Andjani

Andjani
Calon Menantu Idaman


__ADS_3

Suasana canggung sangat kentara sekali, saat Ardi keluar dari dalam kamar, dan segera di salah satu kursi di ruang makan. Tidak lama Qaynaya dan Djani juga keluar dari dalam kamar.


Andjani tidak tau harus bersikap bagaimana, karena saat tadi pertemuan nya dengan Ardi, sahabatnya itu terlihat sudah melupakan dirinya.


"Apa kalian tau, ternyata Ardi sudah mempunyai kekasih. Jadi makan malam kali ini, selain sebagai ajang reuni kita semua, tapi juga bisa kita anggap sebagai perayaan untuk Ardi dan kekasihnya" Qaynaya memulai pembicaraan, karena dia menyadari kecanggungan dan ketidak nyamanan pada anak gadisnya.


"Andjani sayang, apa kamu sudah menyapa Ardi?" tanya Rini berbasa-basi, nenek dari Andjani itu sepertinya juga merasa heran dengan Ardi dan Qaynaya yang saling diam, tidak terlihat rasa senang dan bahagia, padahal mereka adalah sahabat yang sudah terpisah cukup lama.


Andjani hanya mengangguk untuk menjawab pertanyaan dari neneknya, sebenarnya dia ingin tau, apa benar Ardi melupakan dirinya, atau hanya berpura-pura. Bahkan untuk perkataan Qaynaya yang mengatakan Ardi sudah memiliki kekasih, hal itu tidak terlalu menjadi perhatian Andjani.


Djani yang mendengar perkataan Qaynaya, dengan antusias lalu menggoda Ardi, sedikit demi sedikit, Djani mencoba untuk rileks dalam menghadapi pria yang dulunya mencintai anaknya itu.


"Waahh, selamat ya Ardi, Om ikut bahagia dengan kabar ini. Ternyata kalian datang membawa berita yang sangat besar" Djani merasa ada sesuatu yang mengganjal, karena Ardi tidak bereaksi apapun, entah itu membenarkan atau membantahnya.


Kecurigaan semakin membuat Djani lebih intens melihat Ardi dan juga Andjani. Djani merasa ada keanehan pada Andjani yang sepertinya semakin tidak nyaman. Djani berfikir kalau pasti ada yang disembunyikan oleh anaknya itu.


"Kenapa kalian hanya saling diam? bukankah seharusnya kalian mengobrol bersama layaknya sahabat? Lihatlah sahabatmu itu, dia sudah memiliki seorang kekasih, harusnya kamu berikan selamat padanya" Qaynaya juga merasakan apa yang saat ini dirasakan oleh suaminya.


Qaynaya curiga dan merasa takut, kalau sampai ada hal besar yang di sembunyikan oleh Andjani, sebagai seorang ibu, Qaynaya sepertinya tidak bisa menjadi dirinya, yang dulunya begitu terbuka dan membebaskan anaknya untuk mempunyai perasaan terhadap siapapun.

__ADS_1


Perasaan cinta sudah pasti akan dirasakan oleh setiap insan manusia, apalagi Andjani juga sudah remaja, hal itu sudah sangat umum terjadi. Tapi Qaynaya begitu ketakutan kalau sampai anak gadisnya mempunyai perasaan terhadap Ardi.


Bagi Qaynaya, tidak masalah kalau Andjani mulai mempunyai perasaan cinta, tapi sebisa mungkin, pria itu jangan sampai Ardi. Terlihat sangat aneh bagi orang yang hanya melihat sekilas saja, karena Ardi adalah pria tampan dan bahkan sangat pintar dan berprestasi, seharusnya pria seperti Ardi menjadi kandidat kuat sebagai calon menantu idaman.


"Mereka akan aku segera buatkan pesta pertunangan, karena sepertinya itu adalah hal yang bagus, gadis cantik seperti Cheril, harus segera diamankan, supaya tidak diambil oleh orang lain" Sasha tersenyum melihat Ardi.


"Uhhuukkk" Andjani tersedak mendengar apa yang dikatakan oleh Sasha, walaupun saat ini dia tidak mempunyai perasaan apapun terhadap Ardi, tidak lebih dari rasa sayang terhadap sahabat, setidaknya itu yang Andjani pikirkan, tapi mendengar berita tentang hubungan Ardi dan Cheril yang ternyata sudah sangat mendalam, tentu saja membuat Andjani sedikit terkejut.


Qaynaya yang kebetulan duduk bersebelahan dengan Andjani, langsung memberikan anaknya itu segelas air putih, untuk meredakan batuknya karena tersedak.


"Hati-hati Aan, apa kamu baik-baik saja?" Sasha juga terlihat khawatir melihat Andjani.


