
"Ada pelajaran tambahan" Arion menjawab dan mengajak Ardi untuk masuk kedalam kamarnya.
Arion sudah lama sekali sangat ingin bertemu lagi dengan Ardi, mereka dulunya sangat dekat dan sering bermain bersama dengan Andjani juga.
Saat melewati sebuah kamar yang tertulis sebuah ukiran yang menunjukkan bahwa itu adalah kamar Andjani, Ardi menoleh dan terus memandangi pintu kamar itu.
"Kak Ardi, kenapa melamun? apa kakak belum bertemu dengan kak Anna?"
"Sudah tadi" jawab Ardi singkat. Dia memang tadi sudah bertemu dengan Andjani di sekolah. Tapi dirumah ini mereka belum bertemu.
__ADS_1
"Lalu kenapa terus melihat kearah pintu kamarnya? apa ada yang ingin kamu katakan dengan kakak? Ayo cepat ke dalam kamarku. Sudah lama sekali kita tidak main game bersama" Arion membuka pintu kamarnya yang bersebelahan dengan kamar kakaknya.
"Tidak, itu hanya perasaan mu saja. Aku sedang melihat ukiran Jepara yang ada pintu kamar itu. Terlihat sangat indah" Ardi mencoba untuk mencari sebuah alasan, dan untunglah dia bisa menemukan alasan dan mengatakannya tanpa membuat Arion curiga.
Mereka masuk kedalam kamar Arion yang tatanan kamarnya terlihat sangat maskulin. perpaduan warna hitam dan abu-abu, membuat kamar Arion terlihat berkelas dan mewah, apa lagi ruangan kamar Arion juga sangat luas, dan terdapat satu meja, dengan isi beberapa game kesukaan Arion di atasnya.
"Aku mendengar kabar bahwa telah terjadi sesuatu di sekolah mu sesaat sebelum kalian pindah ke negara ini. Yang ingin aku katakan adalah. Apakah kamu baik-baik saja?" Ardi bertanya kepada Arion saat mereka sudah duduk disebuah kursi game.
Sambil bercerita dan memulai kisahnya. Arion meminta supaya Djani nantinya tidak merasakan perasaan iba padanya, karena hal itu malahan bisa membuatnya kembali mengingat rasa sakit yang pernah dia rasakan.
__ADS_1
"Setelah kepindahan sekolah dan bahkan pindah tempat tinggal ke negara ini, tentu saja aku dan kak Anna harus langsung bersekolah kembali, karena sudah banyak ketinggalan pelajaran. Suatu hari disaat ada pelajaran yang membicarakan tentang kasus bullying. Tiba-tiba rasa takut menjalar ke seluruh tubuhku, hingga aku terjatuh dari kursi dan pingsan" Arion bercerita sambil merapikan sebuah game yang ingin dia mainkan.
"Apa yang terjadi?!" Ardi terdengar begitu panik, sangat kentara sekali rasa khawatir dari nada bicaranya. Bagaimana tidak, karena Arion sudah dia anggap sebagai adiknya sedari dahulu.
"Aku lalu dibawa Ke rumah sakit. Dan setelah melakukan pemeriksaan selama beberapa hari, akhirnya diketahui bahwa aku mengalami trauma akibat tragedi bullying yang aku terima. Padahal aku merasa begitu kuat, dan juga aku sangat yakin kalau aku sanggup melaluinya. Tapi ternyata kenyataan sebenarnya sangat berbeda jauh dari yang aku harapkan. Dokter mengatakan kalau apa yang aku pendam selama ini, membuat mentalku melemah" Arion sudah memakai headset, lalu menoleh melihat kearah Ardi yang sangat serius mendengarkan dia berbicara.
"Lalu sekarang?" tanya Ardi pelan, dia sepertinya menjadi sedikit waspada, karena takut kalau sampai apa yang diucapkannya membuat Arion tidak nyaman dan mengingat kembali akan traumanya.
"Aku sangat tidak menyukai saat orang lain melihat ku seperti kakak saat ini. Pandangan kakak yang seperti menahan perasaan, hingga nantinya berhati-hati dalam berbicara. Itu malah membuatku seperti seorang pesakitan parah yang tidak bisa diobati"
__ADS_1
"Maaf Arion, sungguh bukan itu maksudku" Ardi merasa sangat bersalah dengan sikapnya dalam menghadapi Arion.