
"Kenapa kamu tidak menolak saat mama mengatakan akan segera membuat acara pertunanganmu dengan Cheril? Apa kamu sudah menerimanya?" Sasha mengajukan pertanyaan pada putranya yang tengah serius menyetir.
"Mama tau jawabannya" jawab Ardi singkat.
"Apa yang bisa kamu harapkan dari Aan? dia saja tidak perduli padamu. Aku juga menyayangi dirinya, karena dia adalah anak dari sahabatku. Tapi aku juga tidak mau, kalau kamu terus terluka, karena mengharapkan cintanya. Lagipula apa yang kurang dari Cheril? Dia juga cantik, dia baik dan yang pasti selalu ada untukmu. Jangan kamu campur adukkan dengan permasalahan orang tua. Mama yakin kalau Cheril berbeda dengan mamanya" Sasha tentu saja sangat tau, kalau Cheril adalah anak dari Reina, yang mana wanita itu adalah wanita yang dulunya selalu mengganggu hubungan Djani dan Qaynaya.
Ardi tidak menjawab lagi, memilih untuk focus pada jalanan. Mereka memasuki sebuah apartemen, tempat tinggal Ardi selama ini. dan ternyata apartemen itu tidak jauh dari sekolah SMAN XX, tempat dimana Andjani menimba ilmu.
Malam sudah semakin larut, Ardi meminta pada mamanya untuk beristirahat, dan tidak perlu memikirkan tentang apapun, terutama tentang masalah percintaan dirinya. Karena dengan siapapun nantinya dia membangun sebuah hubungan, pasti karena sudah dia pikirkan dengan baik.
Sasha mencoba membantah dan mengatakan kalau urusan itu juga menjadi urusannya, supaya nantinya Ardi tidak salah pilih.
"Ma, aku bukan anak kecil lagi. Aku tau apa yang harus aku lakukan. Lagipula aku masih sangat muda, untuk apa mama pusing memikirkan tentang masalah ini? Aku ini bukan perjaka tua, jadi mama tidak perlu menghawatirkan tentang hal itu" Ardi mencoba menenangkan mamanya.
"Mama tidak mau kalau sampai kamu salah pergaulan, jadi lebih baik kamu menjalin hubungan yang sehat. Dengan adanya ikatan pertunangan, nantinya kalian akan serius dalam menjalani sebuah hubungan. Lagipula apa kamu tidak merasa kasihan dengan Cheril? Dia begitu berusaha keras mendekati dirimu selama ini"
"Dia itu hanya terobsesi padaku ma. Dia tidak benar-benar mencintaiku, dia hanya merasa bahwa apapun yang dia inginkan, harus dia dapatkan. Sudahlah ma, jangan membicarakan tentang dirinya lagi. Karena aku juga tidak bisa memprediksi masa depan. Mungkin bisa saja aku nantinya menyukai dirinya karena suatu hal, kan kita tidak pernah tau. Tapi untuk saat ini, biarkan aku focus pada study ku dahulu" Ardi menjelaskan tentang bagaimana Cheril sebenarnya.
Sasha terdiam mendengarkan apa yang dikatakan oleh Ardi. Selama ini Cheril tidak hanya berusaha mendapatkan hati Ardi, dengan terus berada di samping Ardi, tetapi juga selalu mendekati Sasha.
Cheril yang dikenal oleh Sasha, adalah gadis pintar yang energik dan baik hati, mereka juga sering berbelanja atau ke salon bersama. Saat ini Cheril bahkan hidup mandiri tanpa mamanya, hanya karena ingin selalu dekat dengan Ardi. Jadi bagi Sasha, pengorbanan Cheril sungguh sangat besar untuk anaknya.
Gadis cantik, pintar dan mandiri seperti Cheril, siapa juga yang tidak akan menyukainya. Sasha memikirkan hal itu, dan mantap akan terus berusaha membantu Cheril, untuk mendapatkan cinta Ardi.
Keesokan harinya, Andjani bersekolah seperti biasa, walau sebenarnya dia sedikit malas, karena pasti nantinya di sekolahan, akan bertemu dengan Ardi. Tapi dia tidak boleh mengikuti rasa malasnya, apalagi ujian sekolahnya hampir tiba, jadi dia harus selalu semangat.
