
Setelah perjalanan yang sebenarnya tidak terlalu jauh, hanya saja kemacetan yang terjadi dimana-mana membuat mereka lama untuk sampai ke rumah.
"Aan cantik. Apa yang mamamu berikan padamu? bagaimana bisa sekarang kamu secantik ini?" Sasha yang mengetahui kalau Andjani baru pulang, langsung menyongsong kedatangannya.
Andjani terdiam, karena kalau Sasha ada disini, maka besar kemungkinan kalau Ardi juga akan segera datang.
"Jangan terlalu berlebihan" Qaynaya yang menjawab, lalu segera meminta Andjani untuk membersihkan diri dan makan.
"Aku masih merindukannya Qay, kamu pelit sekali" Sasha masih tidak mau melepaskan tangannya dari lengan Andjani.
"Aku harus mandi dulu Tante" Andjani merasa canggung, karena mau bagaimanapun, dia harus menuruti kemauan dan perintah dari mamanya, lagipula tubuhnya memang sangat kotor.
Sasha terus saja memuji Andjani yang terlihat sangat manis dan cantik. Hingga dia melupakan untuk menyapa Djani, akan tetapi Djani sendiri cuek dan memilih memberikan kue yang tadi dia beli, pada istri tercintanya.
Qaynaya tersenyum malu melihatnya, karena suaminya selalu tau yang dia inginkan, walau tanpa diminta. Djani lalu menyombongkan diri dan mengatakan kalau dia tau segala isi hati dari Qaynaya.
"Aku pikir kamu hanya tau isi itunya, ternyata hatinya juga kamu sangat paham ya? apa kabar Djani?" Sasha menyapa Djani, tapi tangannya masih tidak rela untuk melepaskan Andjani.
Sasha memang begitu menyayangi Andjani sedari kecil, karena bisa dikatakan Qaynaya dan Sasha membesarkan anak-anak mereka bersama-sama. Ada satu lagi sahabat mereka yang masih tinggal di luar negeri, namanya Serli, tapi sepertinya Serli masih betah tinggal di negara orang, dan belum ada niat untuk kembali ke negara asal mereka.
"Negara ini sepertinya nyaman ya ditinggali? kamu sampai lupa pada tante, dan tidak pernah memberikan kabar" Sasha memanyunkan bibirnya, sambil mencubit gemas pipi Andjani.
__ADS_1
"Tante, apa Ardi juga datang?" Andjani tidak bisa menyembunyikan rasa penasarannya.
"Tentu saja, sebentar lagi juga dia akan datang menjemput Tante. Apa kamu masih mengingatnya?" tanya Sasha menggoda Andjani, dengan memainkan kedua matanya.
"Mereka bersahabat sedari kecil, bagaimana mungkin mereka saling melupakan" Qaynaya mendekati Andjani, dan bersikeras memintanya untuk segera masuk kedalam kamarnya untuk mandi.
Tapi belum sempat Andjani masuk kedalam kamarnya, terdengar suara mobil yang datang mendekat dan parkir, tepat disebelah mobil Djani.
Qaynaya terlihat was-was dan berharap kalau ini bukan Ardi, karena dia tidak mau kalau sampai anaknya bertemu kembali dengan sahabat masa kecilnya itu.
"Masuk cepat ke dalam kamarmu" Qaynaya terdengar sangat tegas, hingga membuat Andjani dan yang lainnya sedikit heran. Karena tidak biasanya Qaynaya terlihat begitu cemas.
Andjani tentu saja langsung mengikuti perintah dari mamanya, sementara Sasha langsung melepaskan tangannya dari lengan Andjani. Dari hal ini, Sasha menyadari kalau sahabatnya itu tidak menyukai Ardi, entah apapun alasannya.
Qaynaya tidak menjawab, dan hanya tersenyum pada Ardi yang tersenyum padanya dengan ramah, sembari bersalaman.
