
"Tentu saja bisa, lagipula ini belum terlambat"
Jawaban dokter membuat Djani sedikit tenang, tapi setelah mendengar penjelasan selanjutnya, Djani menjadi khawatir, karena penjelasan dokter selanjutnya, ada pada Arion selama ini.
"Perilaku bullying dapat mempengaruhi pola tidur anak yang menjadi korban perundungan. Perasaan tertekan itu bisa terjadi kapan saja, apalagi ketika di momen sendirian di kamar. Ia akan merasa sulit untuk tidur atau tidur yang tidak nyenyak. Terbangun di tengah malam karena mimpi buruk bakal sering terjadi" ujar sang dokter. Djani lalu mengingat saat dirinya sering memergoki Arion yang kesulitan untuk tidu.
Selain sulit tidur, korban bullying juga bisa merasakan tidak nafsu makan. Rasa cemas dan tertekan terjadi setiap waktu, yang membuat tidak ingin melakukan hal apapun, salah satunya aktivitas makan. Tidak nafsu makan mungkin bisa menjadi tanda anak sedang sakit, namun bagi korban bullying bisa terjadi terus menerus. Bila ini dibiarkan bisa mempengaruhi kesehatan fisik dan asupan gizi yang terus berkurang. Dokter terus menjelaskan, dan semakin membuat Djani merasakan sakit yang mendalam di hatinya, karena merasa tidak becus dalam merawat anak-anaknya selama ini.
"Anak korban bullying akan merasa sulit berkonsentrasi ketika belajar, baik di sekolah maupun di rumah. Hal ini dapat mengakibatkan sang anak tidak mampu menyerap pelajaran dengan baik. Hal ini secara langsung bisa menurunkan prestasi akademiknya. Korban bullying juga bisa saja untuk membolos, bahkan sering, karena merasa takut untuk bertemu yang membully-nya di sekolah"
"Tapi sekarang Arion sudah pindah dok, kejadian yang menimpa nya ada disekolah lamanya" ujar Djani memberikan keterangan.
"Salah satu tanda akibat bullying terhadap kesehatan mental ialah, anak akan menjadi tidak percaya diri seperti biasanya, merasa rendah diri dan merasa dirinya tidak berharga di mata orang lain. Hal ini bakal menganggu kemampuan bersosialisasi anak bahkan ketika telah berusia dewasa. Jadi walaupun sudah pindah, mungkin perasaan itu tetap ada"
Korban bullying secara perlahan akan menarik diri dari segala kehidupan sosial dan mengurung diri. Dia akan menghindari hubungan dengan teman atau orang lain, bahkan bisa menghindari keluarganya sendiri. Perasaan trauma ini yang sulit dihadapi, tetapi juga sang korban tidak tahu harus membicarakannya kepada siapa. Artinya, korban tidak percaya kepada siapapun.
Djani mengangguk membenarkan, karena Arion tidak pernah bercerita mengenai apa yang dia rasakan. Bahkan saat kejadian bullying itu terus didalami nya, Arion tidak pernah sekalipun mengatakan nya sekalipun pada orang lain, maupun pada kedua orang tuanya.
Arion merasa mampu menghadapinya sendiri, dia juga merasa kuat, karena dia selalu berfikir, bahwa bullyan dan hinaan dari teman-temannya adalah sesuatu yang benar, Tapi nyatanya hati kecilnya tidak sanggup menanggung kesedihannya.
"Pengaruh bullying terhadap kesehatan mental anak cukup berbahaya dan tidak boleh disepelekan. Anak yang mengalami bullying dapat mengalami depresi yang tidak berujung hingga memiliki keinginan untuk mengakhiri hidup. Walaupun itu hanya candaan saja ketika sedang mengobrol bersama seseorang, tapi jangan dianggap remeh. Tapi sepertinya untuk kasus anak bapak, ini tidak separah itu"
"Lalu apa yang sekiranya harus saya lakukan dokter?" tanya Djani.
"Kesehatan mental anak bisa mempengaruhi kehidupan mereka ketika telah beranjak dewasa. Tapi tenang saja, karena dengan perawatan yang tepat, maka anak bapak pasti akan pulih. Salah satu yang bisa dilakukan adalah Self healing atau penyembuhan diri, hal ini didefinisikan sebagai proses pemulihan dari kesehatan mental yang buruk. Biasanya, ini mencakup emosional yang tidak stabil dan berefek pada kesehatan fisik. Proses penyembuhan luka pada diri ini dipicu dari trauma di masa lalu yang terbawa hingga saat ini. Tapi saya anjurkan, untuk tidak membuatnya tertekan karena sesuatu hal"
"Baik dokter. Lalu untuk saat ini, apakah anak saya harus dirawat inap?"
