Andjani

Andjani
Bayi


__ADS_3

"SMAN XX" Arion yang menjawab pertanyaan Ardi, karena Andjani masih diam dalam keterkejutannya.


"Berarti dia tidak melupakan diriku. Lalu kenapa tadi siang, dia tidak mengatakan apapun?" batin Andjani keheranan.


"Maaf semuanya, aku pamit ke kamar terlebih dahulu, ada tugas yang belum aku kerjakan" Andjani mengambil langkah seribu, karena merasa malas untuk meladeni sandiwara Ardi.


"Mentang-mentang sudah memiliki kekasih, dia pura-pura lupa pada sahabatnya sendiri. Pasti tadi siang dia sengaja melakukan hal itu, karena dia tau kalau kekasihnya akan datang menemuinya" Andjani ngedumel sambil menutup pintu kamarnya dengan pelan.


Tidak mau terlalu ambil pusing lagi dengan apa yang terjadi, Andjani memilih untuk mengambil buku di dalam tas sekolahnya, untuk mengerjakan tugas yang belum dia kerjakan. Andjani sudah mengambil kesimpulan sendiri, bahwa tindakan Ardi, sudah pasti karena dia memiliki kekasih.


Saat Andjani tengah serius mengerjakan tugasnya, Ardi dan Sasha pamit. Setelah berbasa-basi sebentar, Qaynaya lalu masuk kedalam rumah lagi, setelah mengantarkan sahabatnya menuju mobilnya.


"Biarkan saja, nanti biar aku saja. Kamu istirahat lah dulu saja" Qaynaya melihat Djani yang sedang mengelap meja makan.


"Aku belum mengantuk, lagi pula aku tidak bisa tidur tanpamu, bukankah kamu juga tau hal ini, apa kamu sedang meledek diriku?" Djani tetap melanjutkan apa yang sedang dia kerjakan.


Qaynaya tidak memaksa lagi, dan memilih masuk ke dapur, untuk mencuci piring, tapi disana juga sudah ada Rini yang sudah lebih dulu, mengerjakan tugas yang akan dikerjakan oleh Qaynaya. Rini lalu meminta pada Qaynaya, untuk menemui Andjani saja.


"Mama melihat kalau dia begitu tidak nyaman saat bertemu dengan Ardi. Ini begitu aneh, karena seharusnya mereka senang saat bertemu kembali. Bukankah mereka adalah sahabat yang dulunya sangat akrab?" Rini mengutarakan apa yang sedari tadi membuatnya juga tidak tenang. Baginya sudah cukup tragedi yang menimpa drama percintaan Djani dan Qaynaya, jangan sampai cucunya juga mengalami masalah dalam kehidupan asmaranya kelak.


Mengerti dengan apa yang di katakan oleh mama mertuanya, Qaynaya segera bergegas menuju kamar anak gadisnya. Dengan perlahan Qaynaya mengetuk pintu, sebelum masuk ke dalam kamar Andjani.

__ADS_1


"Apa kamu sedang sibuk?" Qaynaya mendekati Andjani yang tengah sibuk berkutat dengan buku pelajarannya.


"Tidak ma, ini juga sebentar lagi selesai. Apa ada yang perlu aku bantu?" Andjani meletakkan pulpen yang sedang dia pegang, dan memfokuskan pandangan matanya pada Qaynaya.


"Tidak sayang, mama hanya ingin menemanimu belajar. Lanjutkan saja, mama hanya ingin tiduran sejenak di sini, kamu tidak keberatan kan?" Qaynaya lalu naik ke atas ranjang Andjani.


Kamar Andjani juga tidak kalah nyaman dengan kamar Arion yang tertata rapi, walau tidak seperti gadis lain yang menyukai warna merah muda, tapi Andjani menyukai warna pastel yang terlihat adem walau dipadukan dengan warna hitam yang menjadi favorit nya.


Kamar Andjani memang tidak terlalu besar, tetapi karena penataan barang yang tepat, membuat kamar itu terlihat luas dan hiasannya cukup membuat orang yang berada di dalamnya menjadi betah.


"Apa kamu sedih karena Ardi sudah memiliki kekasih?" Qaynaya tidak lagi berbasa-basi, dan langsung menanyakan apa yang ingin dia ketahui.


Terdengar helaan nafas panjang dari Andjani, bukan kesal karena pertanyaan dari mamanya, tapi kesal karena kembali mengingat Ardi yang pura-pura lupa padanya.