Qaynaya dan Djani saling berpandangan, mereka berfikir kalau Andjani pasti merasa sedih mendengar tentang Ardi dan Cheril, mereka tidak tau, kalau sebenarnya yang membuat Andjani terlihat murung dan canggung adalah karena Ardi melupakan dirinya.


Andjani melihat pantulan dirinya di cermin, lagi-lagi dia merasa kalau tidak berubah terlalu banyak, tapi bagaimana bisa Ardi melupakan dirinya. Dan untuk Cheril, pantas saja saat tadi mereka bertemu, Cheril terlihat begitu tidak menyukai dirinya. Andjani berfikir, kalau Cheril pasti masih menyimpan rasa benci pada dirinya.


Tidak masalah kalau Ardi sudah tidak menyukai dirinya lagi, itulah yang dipikirkan oleh Andjani, tapi setidaknya jangan berubah terlalu banyak, apalagi sampai melupakan persahabatan mereka. Saat dahulu Ardi beberapa kali menyatakan perasaan padanya, Andjani selalu menolak, karena salah satu alasannya adalah, Andjani tidak mau kalau sampai persahabatan mereka hancur saat mereka sudah tidak memiliki perasaan lagi.


Rasa cinta, apalagi di umur mereka yang masih sangatlah muda, tentu saja akan mengalami pasang dan surut. Pertengkaran dan permasalahan dalam hubungan, pasti akan dilalui dan harus dihadapi, lalu kalau tidak bisa melewati masalah, maka hanya kehancuran hubungan yang terjadi.

__ADS_1


Andjani juga memang belum pernah merasakan cinta, dia bahkan tidak mengerti, bagaimana rasanya jatuh cinta itu, tapi kebanyakan dari teman-temannya, setelah berpacaran untuk beberapa saat, mereka akan putus dengan kekasihnya. Lalu hanya ada air mata dan kesedihan setelahnya.


Hal yang dinamakan dengan berpacaran, menurut Andjani hanya membuang waktu saja, karena berpacaran hanya membuka permasalahan baru.


"Untuk apa berpacaran? kalau putus juga bisanya cuma menangis, lalu bisa menurunkan semangat belajar. Terutama bisa membuat ketidak nyamanan saat bertemu kembali dengan mantan pacar, yang tentu saja itu sangat mungkin terjadi kalau berpacaran dengan sahabat sendiri, atau bahkan teman sekelas. Lalu untuk apa juga berpacaran, kalau dengan hal itu, bisa sampai melupakan teman atau sahabatnya sendiri. Dasar tidak berguna" Andjani mengeluh dan mengeluarkan isi hatinya di depan cermin.


Karena dirasa sudah cukup lama berada di dalam kamar mandi, Andjani lalu kembali lagi ke ruang makan, dimana semua masih menunggunya.


Qaynaya terlihat khawatir, karena Andjani cukup lama berada di dalam kamar mandi, bahkan hampir saja dia akan menyusul anak gadisnya itu.


"Apa kamu sakit sayang?" tanya Qaynaya


"Tidak ma, tadi aku keasyikan membaca pesan dari temanku, sampai lupa waktu, maafkan aku" Andjani mencari alasan, supaya mamanya tidak curiga.


"Baiklah, selesaikan makanan mu, lalu segera masuk kedalam kamar untuk beristirahat, malam ini tidak perlu membantu mama membersihkan meja dan mencuci piring" Qaynaya tersenyum, dia mengerti kalau pasti ada sesuatu yang disembunyikan oleh anaknya itu, dan sedari tadi, memang sangat terlihat kalau Andjani terlihat tidak nyaman.


"Kenapa kamu tidak menyewa asisten rumah tangga saja mulai dari sekarang, karena kalau seperti ini terus, kamu akan kelelahan" Sasha ikut nimbrung, karena terlihat Andjani tidak menjawab perkataan Qaynaya, dan hanya mengangguk karena sudah mengerti apa yang diinginkan oleh mamanya itu.


Qaynaya lalu menceritakan kepada Sasha, bahwa sebenarnya dia memang sengaja melakukan ini, supaya anak-anaknya mandiri. Dan selama ini, tidak ada kesulitan yang besar, walau mereka tidak pernah menyewa jasa asisten rumah tangga.

__ADS_1


"Aan, kamu sekolah dimana?" Ardi tiba-tiba mengajukan pertanyaan yang membuat Andjani terbengong-bengong. Bagaimana bisa pria itu menanyakan hal yang sudah diketahuinya, dan sebenarnya apa yang terjadi? bukankah Ardi melupakan dirinya, tapi kenapa sekarang pria itu menanyakan pertanyaan yang tidak masuk akal.


__ADS_2