"Kamu begitu tinggi, dan sangat tampan sekali" Qaynaya memuji Ardi.
"Tante bisa saja, tentu saja aku bertumbuh, bukanlah tidak selamanya aku kecil" Ardi sama seperti Sasha yang terlihat sangat ceria, tidak terlihat ada kecanggungan yang terlihat.
Setelah selesai mengobrol dan berbasa-basi, Sasha hendak pamit. Tapi Ardi terus mengulur waktu dan sesekali melihat ke sekeliling rumah, dan semua orang sudah tentu sangat menyadari, siapa yang tengah dicari oleh Ardi.
__ADS_1
"Aan sedang beristirahat, dia baru pulang sekolah, jadi pastinya merasa lelah. Sebaiknya kita pulang terlebih dahulu, kalau ada waktu luang, kita bisa datang kemari lagi. Bolehkah Qay" ujar Sasha, mencoba menghibur anaknya, yang dia tau dengan pasti, kalau anaknya itu pasti merindukan Andjani.
Sasha memang tau kalau Ardi masih belum membuka hatinya untukku Cheril yang selalu berusaha menarik perhatiannya. Karena dihati Ardi, hanya ada satu nama yang telah terpatri dalam.
"Cheril menghubungi mama. Dia mengajak kita untuk makan malam bersama, jadi kita harus segera pulang untuk bersiap. Bukankah kamu menganggap Aan adalah adikmu sedari dahulu, jadi sebagai kakak, kamu harus bisa memahaminya" Sasha berbicara yang isi dari perkataan yang dia ucapkan, tentu sangat berbeda dengan isi hati Ardi dahulu, yang sempat menyukai Andjani.
Rini memecahkan kecanggungan dengan mengajak mereka untuk segera melakukan pesta penyambutan datangnya Sasha. Karena mereka sangatlah dekat satu sama lain, jadi tidak ada salahnya itu dilakukan, setidaknya mereka bisa membuat pesta kecil-kecilan, atau makan-makan bersama di sebuah restoran.
"Malam ini kalian sudah ada janji. Jadi kita lakukan hal itu, pada hari minggu, saat anak-anak libur sekolah. Ardi juga bukankah harus kuliah?" Rini mengajak Ardi untuk mengobrol.
"Tidak hanya kuliah, tapi dia juga mengajar di salah satu sekolah di negara ini" Sasha lah yang menjawab dengan antusias.
Djani yang dari tadi hanya diam, untuk melihat situasi yang ada, akhirnya membuka mulutnya, dan ikut mengobrol. Bagaimana pun juga, kecanggungan diantara mereka harus segera di cairkan.
"Bagaimana bisa diumur yang masih sangat muda seperti dirimu, tapi sudah bisa mengajar?" Djani keheranan mendengar kalau Ardi telah menjadi seorang pelajar.
"Tidak Om. Sebenarnya terlalu berlebihan kalau di katakan aku adalah pengajar, karena aku hanya menggantikan dosenku untuk sementara. Dosenku mengatakan akan memberikan nilai tambah kalau aku sanggup melakukan hal itu. Jadi bisa dikatakan kalau aku hanya sedang mencari nilai tambah saja" Ardi menjelaskan yang sebenarnya, tapi tetap saja, apa yang dikatakan oleh Ardi, adalah sesuatu yang sangat luar biasa, karena tidak banyak yang sanggup melakukan dan mendapatkan kesempatan besar seperti itu.
Disaat mereka sedang serius mengobrol dan berbicara, Arion datang dan tentu saja begitu senang dan bahagia saat melihat kedatangan Sasha dan Ardi.
"Kakak, kapan kakak sampai?" Arion bahkan lupa belum mencuci tangannya, dan langsung mendekati Ardi, lalu mereka melakukan high five.
__ADS_1
"Sejak tadi. Lalu kenapa kamu bisa pulang terlambat sekali?" Ardi memang selalu perhatian pada Arion.