
Qaynaya tidak serta-merta tersulut emosi begitu mendengar apa yang dikatakan oleh Arion, apalagi dia harus menjaga perasaan anak bujangnya itu.
"Mama jangan bersikap seperti ini, karena ini terlihat tidak normal. Seharusnya saat ini mama sudah marah, dan aku tau pasti perasaan mama begitu terluka. Jangan memikirkan diriku secara berlebihan ma, karena aku sudah sembuh"
"Rion. Mama tau kalau kamu sudah sembuh, hanya saja jangan terlalu memikirkan hal yang tidak perlu. Mama sangat percaya pada ayahmu, dan wanita yang kamu katakan, mungkin hanyalah kenalan biasa dari ayahmu, atau mungkin rekan bisnisnya. Jadi kamu jangan terlalu menghawatirkan nya" Qaynaya mencoba menenangkan Arion.
Memang Arion sudah menunjukkan kalau kondisi dia semakin membaik, tapi tetap saja Qaynaya harus menjaga supaya Arion tidak lagi jatuh sakit, karena memikirkan suatu permasalahan.
"Bagaimana mungkin hanya seorang kenalan, tapi ayah menyuruh kami menjauh dari pertemuan mereka tadi. Wanita itu bahkan terlihat berbisik pada ayah"
"Arion, masuklah ke dalam kamar mu" Djani datang mendekati mereka yang berbicara di depan kamar Andjani.
"Sebenarnya wanita tadi siapa ayah? Kenapa ayah terlihat ketakutan? Apa ayah takut ketahuan oleh mama? Kalau seandainya tadi kami tidak kebetulan sedang bersama ayah, entah apa yang akan terjadi"
__ADS_1
"Arion, jaga bicaramu" Djani tidak terima anaknya menuduh dirinya.
"Sudah tenanglah dulu Rion, biarkan mama berbicara empat mata dengan ayahmu. Sekarang cepat bersihkan tubuhmu dan mandi" Qaynaya tidak mau terjadi keributan di dalam rumah, karena permasalahan yang terjadi sebenarnya, dia belum mengetahui dengan jelas.
Andjani sebenarnya masih mendengarkan di balik pintu, dia juga merasa sangat khawatir dengan kejadian yang baru saja terjadi. Dunianya pasti akan runtuh kalau sampai terjadi sesuatu pada hubungan kedua orang tuanya.
"Aku harus keluar juga. Arion saja menunjukkan betapa perduli nya dia pada mama. Kenapa aku malah seperti seorang pengecut yang langsung menyembunyikan diri" ujar Andjani pelan.
Tapi belum juga dia sempat keluar dari dalam kamarnya, ponselnya bergetar membuat perhatiannya sedikit teralihkan.
Andjani mencoba untuk keluar dari dalam kamarnya lagi, dan tidak memperdulikan pesan itu sedikitpun, serta tidak ada niatan untuk membalasnya. Tapi begitu dia memegang gagang pintu, terdengar jelas kalau Arion sudah memasuki kamarnya.
"Mungkinkah ayah sedang berbicara serius dengan mama kali ini?" Andjani mengurungkan niatnya untuk keluar kamar, walau sebenarnya dia masih ragu, apakah ini jalan terbaik atau bukan.
__ADS_1
Ini adalah untuk kali pertama, baik Andjani maupun Arion, melihat permasalahan serius pada kedua orang tuanya. Karena selama ini, kedua orang tuanya itu sangat harmonis.
Tidak terdengar suara apapun untuk beberapa saat, hingga terdengar suara langkah kaki menjauh dari depan kamarnya, dan kembali terdengar suara pintu. Andjani sangat yakin kalau saat ini kedua orang tuanya sudah memasuki kamar mereka.
"Aku harus menahan diri terlebih dahulu. Dan semoga kekhawatiran ku tidak menjadi kenyataan" Andjani memilih untuk mandi dan menyegarkan badannya.
Setelah beberapa saat, Andjani yang sudah mandi dan memakai baju piyamanya, langsung tiduran di atas ranjang, karena dia merasa sangat lelah, perutnya juga sebenarnya sangat keroncongan, tapi dia masih menahan diri untuk keluar dari dalam kamar.
Ponsel Andjani kembali bergetar, karena memang Andjani tadi mengatur ponselnya dalam mode silent, tapi sepertinya dia lupa mematikan mode getarnya.
"Aku sangat lapar sekali, ini siapa lagi yang menelepon?" Andjani bangkit dari ranjangnya, dan mendekati meja belajar nya, untuk memeriksa ponselnya.
Begitu mengetahui siapa yang menghubungi nya, Andjani meletakkan kembali ponselnya.
__ADS_1
"Tidak penting" ujar Andjani, lalu segera bergegas keluar dari dalam kamar, karena dia tidak sanggup lagi menahan rasa laparnya.