
"Tidak menyangka hal seperti ini akan terjadi. Tapi untungnya semua sudah terlewati dengan baik. Dan untuk kesempatan ini, aku mengundang Tante dan seluruh keluarga, untuk datang ke acara pertunangan ku, yang akan dilaksanakan minggu depan, di hotel XX. Aku harap semua bisa datang" sebelum berpamitan, Ardi mengundang Qaynaya dan seluruh keluarga nya, untuk acara pertunangan dirinya.
"Secepat ini kamu akan bertunangan?" Qaynaya merasa heran dengan langkah yang dilakukan oleh Ardi, walau dia juga menjadi tenang, karena ini berarti, sudah tidak akan ada kemungkinan kalau Ardi akan mempertahankan perasaannya pada Andjani.
"Sebenarnya tidak secepat itu kok, karena rencana ini sudah lama direncanakan oleh mama"
"Baiklah kalau seperti itu, kami pasti akan datang untuk mendukung dirimu. Dan Tante minta maaf atas sikap Andjani barusan, sepertinya dia masih merasa shock dengan apa yang dia alami. Nanti akan Tante sampaikan berita bahagia ini padanya"
"Baik Tan, terima kasih. Aku pamit pulang dulu, karena malam sudah semakin larut" Ardi lalu berjalan menuju ke arah mobilnya, dan ditemani oleh Djani.
Ada hal yang ingin ditanyakan oleh Djani pada Ardi, itulah sebabnya, Djani mengikuti Ardi dan mengantarkan sampai ke mobil, padahal sudah dilarang oleh Ardi, karena merasa tidak enak harus diantarkan segala.
Djani menanyakan tentang pertunangan Ardi, dan ingin tau lebih lanjut, apakah itu benar adanya, atau adanya pertunangan itu, hanya untuk suatu tujuan.
"Jangan main-main dengan hal semacam ini, karena ini adalah acara sakral. Kamu harus benar-benar yakin akan pilihanmu" ucap Djani.
"Apakah kalau aku menjalin hubungan dengan orang yang selalu berada di hatiku, Om akan merestuinya?" tanya Ardi sendu.
Mendengar ucapan Ardi, membuat Djani tidak bisa mengucapkan sepatah katapun. Sebenarnya mereka berdua tau arah pembicaraan ini, tapi memilih tidak melanjutkannya, karena ini sangatlah sensitif.
Ardi juga sudah tau dengan pasti, kalau Djani dan Qaynaya, tidak akan membiarkan dirinya menjalin hubungan dengan orang yang selalu ada dihatinya, yaitu tidak lain dan tidak bukan, adalah Andjani.
__ADS_1
Selama ini Ardi tidak pernah melupakan Andjani sedikitpun, tidak mungkin dia bisa melupakan cinta nya pada gadis yang sedari dahulu, sudah mencuri hatinya itu. Tapi bukan hal rahasia lagi, kalau hubungan itu ditentang oleh Djani dan Qaynaya, selaku orang tua dari Andjani.
"Selamat malam Om" Ardi yang melihat Djani tidak lagi berbicara, memilih masuk ke mobilnya, dan segera melaju pergi.
Air mata Ardi tidak bisa lagi dibendungnya, bahkan dia harus menepikan mobilnya, karena merasa tidak konsentrasi penuh untuk menyetir. Dadanya terasa sangat sesak, hatinya begitu sakit. Dan saat ini, yang bisa dilakukan oleh Ardi hanyalah memukuli dadanya, berharap rasa sakit itu segera pergi.
"Maafkan aku. Tapi aku percaya kalau ini adalah yang terbaik untuk mu. Karena apapun akan aku lakukan untuk mu, walau itu mengorbankan diri ku sendiri" Ardi berbicara dalam hatinya, sambil menatap layar ponselnya, dan terlihat disana, terpampang jelas ada foto Andjani yang tengah serius mengerjakan pelajaran, sepertinya Ardi mengambil foto itu diam-diam, saat tengah mengajar di kelas Andjani.
Cukup lama bagi Ardi untuk bisa menguasai perasaannya, hingga dia sanggup untuk menyetir mobil kembali. Pria yang lagi-lagi merasakan patah hati itu, kembali pulang karena mamanya sudah terus menghubungi dirinya.
Ardi adalah pria pecinta satu wanita, yang selalu patah hati, karena wanita yang dari dulu dicintainya, selalu menolak perasaannya. Hingga akhirnya, dia harus memutuskan menyerah dengan cintanya, demi kebaikan gadis pujaan hatinya itu.
