Andjani

Andjani
Psikosomatis


__ADS_3

Cheril langsung berlari menuju Ardi, saat melihat Ardi hendak memeriksa kondisi Andjani. Dengan gerakan cepat, Cheril memeluk Ardi dari belakang. Andjani yang melihatnya, langsung memalingkan wajahnya dan berlari menjauh.


"Kenapa pipimu memerah? Apa kamu terjatuh?!" Aqlema panik saat melihat Andjani datang sambil memegangi pipinya yang baru saja ditampar oleh Cheril.


"Iya benar, aku tidak hati-hati, dan terpeleset hingga terbentur tembok. Maaf ya semuanya, sepertinya aku harus pulang terlebih dahulu, karena aku harus segera mengompres pipiku, takutnya besok bengkak" Andjani pamit pada semua temannya, dan menarik tangan Arion supaya cepat bangkit dari duduknya.


"Apa ini perbuatan wanita gila itu?! Saat aku melihatnya tadi, ingin sekali aku menghukum nya karena dulu melukai kakak!" Arion marah dan menghempaskan tangan Andjani yang memegangi lengannya.


"Tenang Rion, ini tempat umum. Ayo kita cepat pulang, aku mohon Rion" mata Andjani mulai berkaca-kaca, dia sangat malu karena mengalami hal ini.


"Kalau benar ini perbuatan wanita gila itu, aku tidak akan memaafkan nya" Arion menarik tangan kakaknya menuju parkiran, dimana motornya terparkir.


Andjani tidak mengucapkan sepatah kata pun, dan memilih memakai helm dengan cepat, supaya bisa segera pergi dari tempat itu.


Diperjalanan pulang, hal yang tidak di inginkan kembali terjadi. Mereka ternyata tertangkap razia polisi, dan Arion yang belum memiliki Surat Izin Mengemudi, tentu saja mendapatkan masalah.


Andjani tidak mempunyai pilihan lain, dia memutuskan menghubungi ayahnya. Dan setelah menunggu beberapa saat, Djani datang bersama dengan pengacara. Tidak lama mereka lalu digiring ke kantor polisi, dan tidak ada yang bisa dilakukan lagi, mereka harus menurut, karena ini memang kesalahan mereka sendiri.


Mereka sampai di kantor polisi, dan tidak lama langsung di interogasi. Salah satu polisi menjelaskan, bahwa sudah jelas bahwa orang yang diizinkan mengendarai motor di jalan raya adalah yang sudah punya SIM, yaitu Surat Izin Mengemudi. Selain itu, anak-anak yang nekat mengendarai sepeda motor di jalan raya bisa sangat berbahaya, karena masih sangat labil.

__ADS_1


Polisi terus menjelaskan pada Djani, bahwa anak yang belum cukup umur yang nekat mengendarai motor bisa juga dihukum pidana. Jadi sebelum mengizinkan anak-anaknya mengendarai sepeda motor, para orang tua, disini khususnya Djani sebagai ayah dari Arion, sepertinya perlu lebih paham soal aturan berkendara yang sudah di atur melalui Undang-Undang.


UU Nomor 22 Tahun 2009 pasal 77 ayat 1. Pasal itu mengatur bahwa siapapun yang mengemudikan kendaraan bermotor dibutuhkan Surat Izin Mengemudi atau SIM, sesuai dengan kendaraan yang dikemudikan.


UU Nomor 22 Tahun 2009 pasal 81, yang menyebutkan tentang persyaratan usia yang layak mendapatkan SIM. Untuk mendapatkan SIM C dan SIM A, pengemudi harus berusia minimal 17 tahun.


Sedangkan untuk mengurus SIM B1 minimal usia yang dipersyaratkan adalah 20 tahun, SIM B2 minimal berusia 21 tahun.


