Andjani

Andjani
Pahlawan Kesiangan


__ADS_3

"Apa yang kamu pikirkan dengan menjadi pahlawan kesiangan untuk temanmu? Bagaimana bisa kamu menyerahkan buku tugas mu padanya? Apa kamu bodoh?!" Ardi marah pada Andjani, dan berharap gadis itu tidak mengulangi lagi apa yg tadi dilakukannya.


Andjani hanya diam tidak menjawab apapun, membuat Ardi lebih mengeraskan suaranya.


"Apa kamu tidak mendengarkan?!"


"Maaf pak? apa sudah selesai?" Andjani melihat ke arah Ardi, tatapan tajamnya membuat Ardi terdiam, hingga membuat Ardi menyadari, betapa gadis didepan nya mempunyai sorot mata penuh kemarahan padanya.


"Jangan pernah lakukan hal itu lagi" ujar Ardi


"Itu sepertinya menjadi urusanku" jawab Andjani pelan.


Ardi sadar bahwa saat ini tidak bisa mengajak berbicara baik-baik dengan Andjani.


"Kembalilah ke kelasmu" Ardi meminta Andjani untuk kembali ke kelasnya.


Andjani kemudian langsung berbalik badan, dan segera menuju ke arah kelasnya. Aqlema tentu saja langsung mencecar pertanyaan pada sahabatnya itu. Karena dia tidak mau kalau sampai Andjani mendapatkan masalah karena dirinya.


"Tidak perlu khawatir, semuanya baik-baik saja" Andjani menghela nafas panjang, karena sebenarnya dia tidak mau membicarakan tentang Ardi.

__ADS_1


Jam pelajaran untuk pulang telah berbunyi, tadi waktunya istirahat untuk makan siang, Andjani tidak pergi ke kantin, karena dia yang kesal pada Ardi, membuatnya tidak nafsu makan.


Di depan pagar sekolah, Andjani dihentikan oleh Reymond yang sudah menunggunya.


"Kak Anna, kenapa tadi tidak ke kantin?"


Andjani tidak menjawab, karena sungguh hatinya sedang tidak mood untuk berbicara dengan seseorang, walau siapapun itu.


"Apa kakak sedang datang bulan?" tanya Reymond bercanda, karena melihat Andjani yang memperlihatkan wajah ditekuk.


"Tolong kepinggir, aku mau lewat" Andjani meminta Reymond untuk tidak menghalangi langkah kaki nya.


"Iya ada, apa kamu mau memberinya pelajaran?"


"Tentu saja, coba katakan padaku. Siapa yang berani membuat kakak cantik menjadi seperti ini" Reymond dengan senyuman nya yang menawan, mencoba mengambil hati Andjani.


"Ardi, guru bahasa Inggris" jawaban singkat Aqlema membuat Reymond menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Apa yang sekarang akan kamu lakukan?" tanya Aqlema kemudian, dia yang menjawab karena Andjani sudah semakin bad mood saja.

__ADS_1


"Hahahaha" Reymond tertawa canggung, dan memberikan jalan untuk Andjani.


Ardi rupanya melihat kejadian itu, dia tentu saja merasa sangat cemburu. Tapi berusaha menahannya, karena sampai akhir dia harus bisa menahan perasaannya, karena itu semua demi kebaikan gadis yang dicintainya itu.


"Aku langsung pulang ya, bye Aqlema" Andjani melambaikan tangan pada sahabatnya, begitu dia sudah masuk kedalam mobil. Arion dan Ardi rupanya sudah menunggunya.


"Apa ada yang mengganggumu tadi? Ayah lihat kamu tidak seperti biasanya" Djani yang sedang menyetir, bisa melihat anak gadisnya yang terlihat begitu kesal.


"Aku juga tidak mengerti ayah. Sebenarnya aku ini kenapa? Bagaimana bisa aku kesal pada seseorang yang tidak bersalah" Andjani menjadi heran dengan apa yang dia rasakan sendiri.


Sebenarnya Andjani juga sadar dan tau kalau Ardi tidak mempunyai kesalahan padanya, karena yang semalam menampar pipinya bukan pria itu, melainkan Cheril.


"Mungkin kamu hanya sedang bad mood saja. Apa mau beli es krim?" Djani yang melihat toko es krim langsung berhenti, dan mengajak Andjani untuk membeli es krim.


Tentu saja Andjani tidak menolak, karena sebenarnya dia merasa lapar, sebab tadi dia tidak makan siang.


"Djani, apa yang kamu lakukan di sini?" sapaan seseorang pada Djani membuat ayah dan anak-anaknya menoleh pada sumber suara.


"

__ADS_1


__ADS_2