Andjani

Andjani
Kehidupan Yang Monoton


__ADS_3

"Bukan, dia hanya kenalan ayah dulu" Djani memilih focus pada stir mobil, dan menjauh dari tempat itu.


"Kalau tidak ada apa-apa, kenapa ayah seperti sangat menghindar? Sangat jelas terlihat bahwa ayah ketakutan setelah melihat wanita itu, Jadi menurut ku, tidak mungkin kalau wanita itu hanyalah kenalan ayah saja" ujar Andjani pelan, tapi Djani tidak menjawab perkataan anak gadisnya.


Arion juga hanya menghembuskan nafasnya, dan memilih untuk melihat kearah luar jendela mobil. Hatinya juga merasakan keraguan pada ayahnya, tapi sebisa mungkin dia akan terus berusaha mempercayai ayahnya itu. Lagipula selama ini tidak pernah ayahnya itu membuat kesalahan yang menyebabkan mama mereka tersakiti.


Tidak seperti layaknya pria pada umumnya yang sebagian besar mencari hiburan diluar sana, saat mereka merasa mampu untuk melakukannya, Djani berbeda dan selalu setia pada Qaynaya. Mungkin bagi sebagian orang itu terlihat monoton, tapi itu adalah harga diri yang hanya dimiliki oleh orang-orang berkelas, karena kesetiaan pada pasangan, hanya milik orang yang berkelas.


Bagi Djani sendiri, dia tidak merasa monoton menjalani kehidupannya bersama dengan anak-anak dan istrinya, karena keluar kecilnya selalu memberi warna di setiap hari.


Sudah cukup bagi Djani menghadapi masalah karena gangguan pada keluarganya, karena dulu bahkan sebelum menikahi Qaynaya, banyak rintangan dan cobaan yang harus dia hadapi. Jadi tentu saja saat ini dia hanya ingin hidup tenang bersama dengan keluarga kecilnya.

__ADS_1


Tidak akan Djani biarkan siapapun mengganggu keluarganya, apalagi seorang Reina yang sedari dahulu selalu berusaha merusak kebahagiaannya, terutama wanita itu selalu saja mengganggu Qaynaya.


Tanpa terasa, mereka sudah sampai ke rumah. Andjani bergegas keluar terlebih dahulu dari dalam mobil, dia yang dari awal keluar dari sekolahan sudah merasa bad mood, ditambah melihat wanita lain yang terlihat berusaha mendekati ayahnya, membuat Andjani uring-uringan.


Hal itu tentu saja membuat Qaynaya keheranan, karena tidak biasanya anak gadisnya itu bertingkah tidak baik.


"Andjani, apa yang terjadi? Kenapa kamu datang ke rumah langsung menekuk wajahmu" Qaynaya mengikuti anaknya yang hendak memasuki kamar.


"Ya sudah, cepat bersihkan dirimu dan keluar lagi dari dalam kamar saat waktunya makan sore" Qaynaya tidak bertanya lebih lanjut, karena dia tau kalau saat ini anaknya butuh untuk sendiri terlebih dahulu.


"Ma" Arion mendekati Qaynaya dan memeluk erat mamanya itu dari belakang, dan kali ini juga apa yang dilakukan anak bujangnya itu, membuatnya kembali terkejut. Baru saja dia terkejut dengan anak gadisnya yang bersikap tidak seperti biasanya, sekarang anak bujangnya yang terlihat aneh.

__ADS_1


Sebenarnya tidak terlalu mengherankan dengan pelukan Arion, hanya saja Qaynaya bisa merasakan ada sesuatu yang dipikirkan dan dipendam oleh anak bujangnya itu. Hal ini tentu saja membuat Qaynaya khawatir, karena dia tidak mau kalau sampai Arion sakit seperti dahulu.


Arion selalu sakit parah saat dia menginginkan sesuatu dan tidak dikabulkan, atau saat Arion menyimpan rapat perasaan nya, maka tidak lama, dia juga akan jatuh sakit. Mentalnya tidak sekuat anak remaja pada umumnya, karena dahulu Arion mendapatkan bullying, membuat mentalnya tidak stabil.


Tetapi itu dahulu, karena sekarang Arion merasa dia sudah kuat, dan tidak lemah lagi.


"Ada apa?" Qaynaya bertanya dengan perlahan, saat Arion melepaskan pelukannya.


"Ayah bertemu dengan wanita lain"


"Apa?"

__ADS_1


__ADS_2