
Andjani sampai ke rumahnya, dan langsung mencari mamanya yang berada di dapur.
"Kok sudah pulang? biasanya sampai sore" Qaynaya menghentikan kegiatan nya saat melihat anak gadisnya datang.
Andjani lalu menceritakan alasannya pada sang mama, kalau mulai sekarang dia akan pulang lebih awal, karena sudah tidak di ijinkan untuk aktif lagi mengikuti ekstrakulikuler. Qaynaya mengerti, lalu meminta anaknya untuk membersihkan diri terlebih dahulu.
Awalnya Andjani ingin bercerita pada mamanya, tentang Reymond, tapi karena dia merasa sangat gerah, Andjani lalu memilih untuk membersihkan diri dan mandi terlebih dahulu.
Terdengar suara bel rumah berbunyi, Rini yang berada di ruang keluarga, lalu keluar untuk mencari tau siapa yang datang, dia tau kalau menantunya sedang sibuk di dapur, jadi mencoba membantu untuk membukakan pintu.
"Ardi, kamu datang sendiri?" Rini tersenyum senang saat melihat kedatangan Ardi.
"Sekalian lewat nek. Maaf nek, apa Aan sudah sampai?" Ardi bertanya setelah dia memasuki pagar rumah.
__ADS_1
"Baru saja sampai, sepertinya dia lagi mandi"
Ardi mengangguk mengerti, dan memberikan satu paper bag besar pada Rini, entah apa isinya, tapi Rini langsung menerimanya.
Ardi menyapa Qaynaya yang mendekatinya, dan setelah berbasa-basi sebentar, Ardi meminta maaf karena tidak bisa lebih lama lagi, dan harus segera pamit, tapi belum juga dia keluar dari dalam rumah, Andjani keluar dari dalam kamarnya, dengan baju rumahan yang imut, rambut basahnya membuat Andjani terlihat semakin manis.
"Anna, sapa dulu Ardi, dia mampir sepulang dari bekerja. Lalu segera masuk lagi ke kamarmu" Qaynaya mendekati anaknya dan menuntun anaknya itu mendekati Ardi.
"Mama, aku lupa kalau tadi Aqlema meminta link tugas yang harus di kerjakan sekarang juga, takutnya kalau malam tidak selesai" Andjani langsung berbalik badan dan berlari kembali kedalam kamarnya.
Rini lalu bercerita pada Ardi, kalau Andjani memang sangat bekerja keras dan belajar semakin tekun, untuk menghadapi ujian sekolah. Ardi mengerti dan mengangguk, lalu kembali pamit pada Rini dan Qaynaya.
Setelah Ardi pergi, Rini membuka paper bag besar yang tadi diberikan oleh Ardi, dan isinya adalah berbagai macam makanan, jadi Rini langsung meminta pada Qaynaya untuk tidak masak terlalu banyak, atau kalau perlu, tidak perlu melanjutkan masak, karena sudah ada banyak makanan.
__ADS_1
Qaynaya mengerti dan karena tidak mau membuang-buang makanan, Qaynaya memilih memasukkan bahan-bahan masakan yang sudah dia persiapkan tadi kedalam kulkas.
Merasa heran dengan tingkah anaknya yang masih konsisten marah pada Ardi, Qaynaya lalu masuk kedalam kamar anaknya.
"Sayang, bukankah tidak baik kalau kamu terlalu berlebihan seperti ini? Kamu juga tau sendiri kalau Ardi pura-pura lupa padamu karena saat itu kemungkinan dia tau akan kedatangan Cheril. Tapi apa iya kamu akan selamanya bersikap seperti ini pada Ardi?"
"Entahlah ma, aku masih kesal saja padanya"
"Hati-hati lho sayang, karena kebencian yang berlebihan, atau rasa tidak suka yang berlebihan, itu bisa berbalik nantinya
Bagaimana kalau nantinya kamu malah menyukainya?" Qaynaya bercanda, walau hatinya begitu cemas saat mengatakannya. Karena bagaimana pun, dia akan selalu berusaha, supaya Ardi dan Andjani, tidak memiliki hubungan lain selain persahabatan.
"Tidak ma, dia itu kan sudah milik Cheril. Aku masih cukup punya sopan santun dengan tidak akan pernah merebut yang sudah menjadi milik orang lain"
__ADS_1
Sebelum keluar dari dalam kamar Andjani Qaynaya meminta anaknya itu untuk bersikap normal saja pada Ardi, seperti dahulu saat mereka masih bersahabat.
Andjani tidak menjawab, karena sungguh dia masih sangat kesal dan marah pada Ardi.