UU Nomor 22 Tahun 2009 pasal 281. Dalam pasal ini juga disebutkan soal ancaman hukuman bagi pengendara motor yang tidak memiliki SIM. Bahwa, pengemudi yang tidak menunjukkan SIM bisa terjerat pidana kurungan penjara selama maksimal empat bulan, atau denda maksimal 1 juta rupiah


UU Nomor 22 Tahun 2009 pasal 310. Disebutkan bahwa, jika dalam kegiatan berkendara tersebut mengakibatkan kecelakaan, yang menimbulkan korban jiwa, maka akan ada ancaman pidana yang pasti akan jatuh ke mereka yang tak memiliki SIM. Pidana tersebut adalah denda 1 juta hingga 12 juta rupiah hingga kurungan penjara 6 bulan sampai 6 tahun.


"Dengan alasan kasihan, bapak mengizinkan anaknya yang masih remaja mengendarai sepeda motor saat hendak pergi sekolah, atau bahkan malam ini pergi untuk bermain dan hanya sekedar berkumpul bersama dengan teman-temannya. Keputusan bapak membiarkan anak-anak yang masih di bawah umur ini mengendarai motor, sekilas terasa tepat namun nyatanya bisa membawa petaka. Mungkin terlihat tepat karena praktis, tapi ini sungguh sangat berbahaya" ujar polisi lain yang juga ikut mengintrogasi, dan melanjutkan memberikan penjelasan.


Banyak orang tua yang tak menyadari jika payung hukum kita soal berkendara motor sudah banyak dibuat pemerintah. Selain syarat-syarat berkendara, aturan itu juga membuat banyak hukuman yang siap menjemput pengendara di bawah umur yang tetap memaksakan kehendak dengan naik motor walau sudah tau itu dilarang.


"Daripada karena kasihan, anak malah mendapat hukuman, lebih baik, mulai sekarang jangan biarkan anak bapak mengendarai motor lagi, sebelum mempunyai Surat Izin Mengemudi. Untung saja tidak terjadi kecelakaan, karena kalau itu terjadi, hukuman untuk anak bapak, akan semakin berat"


"Saya memang bukan ahli hukum, tapi untuk masalah ini saya tentu saja tau,," Djani menjawab, walau suaranya terdengar sangat berat untuk mengatakan alasan dirinya membiarkan Arion mengendarai motor nya.

__ADS_1


💙🌹 Flashback 🌹💙


Keluarga Djani baru saja pindah dari luar negeri, dan memilih menetap di negara kelahiran orang tua mereka. Kala itu kepindahan keluarga kecil itu, salah satunya karena Arion yang mendapatkan bullyan di sekolah lamanya.


Arion memendam masalah itu sendiri, walau pada akhirnya ketahuan juga oleh kedua orang tuanya.


Setelah kepindahan mereka, Andjani dan Arion mendaftar di sekolah baru, pada awalnya tidak terjadi masalah berat, hanya saja mereka harus beradaptasi dengan lingkungan, baik lingkungan sekolah, maupun lingkungan tempat tinggal. Hingga suatu hari, saat itu Arion sedang berkeliling di perumahan tempat mereka tinggal, tanpa sengaja, Arion melihat tindakan pembullyan di pinggir jalan.


Ingatan saat dirinya dibully, akhirnya muncul kembali, cemoohan dan hinaan dari para teman yang membully nya, datang kembali di ingatan nya.


Bruuukkkkk


Arion terjatuh karena pingsan, untungnya dia tidak berjalan-jalan sendirian, tapi bersama dengan Andjani.


"Ayah! Arion pingsan dipinggir jalan, segera tolong kami" Andjani yang panik langsung menelepon ayahnya. Dan dengan cepat Djani datang dan membawa Arion ke rumah sakit terdekat.


"Korban bullying anak akan merasa tertekan secara terus menerus hingga mengakibatkan gangguan psikosomatis, atau keluhan fisik akibat tekanan pikiran dan batin. Anak yang menjadi korban bullying sering mengalami gejala psikosomatis akibat cemas. Contohnya merasa sakit perut dan pusing saat hendak ke sekolah padahal kondisi fisiknya tidak bermasalah. Atau kalau dia sangat tidak bisa menanggung perasaan cemas yang dia rasakan, bisa saja dia pingsan seperti Arion" jelas dokter yang menangani Arion.


"Apa bisa disembuhkan dok?" tanya Djani pada sang dokter, dia bahkan sampai memohon, supaya anaknya disembuhkan walau dengan berbagai macam cara.

__ADS_1


__ADS_2