apapun saat mendengar nama Ardi disebutkan.
Qaynaya yang tidak bisa menyembunyikan rasa penasarannya, lalu menghentikan aktivitas mengaduk sayur yang sedang dia lakukan, dan memilih mendekati anaknya.
"Apa kalian sudah bertemu? bagaimana bisa kamu terlihat tidak terkejut sama sekali?"
"Iya ma, kami sudah bertemu" Andjani menjawab, tapi belum sempat mengatakan bahwa Ardi telah melupakan dirinya, karena Sasha juga ikut masuk ke dalam dapur.
Sasha merasa bosan karena menunggu sendirian, karena Rini sedari tadi pergi ke mini market, dan belum pulang juga. Sementara Ardi dan Arion sangat sibuk dan serius bermain game. Dengan sedikit memohon, Sasha meminta Qaynaya mengizinkan dirinya untuk membantu.
__ADS_1
Bukan niat menolak bantuan, sebenarnya Qaynaya menolak bantuan dari Sasha karena merasa sungkan, apalagi Sasha adalah tamu yang sudah lama tidak bertemu.
Mendengar sahabat nya yang sudah lama tidak bertemu itu menjelaskan, Sasha merasa kalau ini tidak adil untuk nya, karena Qaynaya sendirilah yang menjauh.
"Ada alasannya, dan kamu pasti tau sendiri" Qaynaya membela diri, tanpa menjelaskan alasan yang sebenarnya atas kepergiannya.
Sasha tidak menuntut penjelasan lebih jauh lagi, karena dia sudah sangat yakin dengan alasan dari sahabatnya itu. Hanya saja, sebagai sahabat yang sudah begitu sangat dekat dari dulu, Sasha tidak bisa menahan rasa rindu pada sahabatnya itu.
Apalagi setelah kepergian Qaynaya, Sasha tidak mempunyai sahabat dekat lagi. Bagi Sasha, semua tidak ada yang tulus seperti Qaynaya, karena kebanyakan orang yang datang padanya, hanyalah orang-orang yang menginginkan sesuatu, atau karena mengharapkan imbalan.
Berbeda dengan Qaynaya yang selalu apa adanya, bahkan tidak segan untuk berbeda pendapat. Hal itu sudah sangat jarang terjadi di perkumpulan atau persahabatan jaman sekarang, karena kebanyakan dari mereka, hanya berbicara, sesuai dengan keinginan orang lain.
Semua terasa palsu bagi Sasha, karena arti sahabat bagi dirinya adalah seseorang yang selalu ada dalam suka dan duka. Sahabat adalah seseorang yang selalu bisa mengatakan kebenaran walau menyakitkan, dan saling menguatkan jika terjadi suatu masalah.
Tapi sahabat yang dia dapatkan selain Qaynaya adalah, sahabat yang hanya baik di depannya saja, tapi berbicara hal buruk dibelakangnya. Sasha juga sebenarnya masih sangat kesal dan kecewa pada Qaynaya yang memilih untuk pergi begitu saja, tapi rasa rindu pada sahabatnya itu, membuatnya memilih untuk mencarinya sampai di negara ini.
"Apa yang kamu masak?" Sasha mendekati kompor, dan mengaduk sayur yang sedang dimasak oleh Qaynaya.
Rasa penasaran Qaynaya, mengenai apa yang terjadi pada Andjani dan Ardi belum juga mendapatkan penjelasannya, tapi tidak mungkin dia terus membicarakan tentang hal itu, disaat Sasha ada diantara mereka.
Sasha masih cerewet seperti dahulu, dan bertanya banyak hal pada Qaynaya.
"Apa negara ini masih menganut adat ketimuran? aku mendengar ada beberapa negara yang masih menganut adat istiadat seperti itu. Sementara di negara lain, sudah lebih banyak lagi negara bebas" Sasha lalu ikut duduk di sebelah Andjani yang sedang sibuk memotong buah-buahan, sebagai pencuci mulut nantinya.
Masakan mereka sudah matang semua, dan hanya tinggal menunggu waktu makan malam, untuk bisa segera menyajikan. Qaynaya mengambil beberapa tambahan piring untuk makan dan membersihkannya.
"Budaya barat adalah budaya yang banyak berasal dari negara yang ada di benua Eropa dan Amerika. Budaya yang dimaksud dapat dilihat dari beberapa aspek yaitu hidup, trend, sopan santun, pendidikan, tingkat percaya diri, ketertiban, kedisiplinan, kegiatan perayaan,kedudukan dalam keluarga, dan lain lain. Budaya ini sering di identikkan dengan kebebasan dalam proses pergaulan" Qaynaya mulai menjawab pertanyaan dari Sasha, sambil mengelap beberapa piring yang sudah dia cuci barusan.
