
Ruang Konsultasi Sekar.
Rajasa memilih tetap duduk di kursi pasien. Sekar membuka sesi dengan tetap mengedepankan profesionalisme.
"Apa yang ingin diceritakan?" tanya Sekar sambil bersiap mencatat.
"Apa kamu sudah baca email dari Abbas?"
"Tentang?" tanya Sekar tak paham.
"Melihat reaksimu pasti belum." Rajasa bersyukur Abbas tidak langsung meneruskannya.
Sejak lama dirinya memang ingin melakukan sesi konsultasi semacam ini. Hanya saja ia tak pernah berani. Sebelum bertemu Sekar ia sudah menceritakan banyak hal tentang Anelis lewat Abbas. Email itu merangkum apa yang ia rasakan.
"Hari ini aku kembali melihat istriku yang sebentar lagi perutnya membesar. Ia sedang hamil." Rajasa membuka kalimatnya, sengaja ia tekankan bagaimana kondisi hidupnya yang sebenarnya.
Sekar meski terkejut tetap berusaha biasa saja. Rajasa tak hanya kenalannya, melainkan kliennya. Sekar meminta Rajasa meneruskan.
"Jauh sebelum hari ini tiba, Mamahku begitu menantikan cucu. Aku berusaha agar keinginannya itu segera terwujud. Tapi sayang tak kunjung terjadi sampai beliau meninggal. Pertama aku ke sini aku sudah menceritakannya." Rajasa mencoba mengingatkan Sekar.
"Iya. Terus?"
"Sebenarnya bukan itu saja masalahku. Awal menikah istriku tak pernah menjadi sesuai dengan apa yang kumau."
Rajasa berhenti sejenak. Sekar menerka seperti apa cerita sebenarnya.
"Ia bahkan tak pernah membersihkan rumah. Cenderung ceroboh dan pemalas. Aku tipe orang yang suka kebersihan, melihat itu terus-terusan membuatku lelah. Terakhir aku pulang ke rumah pecahan gelas susu berserakan di lantai."
Waktu itu Rajasa memang membereskan semua. Anelis hanya berdandan lalu pergi mencarinya.
"Aku tahu ia melemparnya dan aku juga mendengarnya. Tapi perkiraanku, ia akan menyingkirkan pecahan itu dan menghilangkan jejak agar aku tak melihat. Siangnya kami bertemu padahal, dan yang membereskan pada akhirnya tetap aku juga." Rajasa mengingat jari tangannya terkena pecahan kaca. Sayatannya membekas.
Sekar menyimak perkataan Rajasa yang cenderung berantakan. Ceritanya kemana-mana tak jelas duduk perkaranya.
"Itu bukan hanya sekali. Awal-awal menikah ia bahkan melempar hadiah pernikahan kami. Hadiah yang bagiku begitu berharga. Sebuah ucapan berbentuk hand lattering dengan pigura pink. Aku sangat menyukainya, tapi ia merusak begitu saja."
Rajasa serius dengan ucapannya. Tak ada kebohongan yang ia buat untuk menarik perhatian Sekar. Sekar pun mengernyitkan dahi, ia semakin bingung dengan alur cerita Rajasa.
"Dulu aku kira dengan tulus mencintainya ia akan berubah. Atau dengan menikahinya ia akan semakin menghargai setiap perasaanku padanya. Tapi istriku gagal, ia mengulang dan terus merusak barang-barang. Aku, yang sejak kecil disayang Mamahku tak suka dengan hal semacam itu." Rajasa menghela nafasnya. Ia ingin Sekar menimpali ucapannya.
"Anda tidak pernah bicara dengan istri anda? Mengutarakan apa sebenarnya yang anda mau?"
"Sudah. Dan selalu berakhir dengan adu kata. Jika aku pergi ia melempar apa saja dari jangkuannya. Atau ia memilih mengunci diri kemudian menangis sekencangnya. Aku tahu beban hidupnya terlampau berat. Kekecewaannya terhadap keluarga terbawa sampai ia berumah tangga. Tapi, aku juga manusia biasa, tak bisa terus-terusan sabar disetiap waktunya." Rajasa tertunduk lesu. Semua itu bukan cerita rekayasanya.
Memang tanpa pernah banyak yang tahu Anelis memendam banyak kekelaman hidup. Jiwanya yang lara tak pernah tampak pada kesehariannya. Hanya di momen momen tertentu yang mampu membuat hatinya bergejolak ia berontak.
🍁🍁🍁
Kehidupan Awal di Apartemen
Rajasa melihat meja makan mereka. Hanya ada secangkir kopi yang sudah disesap Anelis.
"Pagi Ne," sapa Rajasa pada istrinya.
"Pagi Mas."
"Punyaku?" tanya Rajasa meminta kopi.
__ADS_1
"Oh, buat sendiri bisa kan Mas?" ucap Anelis tetap melihat ponselnya.
Rajasa tak begitu memusingkan tanggapan Anelis. Ia pun membuat kopinya sendiri.
