ANELIS

ANELIS
Bab 12


__ADS_3

Newton Hawker Centre Distrik 11 Singapura.


Pria berbadan kekar itu hanya bisa pasrah. Saat wanita usia tiga puluh tahunan kesayangan clientnya kembali pingsan. Berkali-kali melakukan percobaan bunuh diri, tak membuat wanita tersebut cepat meninggalkan dunia. Dengan kondisi semakin parah, membuatnya terpaksa melanjutkan terapi obat bagi clientnya tadi. Balkhi Ali Abbas. Dokter spesialis jiwa yang terpaksa menetap di Singapura. Menjadi terapis klinis sekaligus pendamping putri seorang konglomerat di negeri yang terkenal akan pendapatan besar per kapita. Harusnya di hari minggu kemarin Abbas selesai menjalankan tugas. Ia sudah siap kembali ke Indonesia. Kembali menjalani kehidupan normal. Abbas terlahir sebagai yatim piatu, beruntung kolega dari konglomerat tadi merawatnya. Abbas pun tak bisa menolak takdirnya.


Abbas hanya bisa merutuki nasibnya. Saat gadis manis yang sudah lama mengisi hati, terpaksa pulang ke Indonesia tanpa dirinya. Bahkan tanpa berpamitan. Padahal ia sudah berjanji akan mengajaknya jalan-jalan melepas penat setelah begitu banyak pekerjaan. Sayangnya di hari weekend mereka pun tetap sibuk dengan pekerjaan itu. Yang membuat sedih mereka tak terbuka kalau sedang bekerja. Tak ada yang boleh tahu jika mereka sudah melakukan banyak hal. Abbas pun pasrah. Satu minggu lagi atau satu bulan tak masalah. Dipandanginya foto gadis manis pujaan hati.


Kamar khusus yang sengaja disediakan pak Rajendra untuknya sangat istimewa. Fasilitas perlengkapan dan peralatannya nomor wahid di dunia. Kalau tidak kepalang mengiyakan, Abbas sebenarnya enggan. Meski kamar ini begitu mewah, ia tetap lebih suka rumah. Berangkat kerja ke rumah sakit di negerinya jauh lebih istimewa.


Abbas memeriksa email pribadinya. Banyak kasus ia selesaikan melalui email.


Rajasa :


>I'm Rajasa from Indonesia. Can you help me about my problems? If you can, I will be very grateful. Please reply to my email immediately. I got your email from my best friend, Dimas Nasution.


Abbas mengenali nama Dimas. Temannya di Harvard dulu. Tak sembarangan ia memberikan email.


AliAbbas:


>Hi juga pak Rajasa. Saya kenal baik dengan Dimas. Pasti ada hal penting sampai ia memberikan emailku. Sebelum bertanya aku bisa atau tidak, ceritakan dulu apa masalahmu.


Balasan dari Abbas secepat kilat sampai di komputer Rajasa.


R-Jasa.com. Company.


Rajasa melirik notifikasi email di komputernya. Ia langsung membuka. Melihat nama Abbas di pengirim membuatnya senang. Rajasa mengklik tombol buka. Rajasa punya harapan untuk ia dan istrinya. Jarinya lincah mengetik apa yang menjadi masalahnya. Setelah banyak paragraf tombol backspace ditekannya. Terlalu detail. Ia pun mengetik ulang. Setelah yakin kalimatnya tidak kurang dan juga tidak lebih, ia membaca kembali.


Saat hendak mengklik send lagi, ponsel Rajasa bergetar dibarengi nada kencang. Ia tak pernah menolak panggilan itu, sekali pun baru setengah jam lalu mereka bicara. Tepat ponselnya ditelinga, saat Rajasa ingin kembali menanyakan lagi apa, suara diujung sana terdengar berbeda. Itu bukan suara Mamahnya.

__ADS_1


Rajasa membiarkan komputernya tetap menyala. Abai akan tombol send yang belum sempat dikliknya. Disambarnya kunci mobil Toyota Calya miliknya. Melesat pergi dari perusahaan yang dibangunnya. Membuat Dimas dan Anita bertanya. Rajasa tak peduli. Secepat mungkin ia harus menjemput Anelis.


Sahabat Belajar.


Anelis sibuk membuka leptopnya. Bagian pembuka sudah tersusun rapi. Ia tinggal membuat kerangka agar tidak meleset dari tema besar yang diusung. Nanti malam tinggal ngobrol sama Rajasa. Banyaknya ide Anelis selalu bisa terangkum oleh pikiran cerdas Rajasa. Suaminya pandai menarik garis besar pemikiran Anelis. Seperti waktu kuliah dulu. Keberhasilan tugas-tugas Anelis karena andil Rajasa. Ia tersenyum, tak salah memilih cinta Rajasa dibanding lainnya. Sebentar lagi anak ke-duanya lahir.


