
"Kak, apa kakak tidak terlalu kejam pada kak Ardi?!,, eh ada mama juga, aku cari mama tadi" Arion yang baru datang langsung masuk kedalam kamar Andjani.
"Ada apa Rion?" Qaynaya yang bertanya, melihat anak bungsunya itu marah pada kakaknya.
Arion lalu menjelaskan bahwa Ardi meminta nomor ponsel Andjani padanya, tapi Arion yang sudah lebih dulu di peringatkan oleh Andjani untuk tidak memberikan nomor ponselnya pada siapapun, akhirnya menolak permintaan dari Ardi, tapi sekarang Arion merasa bersalah pada Ardi.
"Apa kemarin saat kalian bertemu, kalian tidak bertukar nomor ponsel? Kalian itu kan dulunya sangat dekat, sangat kasihan sekali nada bicara dari kak Ardi, sepertinya dia sangat sedih. Walau kakak tidak menyukainya, setidaknya kakak hormati dia sebagai sahabat" Arion menjatuhkan tubuhnya keatas ranjang empuk milik sang kakak, yang langsung diseret kembali oleh Andjani.
"Bersihkan tubuhmu terlebih dahulu, sangat bau matahari! Dan tidak perlu mengurus tentang aku dengan siapapun" Andjani mendorong Arion ke luar dari dalam kamarnya.
"Kakak ini sangat jahat. Bukankah dulu Ardi sangat baik pada kakak?" Ardi kesal pada kakaknya, tapi hanya bisa menurut saat dirinya diminta untuk membersihkan diri terlebih dahulu.
Qaynaya membelai lembut rambut anak gadisnya, dan memintanya keluar untuk bersiap makan. Memang belum waktunya makan malam, tapi sepertinya Andjani yang baru pulang sekolah sudah lapar.
Andjani lalu bertanya pada mamanya, apakah benar cinta pada pandangan pertama itu benar adanya. Karena menurut Andjani, hal itu sangat mustahil. Karena bagaimana bisa seseorang mempunyai perasaan, padahal baru melihat sekali.
"Cinta pada pandangan pertama kerap kali diutarakan dua insan yang sedang di mabuk asmara. Namun benarkah hal itu terjadi?. Mama juga kurang yakin dengan hal itu, karena menurut mama, cinta itu harus tumbuh karena kita sudah yakin, tapi kalau baru bertemu, apakah mungkin bisa ada rasa itu?" Qaynaya tidak bisa menjawab dengan pasti dari pertanyaan anaknya.
__ADS_1
"Cinta semacam itu ada, karena ayah yang merasakannya" Djani yang baru datang langsung ikut nimbrung dan berbicara, kebetulan pintu kamar tidak tertutup dengan rapat, jadi Djani bisa mendengar pembicaraan anak dan istrinya.
Andjani lalu bertanya dan minta dijelaskan oleh ayahnya, tentang cinta pada pandangan pertama, yang pernah dialami oleh ayahnya itu.
"Mengungkap kebenaran tentang cinta pada pandangan pertama. Mereka mengaitkan fenomena itu dengan dua unsur yakni cinta dan nafsu. Ketika seseorang jatuh cinta, berbagai hormon akan menyelimuti tubuh mereka dan mengaktifkan area otak yang berhubungan dengan perilaku adiktif. Beberapa peneliti berpendapat bahwa cinta pada pandangan pertama hanyalah tentang nafsu. Sedangkan ketika ikatan terjadi, cinta akan datang menyusul" Djani berhenti menjelaskan, lalu dia memeluk tubuh Qaynaya sebelum melanjutkan penjelasannya.
"Ada beberapa definisi tentang apa itu cinta. Cinta adalah kasih sayang yang kuat terhadap orang lain yang timbul dari ikatan kekerabatan atau pribadi. Ayah pernah membaca, bahwa bahkan psikolog sebenarnya membantah bahwa seseorang mungkin mengalami cinta sejati saat pertama kali melihat orang lain, tapi yang kamu tanyakan adalah cinta pada pandangan pertama, bukan cinta sejati. Menurut ayah, cinta pada pandangan pertama itu hanya karena nafsu. Misalnya karena dia melihat lawan jenis yang cantik ataupun tampan, jadi dia merasakan suatu getaran di hatinya. Tapi jelas itu bukan cinta sejati, tapi cinta itu bisa juga mengalami perubahan, yang awalnya cinta karena nafsu, lalu berubah merasuk lebih dalam ke hatinya" ujar Djani panjang lebar, dan terus mempererat pelukannya pada sang istri.