"Iya, tentu saja. Kita harus melakukan observasi untuk mengetahui sebesar apa trauma yang dimilikinya"
Setelah beberapa minggu Arion dirawat di rumah sakit, hari ini Arion sudah diperbolehkan pulang, walau harus melakukan rawat jalan, dan dengan rutin, harus meminum obat nya.
__ADS_1
Diperjalanan menuju rumah, Arion melihat kearah luar jendela mobil, dan melihat beberapa anak seumuran dengannya, yang pulang sekolah menggunakan sepeda motor.
"Kalau aku bersekolah menggunakan motor, sepertinya akan sangat mudah dan nyaman" ujar Arion, mungkin maksudnya, supaya dia tidak terlalu langsung dapat melihat kondisi sekitar kalau sedang mengendarai sepeda motor, jadi di jalanan, dia tidak akan melihat kejadian yang tidak mengenakkan, atau kejadian yang bisa membuat Arion mengingat kembali traumanya.
Mungkin Arion menjadi Antipati terhadap lingkungan, tapi Djani memahami keadaan Arion saat ini. Tapi dia tetap berharap, suatu saat, anaknya itu bisa sembuh dengan total.
"Kamu belum memiliki Surat Izin Mengemudi, tentu saja belum boleh untuk memiliki sebuah sepeda motor. Tapi kamu jangan memikirkan tentang masalah transportasi untuk pergi ke sekolah. Karena ayah akan siaga antar jemput kalian" ujar Djani pelan.
"Tapi bukankah ayah sedang sangat sibuk, aku lihat ayah sering pulang sore hari, bahkan menjelang malam" Arion berbicara, masih sambil melihat kearah luar jendela mobil.
"Mulai hari ini, ayah akan mengurangi kegiatan apapun, supaya bisa antar jemput kalian"
"Tapi mempunyai motor pasti akan menyenangkan" Arion membuka pintu mobil, karena bertepatan dia berbicara, saat itu mereka sudah sampai di rumah.
"Arion, bukan ayah tidak mau membelikan motor untuk mu, tapi ini demi kebaikanmu sendiri"
"Tapi yah,," Arion hendak berbicara kembali, tapi Qaynaya muncul dari dalam rumah dengan tergesa-gesa, dan langsung memeluk Arion. Tadi Qaynaya tidak ikut menjemput anaknya itu pulang dari rumah sakit, karena dia harus mempersiapkan kepulangan Arion dirumah.
__ADS_1
Setelah Qaynaya melepaskan pelukannya, mereka lalu masuk kedalam rumah.
"Ariioonnn!" Rini dan Rega menyambut dengan ceria kepulangan cucunya, mereka masing-masing memegang sebuah kue dan juga jajanan kesukaan Arion.
Tapi bukan senyum senang yang ditunjukkan oleh Arion, tapi setelah menyapa kakek dan neneknya, Arion langsung melenggang masuk kedalam kamarnya.
Qaynaya heran melihat tingkah laku anaknya, hingga Djani menceritakan apa yang tadi diminta oleh Arion.
"Motor sangat berbahaya bagi Arion. Kita harus bagaimana?" Qaynaya tidak bisa menyembunyikan kesedihannya, karena anaknya menjadi seperti anak kecil yang tidak mengerti akan keselamatan dirinya sendiri, dengan meminta sebuah motor.
"Tapi kata dokter, kita tidak boleh membuatnya tertekan. Jadi aku memutuskan untuk membelikannya motor. Tapi sebelumnya aku akan pastikan dia sanggup mengendarai motor dengan baik dan benar, serta yang pasti harus aman"
"Bagaimana kalau dia ditilang polisi? Kamu juga tau kalau ini adalah pelanggaran" Qaynaya masih saja khawatir.
"Kita bisa atasi itu nanti, untuk saat ini, kita harus memikirkan kondisi Arion. Jangan biarkan dia tertekan akan sesuatu" jawab Djani mantap
💙🌹 Flashback End 🌹💙
"Itulah alasannya" Djani menyelesaikan penjelasan pada polisi, mengenai awal mula dirinya membelikan Arion sebuah motor.
__ADS_1