💙💙 Flashback 💙💙
"Apa yang kamu lakukan padanya? Bukankah sudah aku katakan untuk tidak menyentuh dirinya sedikitpun!" Ardi marah karena Cheril berani menampar pipi Andjani.
"Dia terus menempel padamu, aku tidak menyukai hal itu, tolong hargai perasaan ku. Bukankah kita akan segera bertunangan? Jadi kamu harus bertanggung jawab untuk itu" Cheril juga ikut berteriak, dan tidak terima di marahi oleh Ardi.
"Apa aku pernah memberikan harapan padamu? Apa aku pernah menyatakan perasaan ku padamu? Lalu pertanggung jawaban apa yang kamu inginkan dariku?! Aku pernah berjanji untuk tidak mendekati Aan, itu semua karena kamu yang terus berusaha menyakitinya. Tapi apa aku harus menepati janji itu, sementara kamu baru saja menyakitinya!" Ardi semakin marah, dan mereka bahkan sudah menjadi pusat perhatian. Hingga Sasha datang karena mendengar keributan.
"Ada apa ini?" tanya Sasha pada Ardi, karena terlihat sangat jelas, kalau anaknya itu sedang marah.
__ADS_1
"Tidak Tante, Ardi kesal karena aku tidak berhati-hati, dia takut aku terluka. Tadi aku sempat terpeleset sedikit" Cheril lah yang menjawab, dan mendengar ucapan dari Cheril, membuat Ardi semakin muak. Karena Cheril begitu pandai bersandiwara.
"Aku mau pulang terlebih dahulu" Ardi berjalan pergi, dan tidak mendengarkan teriakan dari mamanya.
"Sudah Tante, Ardi memang seperti itu saat panik. Tante tenang saja, karena aku yang akan mengantarkan Tante untuk pulang" Cheril menuntun Sasha untuk kembali ke meja mereka.
💙💙 Flashback End 💙💙
Ardi sampai kerumah, dan dengan langkah yang gontai, dia memasuki kamarnya, dia ingin menenangkan diri terlebih dahulu, tapi ternyata tidak semudah itu, karena Sasha sudah menunggunya. Ardi sedikit terkejut, karena dia pikir mamanya itu pulang ke apartemen.
"Dari mana saja kamu? Lalu kenapa tadi kamu meninggalkan mama?"
"Maafkan aku ma, tapi aku yakin kalau aku berbicara sesuatu juga mama tidak akan percaya padaku. Lagipula tadi mama sedang bersama dengan wanita yang mama sukai untuk dijadikan anak baru mama, jadi aku tidak khawatir" Djani menahan perasaannya, dan memilih duduk di hadapan mamanya itu.
"Mungkin maksudnya adalah menantu" ujar Sasha.
"Entahlah sebutannya apa" jawab Ardi sekenanya.
"Mama tidak perlu mengatakan apapun lagi, karena aku sudah memutuskan untuk menerima rencana mama untuk mengadakan acara pertunangan ku dengan Cheril. Jadi tidak ada yang perlu dikhawatirkan lagi. Sekarang biarkan aku beristirahat dulu" Ardi bangkit dari duduknya, dan tidak memperdulikan keterkejutan yang terlihat sangat jelas di wajah mamanya.
"Apa mama tidak salah dengar?" tanya Sasha ingin memastikan, dan Ardi hanya mengangguk, sebelum tubuhnya tidak terlihat lagi, karena sudah masuk kedalam kamarnya.
__ADS_1
Bukan kebahagiaan seperti yang dibayangkan oleh Sasha selama ini, saat Ardi menerima apa yang dia inginkan. Karena Sasha dengan jelas melihat kesedihan di wajah anaknya itu, saat mengatakan menerima pertunangannya dengan Cheril.
"Kenapa ini tidak sama dengan yang aku harapkan. Aku merasa tidak bahagia sama sekali dengan hal ini. Padahal seharusnya aku sangat senang, karena rencanaku berhasil. Tapi biarkan saja, karena aku yakin setelah ini, Ardi akan menemukan cintanya yang sesungguhnya. Biarlah saat ini dia melakukan hal ini karena keterpaksaan, tapi setelah beberapa saat, dia pasti akan merasakan kebahagiaan nya bersama Cheril" Sasha akhirnya tersenyum, setelah mengambil kesimpulan secara sepihak.