Djani lalu menambahkan, bila cinta sebenarnya akan berkembang seiring berjalannya waktu ketika seseorang sudah mulai menilai sifat, nilai dan keterampilan yang dimiliki pasangan.
"Yang jelas, cinta sejati bukan hanya tentang ketertarikan dan hasrat seksual," Djani menyudahi penjelasannya, dan bertanya pada Andjani, apakah mungkin anaknya itu sedang jatuh cinta pada seseorang.
"Cinta pada pandangan pertama memang memabukkan dan indah tapi tidak bertahan lama, biasanya seperti itu. Tapi kita juga tidak pernah tau kedalaman hati seseorang, bisa saja saat ini seseorang itu hanya mencintai karena nafsu pada pandangan pertama itu, tapi setelahnya dia bisa memupuk perasaan cinta itu, hingga akhirnya suatu saat cinta itu berubah menjadi cinta sejati" ungkap Djani kemudian.
Sebagai orang tua, Djani dan Qaynaya harus bisa mengedukasi anak-anak mereka, supaya tidak salah langkah saat mereka mulai mengenal perasaan cinta. Djani yang tadinya ingin menyudahi penjelasannya, memilih untuk kembali berbicara untuk menjelaskan, supaya anaknya lebih paham lagi.
"Jika seseorang mencari pasangan untuk partner seumur hidup, cinta pandangan pertama bukanlah tanda bila telah menemukan pasangan yang tepat. Karena perasaan itu bisa luntur, yang pasti perasaan itu harus dipupuk oleh kedua belah pihak. Dibanding cinta, fenomena itu selalu terkait dengan fisik dan nafsu daripada cinta romantis yang bertahan lama. Tapi bukankah kita tidak boleh langsung mengatakan bahwa cinta pada pandangan pertama itu pasti tidak baik dan tidak bertahan lama, karena kita tidak pernah tau, apa yang akan terjadi di masa depan" Djani berhenti sejenak, tapi saat dia akan kembali melanjutkan ucapannya, Qaynaya yang lebih dulu berbicara.
__ADS_1
"Jadi itulah penjelasan tentang cinta pandangan pertama yang ternyata bukan keadaan nyata melainkan perasaan terbalut nafsu. Untuk itu tak ada salahnya untuk berjalan perlahan bersama pasangan dan saling mengenal segala hal tentang dirinya. Dibanding terlalu terburu-buru bersama dan mengambil keputusan namun berakhir ditinggalkan dengan perasaan tidak menyenangkan" Qaynaya tersenyum lebar mengingat kembali akan masa lalunya.
"Oh, jadi kamu begitu lama menerima perasaan ku dahulu, karena kamu ingin mengenal aku lebih dalam?" Djani mencubit pipi istrinya dengan gemas.
"Tentu saja, aku tidak mungkin langsung menerima cinta dari seorang playboy seperti dirimu" Qaynaya menggelengkan kepalanya, supaya tangan Djani terlepas dari pipinya.
Andjani menggelengkan kepalanya, melihat kedua orang tuanya terus bermesraan di depannya.
Setelah dirasa sudah cukup penjelasan kali ini, Djani dan Qaynaya keluar dari dalam kamar anak gadisnya. dan sebelumnya Qaynaya meminta anak gadisnya itu untuk segera keluar dari dalam kamar untuk makan sore.
Djani heran karena biasanya mereka makan malam, bukan makan sore. Tapi dengan cepat Qaynaya langsung menjelaskan bahwa mulai sekarang mereka harus mengikuti jadwal anak-anak. Saat ini Andjani pulang lebih awal. Jadi makan bersama dipindahkan menjadi makan sore, supaya malamnya Andjani lebih leluasa untuk belajar.
"Aku tidak bisa minta jatah sore ku berarti? Tidak masalah, nanti malam double ya" bisik Djani pada istrinya.
Qaynaya mencubit gemas perut suaminya, mereka memang sudah tidak lagi muda, tapi masih selalu mesra.
Dilain pihak, Ardi yang tidak mendapatkan nomor ponsel Andjani, hanya bisa menghela nafas panjang, hingga Sasha yang melihatnya menjadi keheranan.
__ADS_1
"Apa yang terjadi? Mama harap kamu tidak terlalu banyak berfikir hingga kelelahan. Karena acara pertunangan dirimu dan Cheril, akan segera tiba, lebih tepatnya satu minggu lagi" ujar Sasha, tanpa memperdulikan protes dari anaknya itu.