Andjani

Andjani
Lupa


__ADS_3

"Ardi" panggil Andjani pelan.


"Apa kamu melupakan diriku?" Andjani berharap bahwa pria yang dihadapannya ini kembali mengingatnya.


Tidak ada jawaban, entah itu membenarkan atau menyangkal. Andjani terlihat kecewa, dan segera berlalu pergi.


"Aahhhh!" Andjani terjengkang dan hampir menabrak tembok. Tapi belum juga rasa terkejutnya hilang, hal yang lebih membuat hatinya berdetak lebih cepat karena rasa kaget sukses membuatnya membelalakkan mata.


"Kak Cheril!" Andjani memegangi lengannya yang terdorong oleh Cheril, sementara Cheril memandang penuh amarah padanya.


Cheril mendekati Ardi, yang entah sejak kapan, berada tepat di belakang Andjani. Jadi kalaupun tadi Andjani terbentur, bukan tembok yang kena, tapi tubuh Ardi.


"Sayang, aku sudah menelepon dirimu sedari tadi. Kenapa kamu tidak mengangkatnya. Lalu kenapa ada dia disini?" Cheril menunjuk Andjani yang masih belum bisa menghilangkan keterkejutannya.


Ardi tidak berkata apapun, dan memilih untuk menarik tangan Cheril, dan mengajaknya untuk pergi menjauh. Air mata Andjani tanpa terasa terjatuh.


"Bagaimana bisa Ardi tidak mengenalku?" Andjani terlihat sangat sedih, temannya yang datang lalu bertanya apa yang terjadi.


Andjani menggelengkan kepalanya, dan mengatakan bahwa dia tidak apa-apa. Andjani bahkan berbohong kalau dia sempat tersandung, itu yang membuatnya sedikit kaget. Teman Andjani mencemooh Ardi, karena baru saja perkenalan, tapi sudah membawa wanita ketempat kerjanya.


Teman Andjani merasa tidak percaya kalau Ardi adalah pengganti guru yang dibilang kompeten oleh guru baru yang sesungguhnya.


"Cindy, aku merasa pusing. Lagipula tugasku sudah selesai, aku mau pulang terlebih dahulu" Andjani pamit pada temannya.

__ADS_1


"Baiklah, ayo aku antarkan. Aku juga mau pulang"


Mereka berjalan beriringan sambil berbincang ringan layaknya remaja. Cindy bercerita kalau ada yang mendekatinya, dan bahkan langsung menyatakan perasaannya di chat, tapi Cindy mengatakan tidak tau dengan pasti siapa orangnya.


Mendengar cerita temannya, sudah barang tentu Andjani heran bukan kepalang. Bagaimana bisa menyatakan perasaan kalau tidak mengetahui siapa orangnya.


Cindy menjelaskan kalau yang menyatakan perasaan padanya mengatakan kalau sudah dari dulu memperhatikan dirinya secara diam-diam.


"Sepertinya dia dari kelas lain. Karena dikelas kita kan semua bucin padamu, dan sisanya sudah punya pacar. Lalu kamu sendiri, bagaimana bisa sampai saat ini belum memiliki pacar, padahal banyak sekali yang menyatakan perasaannya padamu" Cindy memperlihatkan pada Andjani, pesan-pesan yang dia dapatkan dari pria yang menyatakan perasaan padanya.


"Ini foto profilnya seperti foto ruangan basket. Berarti besar kemungkinan kalau dia anggota dari klub basket" Andjani melihat dan mengingat-ingat.


"Benarkah?. Aku bahkan tidak mengikuti ekstrakulikuler basket, jadi bagaimana dia bisa mengenalku?" tanya Cindy merasa ada yang salah.


"Mungkin karena kamu sering datang menemuiku, lagipula bukankah kamu selalu memberikan dukungan padaku. Setiap aku bertanding, pasti dari sana dia melihatmu. Aku merasa kalau cowok itu pasti menyukai dirimu yang sangat ceria dan bersemangat" Andjani memberikan asumsinya.


Mereka berpisah dan pulang menggunakan kendaraan masing-masing. Andjani menolak diberikan mobil oleh Djani, padahal biasanya anak seumuran Andjani, disaat ulang tahun yang ke tujuh belas tahun, pasti kebanyakan akan meminta hal itu.


Andjani merasa untuk membeli sebuah mobil, itu terlalu berlebihan bagi anak sekolah, walau mereka sudah mempunyai kartu tanda penduduk, yang berarti bisa juga mendapatkan surat izin mengemudi, tapi Andjani belum ada keinginan untuk memiliki mobil.