Hari berikutnya Rajasa melakukan hal sama, ia sudah membayangkan nikmatnya sarapan pagi bersama istrinya. Lagi-lagi kejadian dipagi sebelumnya terulang. Hanya ada secangkir kopi dan jawaban buat sendiri. Rajasa masih bersikap biasa. Ia menganggap Anelis punya cara pandang sendiri tentang rumah tangga. Tak masalah setiap hari buat kopi sendiri sama seperti waktu belum punya istri. Rajasa mencoba kembali menanyakan kopi di pagi hari dan pada akhirnya ia tak tahan. Rajasa pun memilih bangun lebih awal membuat sarapan dan menyiapkan segala hal untuk Anelis. Hingga waktu itu terus berulang bulan demi bulan.
"Ne bisa nggak tiap pagi buatin kopi?" pinta Rajasa berhati-hati.
"Buat?" Anelis masih asik dengan dunia mayanya.
"Buat suamimu."
"Kan bisa buat sendiri?" Kali ini Anelis menatap Rajasa. Ia telanjur nyaman menikmati kopi buatan Rajasa.
"Ada kalanya kamu yang buat," ucap Rajasa seraya duduk di sebelah Anelis.
"Takut nggak enak Mas. Kamu aja." Anelis kembali memainkan ponselnya.
"Liat apa sih? Serius amat?" Rajasa memanjangkan lehernya mencuri layar Anelis. Tapi Anelis sigap menutupi.
"Tidak apa-apa. Iseng main hape aja."
Rajasa menyesap kopi buatannya sendiri. Setelah penat bekerja lima hari ditambah lembur hari sabtu ia cukupkan hari minggunya untuk bersantai. Nyatanya Rajasa salah besar.
"Ne, bisa nggak kamu bersihin kamar mandi?" Rajasa mengganti topik lain.
"Buat?"
"Buat kita. Biar sesama pengguna nyaman menggunakannya."
"Wekeend Ne gantian kamu yang beresin. Itu bekas sampo bekas sabun banyak berserakan di sana. Kalau bukan aku yang membereskan, mereka tetap ada di sana, kan?" Rajasa mulai kesal dengan kebiasaan Anelis.
"Oke."
Anelis tetap melihat ponselnya, ia tak bergegas menjalankan permintaan Rajasa. Anelis tak sungguh-sungguh menanggapi ucapan suaminya itu.
"Ne, please belajar pahami aku. Nggak cuma aku yang memahamimu," ucap Rajasa parau.
Ia lama-lama kesal juga diduakan dengan ponsel milik Anelis. Weekend waktunya melakukan banyak hal.
"Ne!"
"Hemm."
"Denger nggak sih ucapanku?!" Rajasa sedikit berteriak.
"Denger Mas nggak usah galak gitu."
"Kalau denger please kerjakan permintaanku!"
"Nanti."
"Nanti terus. Kamu tuh emang nggak becus yah!" Rajasa terpaksa menggunakan kata itu, ia geram melihat tingkah istrinya.
"Apa? Kamu nyalahin aku Mas?! Kamu anggap aku nggak becus?!" tanya Anelis dengan mata berkaca.
"Iya. Aku nyalahin kamu untuk hari ini. Kemarin dan kemarinnya lagi. Kapan kamu beneran jadi istri hah?!" Rajasa membelalakan matanya. Mungkin ini cekcok pertama setelah mereka menikah.
__ADS_1
Perbedaan kebiasaan dan budaya membuat mereka harus beradaptasi lagi saat menikah. Tidak semua nampak saat masih pacaran.
Pernikahan memang demikian. Sebuah proses pembelajaran terpanjang dan terlama. Yang bertahan dalam proses itu akan terus memperpanjang masa belajarnya sampai mereka tua. Sedang yang lain, yang tak masuk bagian itu ada yang mencoba belajar dengan pasangan baru atau dunia baru. Yang pasti pernikahan bukanlah suatu permainan.
Mendengar kalimat Rajasa, membuat Anelis merasa disalahkan. Ia paling tidak bisa menerima itu dalam hidupnya. Sudah cukup dirinya disalahkan banyak pihak terkait perceraian kedua orang tuanya.
Anelis pun bangkit dari duduknya. Ia melangkah ke kamar mandi dan mengacak semua yang ada. Shampoo, sabun, sikat gigi beserta piranti lain ia lempar dalam ruang bersih-bersih itu. Tak lama kemudian tangisnya melengking. Ia menangis seolah dirinya tak berharga.
Sejak saat itu Rajasa tak lagi mengajari hal baru pada Anelis. Kebiasaan kebiasannya ia terapkan sendiri dan membiarkan Anelis mengamati. Ia bahkan rela menjadi koki, tukang laundry juga bersih-bersih apartemen setiap harinya. Dan dari hati terdalamnya, kadang Rajasa merasa lelah. Hanya saja ia tak bisa meminta Anelis menggantikannya.
🍁🍁🍁
Sekar membiarkan Rajasa menegak air yang diambilkannya. Ia siap dengan beberapa pertanyaan dasar.