__ADS_1
"Sedangkan budaya timur adalah budaya yang berkembang di daerah Asia seperti negara-negara di Asia Tenggara salah satunya Indonesia. Budaya timur biasanya lebih condong pada wujud budaya yang mengutamakan norma kesopanan dengan aturan tertentu. Budaya timur terkenal dengan ramah tamah dan melakukan sesuatu dengan lebih santai. Tapi banyak yang merasa, kalau adat seperti ini, terasa sangat mengekang. Tapi di negara ini, sepertinya percampuran dari adat ketimuran dan adat kebaratan, karena penduduknya beragam" Qaynaya menjelaskan, membuat Sasha sangat senang mendengarnya. Ini juga salah satu yang dia rindukan dari sahabat nya itu.
Qaynaya sangat pandai dalam menjelaskan sesuatu, entah dari mana pengetahuan yang dia dapatkan, dan bagaimana caranya, ingatannya bisa terus cemerlang.
"Budaya timur, menjunjung tinggi kebersamaan, penjaga perasaan sesama, menjaga sikap sopan dan santun, menjaga sikap kepada orang yang lebih tua, masih memegang teguh adat dan istiadat. Sedangkan Budaya barat disiplin dalam menghargai waktu, lebih mudah dalam menghadapi masalah, memanggil nama orang tua menggunakan nama orang tuanya sendiri, lebih individualis, bergaya hidup lebih moderen. Budaya barat bisa dikatakan lebih maju di sektor teknologi. Sedangkan budaya timur, lebih unggul dalam hal sopan santun dan adat istiadat. Semuanya ada nilai plus dan minusnya" setelah selesai menjelaskan, Qaynaya meminta tolong pada Sasha, untuk memanggilnya Ardi dan Arion di dalam kamarnya.
Andjani merapikan meja, sementara Qaynaya mencari keberadaan suaminya. Setelah mencari di beberapa penjuru rumah, Qaynaya mendapati suaminya yang tengah tiduran terlentang di atas ranjang.
Dengan perlahan Qaynaya mendekati suaminya, dan menyadarkan lamunannya. Djani tersenyum melihat kedatangan Qaynaya, dan segera menarik tubuh istrinya itu, hingga terjatuh dan terjerembab ke dalam pelukannya.
"Ayo kita makan malam, semuanya sudah siap. Apa yang kamu lakukan di sini?" Qaynaya membelai pipi suaminya, dia sangat tau, kalau saat ini, ada sesuatu yang sedang dipikirkan oleh Djani.
"Tidak ada sayang. Aku hanya sedikit takut, kalau kebahagiaan kita selama ini, akan sedikit terganggu. Atau aku usir saja Sasha ya?" Djani tanpa ragu mengucapkannya. Qaynaya tersenyum mendengarnya dan menjawab dengan gelengan kepalanya.
"Jangan berlebihan. Dahulu saat meninggalkan tempat tinggal kita terdahulu, aku sudah memikirkan kalau itu sebenarnya bukan cara yang terbaik, itu hanya cara yang paling cepat. Sementara masalahnya sendiri, sebenarnya belum selesai. Jadi sepertinya kali ini, kita harus menyelesaikannya" Qaynaya mencium pipi suaminya, lalu segera memintanya untuk bangun.
"Bisakah aku minta dulu" Djani menggoda Qaynaya, dan dengan cepat berusaha untuk menindih tubuh Qaynaya.
"Sayang, jangan bercanda di saat seperti ini. Mereka pasti sedang menunggu kita" Qaynaya menahan tubuh Djani, yang semakin hendak menindihnya dengan kuat.
"Aku merasa sangat takut. Dahulu aku merasa sanggup dan yakin bahwa anak-anak kita tidak akan terluka sedikitpun, tapi nyatanya kedua anak kita, sudah mengalami luka yang,,," Djani tidak melanjutkan ucapannya, karena Qaynaya yang awalnya menahan tubuhnya, tiba-tiba dia yang menarik tubuh Djani kedalam dekapannya.
"Jangan berbicara seperti itu. Kamu adalah suami dan ayah yang sangat bertanggung jawab. Bahkan sampai saat ini, aku kadang merasa masih berada di alam mimpi, karena kehidupan ku begitu sempurna dengan adanya kalian di sisiku. Aku adalah wanita lemah yang selalu Overthinking, tapi kamu selalu sanggup menghadapi ku" Qaynaya terus mendekap Djani, hingga Djani sedikit kesulitan untuk bernafas.
Djani sadar, kalau Qaynaya hanya berpura-pura tegar, dalam menghadapi kedatangan Sasha dan Ardi, tapi sepertinya, Qaynaya sebenarnya menyimpan ketakutan dan ke khawatiran besar.
"Sayang. Apapun yang terjadi, aku akan melindungi kalian" Djani menenangkan istrinya. Qaynaya sadar kalau suaminya sudah bisa membaca hatinya.
__ADS_1
"Kita ini satu jiwa, tanpa kamu mengatakan sesuatu, aku sudah tau apa yang kamu rasakan. Walau bagaimanapun caranya kamu menutupinya, aku akan selalu tau" Djani menciumi leher istrinya, hingga membuat Qaynaya merasa geli.
Mereka bercanda sebentar, untuk sekedar menghilangkan perasaan khawatir di hati mereka.