
Setelah melihat siapa yang menyapanya, Djani menoleh dan meminta kedua anaknya untuk kembali kedalam mobil.
"Ayah, kita bahkan belum jadi memilih es krim" Andjani yang awalnya memang sedang bad mood, menjadi semakin kesal karena tidak jadi mendapatkan es krim untuk mengganjal perut nya yang sangat lapar.
"Ikuti perkataan ayah sekarang juga" Djani tidak bisa dibantah, membuat orang yang tadi menyapanya tertawa.
"Kasihan sekali anakmu itu, dia harus mempunyai seorang ayah yang sangat keras kepala. Mungkin kamu juga tidak tau, kalau kekasih dari anakmu sudah direbut oleh anakku"
"Reina. Jaga ucapan mu. Aku tidak mau mencari masalah, jadi jangan ganggu kami lagi"
__ADS_1
Ternyata yang tadi menyapa Djani adalah Reina, wanita yang dahulunya selalu mengganggu kehidupan Djani dan Qaynaya. Entah apa maksud kedatangan nya kembali ke negara ini, tapi Djani sudah sangat yakin kalau kedatangannya kali ini juga hanya akan membuat masalah.
"Apa kamu tidak bosan hidup monoton bersama dengan Qay? Kehidupan kalian sangatlah flat sekali" Reina mendekati Djani dan membisikkan sesuatu. Sementara itu, Arion dan Andjani terbelalak melihat wanita yang mendekati ayahnya itu menatap tajam kearah mereka.
"Siapa sebenarnya wanita itu?" ujar Arion tidak mengerti, karena ditatap sangat intens oleh Reina, sementara mereka tidak mengenalnya.
"Apa perlu sekarang kita mendekat ke arah ayah lagi? Dan langsung bertanya saja? Lagipula kenapa wanita itu berbisik pada ayah?" Arion terus memperhatikan Reina yang masih serius berbicara dengan Djani, sementara Djani sendiri sudah terlihat memundurkan tubuhnya karena tidak nyaman dengan posisinya yang begitu dekat dengan Reina.
"Aku tidak perduli, yang jelas aku akan membalaskan dendam kepada mu dan Qay. Lalu sekarang anak kalian juga harus menjadi korbannya, karena perbuatan kalian dahulu padaku" Reina dengan tidak tau malunya, memberikan sebuah undangan pada Djani.
__ADS_1
"Seperti yang aku katakan tadi. Mungkin aku dahulu tidak sanggup memisahkan dirimu dengan Qay, tapi anakku sanggup memisahkan hubungan cinta dari Andjani dan Ardi" Reina sepertinya tidak tau kalau Djani sekeluarga sudah mengetahui hal itu.
"Apa kamu tidak waras? Mereka itu masih anak-anak, kenapa kamu libatkan dalam hal ini?" Djani semakin malas meladeni Reina, dan berniat untuk segera pergi.
"Aku akan membuat anakmu menderita karena dia tidak bisa bersatu dengan cintanya, itu adalah hukuman untuk kalian" Reina sepertinya masih begitu besar menyimpan dendamnya pada Djani dan Qaynaya.
"Dasar wanita tidak tau diri. Yang mempunyai kesalahan adalah kamu, tapi kamu begitu membenci orang lain. Aku yakin kalau hidup mu pasti sangat kesepian. Hingga membuat dirimu selalu mencari perhatian. Aku tekankan padamu, jangan ganggu keluarga ku lagi, atau kali ini aku tidak akan segan untuk mengambil tindakan tegas" Ardi sudah hilang kesabaran, dia juga sangat menghawatirkan Qaynaya, karena Reina pasti tidak akan cukup mengusiknya saja.
"Ayah, siapa wanita itu?" tanya Arion begitu Djani kembali.
__ADS_1
"Yang harus kalian ingat adalah. Kalau sampai wanita itu mendatangi kalian dimanapun itu, jangan pernah mendengarkan apapun yang dikatakannya" Djani khawatir kalau sampai kedua anaknya salah paham padanya.
"Untuk itu, coba ceritakan apa yang sebenarnya terjadi? Coba juga ayah jelaskan siapa wanita itu? Apa dia mantan kekasih ayah?" Andjani menatap wajah ayahnya di spion depan mobil.