Rajasa tergopoh menaiki tangga. Secepat mungkin mencari istrinya. Pintu kantor Anelis ia buka sekenanya. Rajasa juga tak menyapa orang yang dilewatinya.


"Ne, siap-siap. Kita pulang sekarang!" Ajak Rajasa.


Melihat suaminya datang tanpa pemberitahuan dan langsung bicara membuat Anelis bingung. Anelis menghampiri Rajasa.


"Pulang Mas? Ini masih jam kerja," jawab Anelis. Rajasa kembang kempis dadanya.


"Pulang ke Tangerang Ne. Mamah pingsan di depan rumah. Bu Ranti ngabari lewat telepon!" Ucap Rajasa. Terlihat jelas kekhawatiran diwajahnya.


"Keluar Mas!" pinta Anelis pada Rajasa. "Keluar biar aku yang nyetir. Kamu terlalu gugup," ucap Anelis.


Rajasa melihat wajah istrinya. Ia mencari keberanian di sana. Anelis mengangguk mantap.


"Percaya sama aku, aku bisa Mas. Cepat!" perintahnya lagi.


Anelis mengambil alih kemudi. Sesekali melihat Rajasa yang mengusap wajahnya sendiri. Meski bu Ranti sudah membawa Mamah ke rumah sakit, mereka tetap khawatir. Ia tak mau terjadi hal yang tak diinginkan. Hanya butuh satu jam untuk sampai di sana. Anelis menginjak gas dengan kecepatan penuh.


Rajasa berusaha menghubungi kembali nomor Mamahnya. Tidak ada jawaban dari bu Ranti. Wajah Rajasa semakin panik. Ia membayangkan hal-hal yang ia takutkan. Ia takut tak bisa melihat ibunya lagi. Air matanya pun jatuh. Rajasa tak mau orang tercintanya meninggalkannya. Perjalanan yang biasanya bisa sampai dengan waktu satu jam tak berlaku hari ini. Kadang takdir memang begitu elok jalan lakunya. Sang Penguasa Waktu lebih mengerti apa yang dikendaki. Saat Anelis dan Rajasa buru-buru, jalanan justru padat. Mobil mereka tertahan di Kalideres. Merayap satu demi satu.


Rajasa tak kuasa menahan tangisnya. Ia menutup mulutnya mencoba tetap berpikiran positif. Anelis yang melihat suaminya semakin gusar bicara, "Sabar Mas, bentar lagi nyampe. Insya Allah Mamah baik-baik aja," Anelis mencoba membesarkan hati suaminya.

__ADS_1


"Aku takut Ne. Takut banget Mamah kenapa-napa. Aku belum bisa bahagiain Mamah. Aku banyak sala Ne sama Mamah." ucanya parau.


Anelis menggenggam erat tangan suaminya. Mengalirkan energi di sana. Setelah jalanan tak lagi merayap Anelis kembali memegang kemudi.


"Aku kebut Mas," Anelis melaju dengan kecepatan penuh.


R.S Siloam Karawaci.


Buru-buru Rajasa dan Anelis mencari tahu lewat resepsionis. Nama Mamahnya ia sebutkan. Rajasa yang sudah kepalang panik, malah membuat petugas resepsionis bekerja lebih lambat.


"Ibu Karti Mbak. Dari perumahan Harkit. Beliau pingsan dan dilarikan ke rumah sakit ini," jelas Anelis. Rajasa nanar mencari sosok Ibunya. Tingkahnya gusar tak karuan. Rajasa yang begitu cerdas dan tenang tak terlihat.


Petugas resepsionis mengarahkan mereka menuju ruang perawatan setelah UGD. Dokter beserta perawat sedang melakukan aksi resusitasi jantung. Dokter menggunakan tangannya untuk membantu Mamah Rajasa. Tak ada respon dari wanita paruh baya itu. Rajasa dan Anelis berdoa sekaligus berharap. Kalau diijinkan, sudah pasti Rajasa masuk ke ruang itu. Menemani Mamahnya. Keluarga satu-satunya di dunia.


Dokter terus melakukan CPR. Menyadari tak ada respon, perawat menyiapkan defribilator. Dengan sigap menuang gel pada lead, dan menyerahkannya.


Dokter menempelkan kedua lead itu, membiarkan gel merata. "lima puluh joule, shock!" defribilator menghentak dada Mamah Rajasa.


Tak berhasil. Hanya hentakan tubuh wanita paruh baya itu yang merespon.


"Seratus joule, shock!" tetap sama dengan respon pertama.


"Oke tambah. 200 joule, shock!" tetap tak berhasil.


Dokter kembali menyerahkan lead defribilator pada perawat. Mencoba melakukan ulang CPR, dengan harapan detak jantung pasiennya kembali.


Rajasa dan Anelis menyaksikan dari balik kaca. Melihat orang yang mereka cinta terkulai lemah. Mamah Rajasa benar-benar pergi sebelum melihat cucunya.

__ADS_1


__ADS_2