
Keesokan harinya, Andjani dan Arion bersekolah seperti biasanya, tapi mulai hari ini, mereka akan diantar dan dijemput oleh Djani sendiri, karena sampai saat ini, Andjani belum mengetahui kebenaran bahwa keluarga mereka adalah konglomerat ternama di negara ini.
Sebenarnya, bukan hanya setiap anaknya satu mobil, bahkan beserta sopir nya juga Djani sanggup untuk menyediakan itu semua untuk anak-anaknya, tetapi Qaynaya belum mengizinkan Andjani mengetahui semua itu.
Berbeda dengan Arion yang sudah mengetahui kenyataan itu sebelum mereka pindah, tapi Arion menyimpan rapat rahasia tersebut.
Dahulu Qaynaya menerapkan hidup biasa, walau Sebenarnya mereka adalah keluarga yang sangat terpandang. Dengan alasan, supaya anak-anaknya terbiasa hidup sederhana. Tapi kali ini ada tambahan alasan lainnya. Dan alasan itu menjadi misi yang harus dijaga Qaynaya sekuat mungkin.
Alasan itu adalah, Qaynaya tidak ingin kalau sampai anak-anaknya yang sudah remaja, dan pasti sebentar lagi mereka akan mengenal cinta, hanya akan dipandang karena hartanya oleh pilihan cinta mereka kelak.
Qaynaya tentu tidak mau kalau sampai anak-anaknya terluka atau tersakiti, walau dia tidak bisa mengendalikan semua hal, tapi setidaknya dia akan berusaha dengan keras untuk melindungi kedua anaknya. Dan saat ini, hal ini juga termasuk perlindungan untuk Andjani dan Arion.
Tidak bisa dibayangkan kalau sampai suatu saat, salah satu dari anaknya, atau bahkan keduanya, dipermainkan oleh orang yang mengatasnamakan cinta, padahal orang itu hanya menginginkan harta dari mereka saja.
__ADS_1
Andjani turun terlebih dahulu dari dalam mobil, setelah berpamitan pada ayahnya, dan tidak lama kemudian, Arion menyusulnya.
"Hay kalian. Oh iya Rion, tumben kamu tidak mengendarai motor mu?" Aqlema yang seperti kebiasaannya sehari-hari, kalau datang terlebih dahulu kesekolah, pasti saja menunggu Andjani, supaya bisa masuk ke dalam kelas bersama.
"Disita polisi" jawab Andjani dengan entengnya, sementara Arion hanya mengangkat bahu saat Aqlema memandang ke arah nya.
"Apa yang sebenarnya terjadi semalam? Kenapa kalian begitu aneh hari ini?" Aqlema menarik tangan Andjani, dan menggandeng tangan sahabatnya itu untuk mempercepat langkah mereka menuju kelas.
"Itu sudah biasa terjadi, kenapa kamu masih bertanya, ataupun merasa heran. Ayolah cepat berjalannya, keburu bel berbunyi"
Brrruuukkkk
Aqlema yang berjalan cepat, tidak sengaja bertabrakan dengan seseorang, dan begitu menyadari siapa yang ditabraknya, Aqlema langsung tersenyum ceria
__ADS_1
"Hay Reymond, mau kemana nih buru-buru sekali?" tanya Aqlema dengan gaya centil dan cerianya.
"Aku mencari kak Anna. Itu tadi aku meletakkan sarapan untuk kakak di atas meja, jangan lupa dimakan ya kak. Jangan sampai kakak sakit, karena aku bisa sakit juga" ujar Reymond sambil mengedipkan matanya.
"Rey tunggu. Bawa kembali apa yang kamu bawa ini.. Karena aku sudah sarapan, dan kalaupun belum, aku tidak mungkin menerima makanan dari orang yang baru aku kenal"
"Maka dari itu kak, terimalah makanan ini, sehingga nantinya kita menjadi semakin akrab" Reymond masih tidak menyerah, dan tidak mau mengambil kembali, makanan yang ada di atas meja Andjani.
"Buat aku mana Rey?" tanya Aqlema dengan bibirnya yang manyun.
"Maaf aku lupa, tapi aku yakin kalau kakak sudah makan. Lagipula sarapan yang aku bawa adalah khusus untuk kak Anna seorang"
Para teman yang lain langsung memberikan sorakan setelah mendengarkan ucapan dari Reymond.
__ADS_1