"Apa anda masih mencintainya?"
Pertanyaan klasik yang pastinya mengusik. Rajasa terdiam sejenak. Ia tak tahu apa dihatinya masih ada ruang untuk Anelis.
"Saat anda ragu, anda belum bisa mengonfirmasi. Pastikan anda mendapat jawaban dari hati terdalam." Sekar mencoba menjadi psikolog yang baik. Ia abaikan ucapan Rajasa tentang dunia baru untuknya.
"Aku tak tahu. Hatiku terbagi saat ini."
"Apakah itu denganku?" Sekar kali ini berubah tidak formal. Ia ingin segera mendapat benang merah dari sesi konsultasi Rajasa, baginya ia perlu cepat mengambil tindakan. "Jika benar itu aku, tolong hentikan. Masalah kalian bukan karena kalian tidak bisa saling cinta, melainkan kalian tidak mau bicara. Bangun komunikasi yang baik, buat hubungan itu kembali menyala."
Sekar benar-benar mengabaikan perasaanya yang sempat goyah. Rajasa beristri dan akan menjadi ayah, Sekar tak mau terlibat dengan pria seperti itu.
"Tapi istriku tak lagi jelita. Bagiku, kamu jauh lebih memesona." Kali ini Rajasa menatap wajah Sekar yang dewasa.
Sekar tersenyum hangat, menghadapi banyak pasien membuatnya mudah mengambil kesimpulan.
"Anda keliru pak Rajasa. Saya yang memakai jas putih ini jelas tidak ada apa-apanya dibanding perempuan yang akan anda cintai nanti."
Sekar membiarkan Rajasa memutar otaknya. Orang cerdas pun bisa kacau kalau urusan perasaan. Sekar memberi ruang bagi Rajasa berpikir.
"Kalau dia perempuan. Tapi jika laki-laki ia pun akan tetap memberikan cinta yang luar biasa besar pada anda melebihi istri anda." Sekar menjeda. "Bukankah anda bilang istri anda hamil?"
Rajasa mengangguk pelan. Ia masih belum paham kalimat Sekar.
"Jika janin yang kini berkembang dirahim istri anda adalah perempuan, anda akan jatuh cinta melebihi cinta anda pada istri atau mungkin, saya. Terlebih anak perempuan biasanya mirip sekali wajahnya dengan ayahnya." Sekar berusaha membawa Rajasa ke masa indah yang akan Rajasa hadapi. "Bahkan tak akan ada dunia baru yang lebih seru selain bersamanya Pak." Sekar mencoba mengaitakan ucapan Rajasa lewat solusinya. "Dan jika dia laki-laki dia akan mewarisi semua garis kehidupan ayahnya. Ia harus tumbuh menjadi lelaki bertanggung jawab yang menyayangi keluaraganya. Bisa bayangkan Pak kalau anda mendua? Anda mengabaikan ibu dari anak-anak anda?" Sekar sengaja membuat penekanan anak pada Rajasa.
Rajasa masih tak bisa mengerti kalimat Sekar. Sesi konsultasinya bukan menjadikan Sekar terpikat melainkan membuat Sekar malah berada pada jalurnya. Rajasa salah strategi.
"Tidak ada satu pun anak di dunia ini yang mau orang tuanya berpisah Sa, entah karena faktor apa. Aku harap kamu benar-benar menjaga istrimu dan anak yang dikandungnya. Kamu boleh datang ke sini sebagai pasien atau teman. Tapi jangan sekali-kali kau tawarkan lagi duniamu untukku. Karena mereka jauh lebih berharga, bahkan melebihi duniamu Sa." Sekar menghela nafas lega. Ia telah melakukan tugas sesuai profesinya.
Rajasa hanya menatap Sekar yang begitu dewasa. Meski sekarang semua ucapan Sekar tak bisa dicerna dalam otaknya dengan baik, ia mendapat gambaran baru tentang cara menjadi Ayah. Rajasa tak punya figur itu. Sejak kecil ia belum pernah melihat ayahnya. Rajasa semakin mengagumi sosok Sekar yang luar biasa.
Sekar kembali meneruskan sesi pertanyaannya.
"Anda sudah baikan? Sudah lebih nyaman perasaannya? Jika iya anda boleh pergi dan tak usah kembali lagi. Anda akan bahagia setelah anak anda lahir. Kalau setelah itu tidak terjadi, anda boleh datang ke sini."
Sekar mengukir senyum dibibirnya lalu berdiri. Tanpa menunggu jawaban Rajasa, ia meminta Rajasa keluar dari ruang konsultasi.
Rajasa yang kecewa sekaligus tak menduga reaksi Sekar beranjak pergi. Ia meninggalkan ruangan itu dengan hati yang semakin kosong.
Tak ada tempat lain lagi untuk berbagi.
Sekar cepat meraih ponselnya dan segera mungkin mengetik pesan. Abbas, ia harus bertemu Abbas sore ini.
__ADS_1