Andjani berangkat sekolah bersama dengan Arion, karena belajar di sekolah yang sama.
"Anna" sahabat Andjani yang masih berada di dalam mobil menyapa dengan riang.
"Aqlema, kamu sudah datang? Tumben sekali sepagi ini kamu sudah datang, biasanya juga mendekati jam pelajaran baru muncul"
"Iya, aku sedikit malas, karena tugasku belum selesai semua. Itulah kenapa aku datang sepagi ini, karena devi sekolah ini selalu datang di pagi hari. Dan aku sangat yakin, kalau dewi itu pasti sudah menyelesaikan tugasnya"
__ADS_1
"Baiklah, mari temui dewi itu. Karena aku juga belum mengerjakan tugas, mungkin sang dewi yang kamu bicarakan bisa membantuku juga"
"Aahhh,, Anna! Jangan bercanda lagi denganku, aku benar belum mengerjakan tugas. Aku mohon dewiku, bantulah aku sayangku" Aqlema merayu Andjani, tapi sepertinya Andjani tidak ada niatan sama sekali untuk memberikan contekan pada sahabatnya itu
Andjani mengatakan kalau dia tidak akan memberikan buku tugasnya, walau hanya untuk dipinjam sebentar untuk disalin. Andjani menjelaskan kalau itu dia lakukan karena sangat menyayangi Aqlema.
Kalau Aqlema dengan gampang hanya mencontek dan menyalin, maka nantinya Aqlema sendiri yang tidak akan mengerti cara penyelesaian tugas yang diberikan oleh guru. Jadi Andjani memilih mengajarkan pada Aqlema, bagaimana cara mengerjakan tugas yang belum dikerjakan oleh Aqlema, tapi hasilnya, harus Aqlema sendiri yang berfikir.
Aqlema sedikit memajukan bibirnya, mungkin dia sedikit kesal, tapi dia tidak bisa membantah apa yang dikatakan oleh Andjani, karena dia tau kalau itu yang di inginkan oleh Andjani, adalah demi kebaikan dirinya sendiri.
Pelajaran demi pelajaran telah terlewati, dan siang hari adalah waktunya mereka beristirahat. Andjani dan Aqlema menuju kantin sekolah untuk makan siang.
Tidak seperti biasanya, kantin yang biasanya tidak terlalu ramai, karena kebanyakan dari murid disana membawa bekal, tapi kali ini terlihat begitu ramai, bahkan ada kerumunan yang tidak diketahui apa penyebabnya.
Karena rasa lapar, Andjani tidak terlalu memperdulikan kerumunan itu, dan terus menarik tangan Aqlema, untuk segera menuju stan seblak, karena Andjani begitu menyukai makanan gurih yang satu itu.
"Bu, seblak kerupuk dan tahu kering nya satu porsi, pakai telur, dan sambelnya yang banyak ya" Andjani lalu menyerahkan satu lembar uang pada ibu kantin, setelah menerima kembalian, Andjani mengucapkan terimakasih, dan menunjuk kursi yang ingin dia duduki, supaya ibu kantin tidak kebingungan mencari.
Seblak pesanan Andjani belum sampai, saat terdengar sebuah suara nyanyian yang merdu. Perhatian Andjani dan Aqlema teralihkan, mereka lalu memandang ke arah kerumunan yang semakin banyak itu.
Where I make up stories all the time
And I pretend that I am not someone
Left to face the world alone
Lately I'm not the same
I've found a stranger calling out my name
Have a feeling you would be so proud
And he's gon' need me now
__ADS_1
But he's not you
He's not you
He will never be you
Photobook with my mistakes
Promises that we never got to make
All the things I wanna talk about
Hard to say it to myself
Wintertime, once again
In the snow I can see just where I've been
How far I've made it in the world so cold
Where I have everything
But he's not you
He's not you
He will never be you
But he's not you
He's not you
He will never be you.
__ADS_1
Nyanyian itu berhenti, dan disambut dengan suara riuh tepuk tangan.