
"Bagaimana pun juga, tetap saja ini adalah pelanggaran"
Djani harus membayar uang denda untuk menebus Arion, dan karena ini adalah pertama kalinya Arion ditilang, jadi dia hanya mendapatkan surat peringatan, tetapi polisi benar-benar menekankan, supaya Arion tidak mengendarai motor, sebelum mempunyai Surat Izin Mengemudi.
Kali ini beruntung mereka hanya ditilang biasa saja, karena kalau sampai terjadi kecelakaan yang melibatkan Arion saat berkendara, maka hukumannya tentu akan sangat berat.
Tidak hanya harus membayar denda, tapi juga kemungkinan bisa dijebloskan ke dalam jeruji besi.
"Maafkan aku. Ini semua karena aku yang waktu itu memaksa ayah untuk membelikan aku motor" Arion meminta maaf kepada ayahnya, begitu mereka keluar dari dalam kantor polisi.
"Tidak perlu meminta maaf, ini bukan salahmu. Ini sedari awal adalah kesalahan ayah. Tapi asalkan kamu tau, selama ini ayah selalu meminta seseorang untuk memantau dirimu saat mengendarai motor. Itu ayah lakukan, untuk menjagamu dari jauh" Djani mengusap bahu Arion, menenangkan anaknya itu, yang hatinya dipenuhi rasa bersalah.
__ADS_1
"Pantas saja tadi ayah begitu cepat datang" ujar Andjani, yang langsung di benarkan oleh Djani.
Sebagai orang yang tau aturan hukum, tentu saja Djani tau kalau keputusan nya memberikan motor pada Arion, adalah keputusan yang salah, tapi mau dikata apa, karena saat itu, hanya keputusan ini yang terbaik.
Djani tidak mau kalau sampai Arion menjadi murung, dan semakin tertekan dan bersedih, karena tidak mendapatkan apa yang dia inginkan.
"Apa sekarang kamu sudah sadar. Apa alasan ayah saat itu tidak langsung menyetujui dirimu mempunyai sebuah sepeda motor" tanya Djani pada Arion.
Jawaban Arion membuat Djani lega, karena masalah ini akhirnya selesai, tanpa ada yang terluka sedikitpun. Tidak bisa dibayangkan ketakutan dan kekhawatiran yang dirasakan oleh Djani, saat dirinya membelikan Arion sebuah motor. Itulah kenapa dia selalu memantau dari kejauhan, tanpa sepengetahuan Arion.
Qaynaya yang sudah menunggu mereka di teras rumah, tidak bisa menahan air matanya untuk mengalir, dia sungguh takut kalau sampai terjadi sesuatu pada anaknya. Qaynaya tidak sanggup membayangkan kalau sampai Arion di jebloskan ke penjara, karena telah melanggar hukum lalu lintas.
__ADS_1
Ardi dan Sasha juga sampai, karena mendengar kabar ini dari Rini. Sebenarnya mereka tadi ke kantor polisi, tapi saat itu, Djani dan anak-anaknya sudah pergi dari sana.
Rasa khawatir jelas terlihat di wajah Ardi, dia langsung berjalan cepat, menuju Andjani dan Arion yang berdiri berdampingan, karena mereka belum sempat masuk kedalam rumah.
"Apa kalian terluka?" Ardi bertanya dengan sedikit panik, tapi Andjani yang melihatnya, langsung pergi dan tidak memperdulikan Ardi sedikitpun.
Tentu saja Andjani memilih tidak memperdulikan Ardi, karena rasa sakit di pipinya karena tamparan dari Cheril, masih terus teringat, bahkan sebenarnya bekas memarnya ada, hanya saja Andjani menutupinya dengan memakai masker mulut.
"Anna!" Qaynaya memanggil Andjani dengan keras, dia tidak menyukai tingkah anaknya, yang terlihat tidak sopan pada orang lain.
"Aku lelah ma, maafkan aku" jawab Andjani tanpa berbalik badan, karena dia takut mamanya itu mengetahui kejadian yang sebenarnya, karena Andjani sangat tau, kalau mamanya itu begitu pintar melihat dan memahami situasi yang terjadi.
__ADS_1
Biarkanlah mamanya berfikir kalau dia melakukan hal ini, karena dia masih kecewa pada Ardi yang pura-pura melupakan dirinya, walau sebenarnya rasa kecewa itu sudah tidak ada, karena dia sudah menerima dengan penuh keputusan Ardi yang bersikap seperti itu. Saat ini, Andjani tidak mau menambah masalah.