"Jadi kalian sudah bertemu sebelumny"


"Sudah ma, tapi saat tadi siang bertemu, dia sama sekali tidak menjawab pertanyaan ku, seperti orang linglung yang melupakan sahabatnya sendiri. Tapi sudahlah, aku juga sudah tau kok alasannya apa. Dia seperti itu pasti karena tidak mau kalau sampai kekasihnya marah atau salah paham. Tapi sebenarnya tidak perlu sampai segitunya, karena aku tidak mungkin merusak hubungan orang lain, apalagi itu hubungan percintaan sahabatku sendiri" Andjani menutup bukunya setelah selesai mengatakan unek-unek nya, lalu mendekati Qaynaya yang terbaring di ranjang.


Dengan serius Qaynaya mendengar apa yang dikatakan oleh anaknya, walau sambil tiduran, dia tetap focus pada putrinya itu. Andjani mendekati tubuh Qaynaya, dan masuk dalam pelukan hangat mamanya itu.


Hubungan antara ibu dan anak itu memang sangat dekat, Qaynaya selalu bisa memposisikan diri sebagai mama, ataupun sahabat bagi kedua anaknya.

__ADS_1


"Aku masih ingin selalu dipeluk oleh mama, aku ingin jadi bayi mama selamanya. Aku tidak mau berubah, hanya karena aku memiliki kekasih nantinya"


Qaynaya tersenyum mendengar curahan hati Andjani, lalu tanpa risih, memeluk anaknya dengan lebih erat.


"Sampai kapanpun, kamu memang anak bayi bagi mama. Tapi bagaimana bisa, bayi mama ini sudah lebih tinggi dari mamanya sendiri. Teruslah jadi bayi mama ya sayang, walaupun suatu saat kamu memiliki kekasih, lalu suatu saat juga pasti kamu akan membangun istana rumah tangga dengan seseorang, tapi pastikan kalau bersama dengan mama, kamu tetap menjadi bayi mama" Qaynaya menahan perasaan sedih yang tiba-tiba saja menyeruak masuk ke dalam hatinya.


"Tidak bisakah aku selalu tinggal saja bersama mama dan ayah, selamanya dirumah ini?" Andjani memejamkan matanya, mungkin dia lelah karena hari ini melakukan banyak hal di sekolah nya.


"Tentu saja boleh sayangku, tapi mama yakin kalau kamu yang nantinya akan meninggalkan kami, saat kamu menemukan cinta sejatimu" Qaynaya membelai lembut rambut anaknya, seperti tengah meninabobokan anaknya itu.


Andjani tidak menjawab lagi, sepertinya dia sangat mengantuk dan kelelahan. Setelah dirasa anaknya sudah tidur dengan nyenyak, Qaynaya dengan perlahan, lalu turun dari ranjang, menyelimuti tubuh anaknya, mematikan lampu, dan segera keluar dari dalam kamar.


Djani dan Rini sudah menunggu Qaynaya di ruang keluarga, mereka penasaran dengan apa yang sebenarnya terjadi pada Ardi dan Andjani.


"Untuk saat ini, kita tidak perlu terlalu khawatir. Andjani kita tidak memiliki perasaan apapun terhadap Ardi. Mereka sudah bertemu, tapi entah apa yang sebenarnya di pikirkan oleh Ardi, karena saat mereka bertemu, Ardi berpura-pura lupa pada Andjani. Hal itulah yang membuat Andjani terlihat canggung, mungkin dia juga kecewa pada Ardi yang dia pikir melupakannya" Qaynaya duduk di sebelah Djani, lalu meletakkan kepalanya di pangkuannya Djani, supaya dia nyaman tiduran.


Rini juga tampaknya mengerti dia harus apa, lagipula tidak ada yang perlu dia khawatirkan pada Andjani, jadi Rini memilih untuk masuk ke dalam kamarnya.


Ujian sebentar lagi akan dilaksanakan, Rini hanya tidak mau kalau sampai ada permasalahan yang membuat cucunya tidak focus dalam menjalani ujian nya nanti.


"Apa kamu yakin kalau Andjani tidak memiliki perasaan apapun terhadap Ardi?" tanya Djani pada Qaynaya, sambil membelai lembut rambut istrinya itu.

__ADS_1


"Untuk saat ini aku sangat yakin, tapi bukankah kita tidak tau, apa yang akan terjadi kedepannya? Tapi aku akan berusaha dengan keras, supaya mereka tidak akan pernah bersama. Kamu juga tau kalau Cheril juga ada di kota ini, jadi kita harus waspada"


__ADS_2