Sepertinya Andjani menyangka kalau kedua orang tuanya tidak sanggup membelikan nya mobil, jadi dia tidak mau membebani keuangan keluarga yang menurutnya pas-pasan.


Sampai saat ini, Andjani bahkan belum tau kalau sebenarnya ayahnya adalah konglomerat ternama. Saat kepulangan mereka dari luar negeri, untuk kembali menetap di kampung halaman mereka, hal itu dilakukan secara diam-diam oleh Djani sekeluarga, jadi keberadaan mereka belum terendus media.

__ADS_1


Qaynaya sebisa mungkin tetap menerapkan hidup sederhana dalam kehidupan sehari-hari, karena tidak mau kalau sampai kedua anaknya mengalami kesombongan dengan apa yang mereka miliki.


Sebenarnya tidak semua anak konglomerat menjadi sombong dengan keadaan mereka. Hanya saja Qaynaya merasa ini cara yang lebih baik, dan yang pasti juga lebih aman.


Tidak sanggup dibayangkan oleh Qaynaya, kalau sampai kedua anaknya terekspos oleh media, dan menjadi pemberitaan setiap saat, belum lagi ancaman dari orang jahat yang bisa saja mengincar keselamatan Arion dan Andjani.


Sebagai pewaris tahta perusahaan terbesar yang bahkan cabangnya tersebar dan menjamur di beberapa negara, pasti banyak yang mengincar keselamatan Arion dan Andjani. Itulah yang membuat Qaynaya menutup rapat siapa sebenarnya Djani. Hanya saja Arion sudah mengetahui semuanya, tapi Arion menepati janjinya dan tidak mengatakan kenyataan itu pada kakaknya yang belum tau tentang hal itu.


"Kamu yakin tidak mau sebuah mobil? ayah lihat banyak temanmu yang menggunakan mobil pribadi untuk bersekolah" Djani kembali bertanya pada Andjani saat mereka di perjalanan.


"Tidak. Lagipula aku tidak mau membebani ayah dengan harus membayar cicilan mobil setiap bulannya" jawab Andjani sambil membuka ponselnya.


Djani menggelengkan kepalanya, sebab tidak ada yang bisa dia katakan lagi, karena Qaynaya bisa marah padanya kalau dia mengatakan pada Andjani, jika bahkan bukan hanya mobil keluaran terbaru yang bisa dia belikan, tapi bahkan Dealer mobilnya bisa dia beli.


Andjani kembali mengingat kedatangan Ardi, dan bagaimana sahabatnya itu bisa dengan cepat melupakannya. Mereka berpisah baru sekitar dua tahun, bagaimana bisa secepat itu Ardi melupakan dirinya. Karena terus melamun, Andjani tidak mendengarkan apa yang dikatakan oleh ayahnya.


"Anna,, Anna, An" Djani lalu menghentikan mobilnya dengan perlahan, mereka berhenti disebuah toko kue.


"Kenapa kita berhenti di sini?" tanya Andjani heran.


"Dari tadi ayah berbicara, tapi kamu terus saja melamun. Kita berhenti dulu disini. Mama mu tadi pagi ayah lihat, melihat dengan serius sebuah iklan di ponselnya dengan serius, dan iklan itu adalah iklan kue, sepertinya mama mu ingin makan kue. Apa kamu kamu sekalian?" Djani turun dari mobilnya, tapi Andjani mengatakan kalau dia akan menunggu di mobil saja.


Selama menunggu ayahnya, Andjani melihat galeri foto di ponselnya, masih tersimpan disana, banyak foto dirinya dan Arion, serta Ardi, sedari mereka kecil dahulu.

__ADS_1


"Sekarang kamu bertambah tinggi sekali, tapi tetap saja tidak banyak yang berubah. Lalu apakah aku berubah sebanyak itu sampai dia tidak mengenaliku lagi?" Andjani bergumam sambil melihat wajahnya di spion mobil.


"Aku merasa tidak terlalu banyak berubah juga, jadi bagaimana bisa dia melupakan diriku. Coba sekarang aku telfon Arion saja, untuk bercerita tentang datangnya Ardi ke negara ini" Saat Andjani terus saja berbicara sendiri sambil memainkan ponselnya, Djani telah kembali lagi, hingga membuat Andjani mengurungkan niatnya untuk menelepon adiknya.


__ADS_2